Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Realisasi investasi kuartal I 2025 mencapai Rp465,2 triliun. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menuturkan, realisasi itu setara dengan 24,4 persen dari target yang ditetapkan yang mencapai Rp1.905,6 triliun.
“Dari realisasi itu, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 594.104 orang. Jumlah itu naik 8,5 persen dibandingkan serapan pada periode yang sama tahun lalu,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/4).
Dengan capaian tersebut, Rosan menuturkan bahwa hal itu mencerminkan keyakinan investor untuk tetap menanamkan modal di Indonesia. Mes-kipun di tengah kondisi ketidakpastian yang terjadi. “Appetite investor tetap besar dalam berinvestasi di Indonesia,” imbuhnya.
Porsi realisasi investasi itu berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang mencapai Rp234,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp230,4 triliun. Rosan menggarisbawahi, tren PMA biasanya justru selalu lebih tinggi. Tetapi, itu bukan berarti PMA yang menurun, tetapi justru ada peningkatan signifikan untuk PMDN.
“PMDN meningkat jauh lebih tajam dibandingkan PMA. PMDN peningkatannya 19,1 persen jika dibandingkan tahun lalu. Tapi PMA juga meningkat 12,7 persen. Memang sama-sama naik, tapi PMDN lebih tinggi,” bebernya.
Dari kondisi itu, Rosan menyebut adanya peningkatan karena terus terakselerasinya pembangunan infrastruktur di tanah air. “Karena ada pembangunan jalan tol terutama di Sumatera dan Riau dan disebabkan membaiknya laporan investasi untuk sektor real estate atau properti,” tuturnya .
Ke depan, di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian karena sentimen global, Rosan meyakini realisasi investasi pada kuartal-kuartal selanjutnya pada tahun ini masih akan cerah. Menurutnya, yang paling penting adalah berbagai komitmen yang sudah disampaikan oleh investor bisa terimplementasi sesuai dengan rencana.
Mantan Dubes RI untuk AS itu bahkan optimistis realisasi investasi dan hilirisasi masih bisa meningkat hingga 30 persen. ’’ Bisa mencapai 30 persen dari total investasi yang ada, karena kami melihat sektor hilirisasi yang terus meningkat. Hal itu berjalan dengan program dari pemerintah,’’ bebernya.
Dia juga mengaku akan berkoordinasi dengan aparat berwajib terkait aksi premanisme yang dikeluhkan pelaku usaha. Seperti diketahui, pelaku industri juga meminta pemerintah segara menindak aksi premanisme agar tak lagi menghambat investasi masuk Indonesia.
Oknum ormas dan premanisme juga telah menyebabkan batalkan investasi ratusan triliun di sektor manufaktur. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun turut mengupayakan agar beberapa industri strategis masuk ke dalam kategori objek vital agar mendapatkan pengamanan dari kepolisian.
“Kami pun berkoordinasi dengan Kapolri dan juga dengan pemerintah daerah untuk memastikan hal-hal ini jangan terjadilah gitu. Karena ini memberikan dampak yang negatif terhadap investasi yang masuk,” paparnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG