Buka konten ini
SURABAYA (BP) – Harga emas global dan lokal pekan ini diprediksi terkoreksi. Hal tersebut terjadi saat tensi beberapa krisis geopolitik mulai melemah. Khususnya, perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok yang mereda seiring masing-masing negara menurunkan tarif impor.
Analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugrah mengatakan bahwa awal pekan lalu, logam mulia melonjak signifikan dan mencetak level tertinggi dalam dua minggu terakhir di angka 3.357,63 dolar AS (USD) per troi ons pada Selasa (6/5).
“Kenaikan itu didorong oleh kombinasi dari melemahnya dolar AS (USD) dan meningkatnya permintaan safe haven akibat eskalasi ketegangan geopolitik India dan Pakistan serta negosiasi dagang AS – Tiongkok,’’ ucapnya kemarin (12/5).
USD yang terkoreksi membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan pun meningkat. Seiring berjalannya hari, harga logam mulia mulai menunjukkan tanda-tanda menurun. “Koreksi ini dipicu oleh ekspektasi positif terhadap perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok serta rilis data pekerjaan AS yang kuat,” ucapnya.
Secara teknikal, harga emas saat ini menunjukkan kecenderungan melemah. Berdasarkan kombinasi analisa candlestick dan indikator moving average, tren bullish pada XAUUSD mulai kehilangan momentumnya dan diperkirakan akan tetap melemah hingga pekan ini.
Meskipun demikian, peluang berbalik arah masih terbuka lebar. Andy memproyeksikan bahwa XAUUSD berpotensi mengalami rebound teknikal menuju area USD3.500 jika tidak ada sentimen negatif yang mendominasi. ’’Level ini menjadi target atas yang realistis jika mendapatkan dukungan dari data ekonomi yang kurang solid atau meningkatnya ketegangan geopolitik,’’ paparnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG