Buka konten ini
JAKARTA (BP) – IISIA (The Indonesian Iron and Steel Industry Association) mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah guna menjaga stabilitas industri dalam negeri atas kebijakan tarif baru dari Amerika Serikat (AS) terhadap berbagai negara. Termasuk Indonesia serta Tiongkok yang menjadi produsen baja terbesar di dunia.
Untuk menjaga pasar domestik dari potensi serbuan baja luar negeri akibat perang dagang global, IISIA mengusulkan untuk dilakukan perbaikan tata niaga impor guna pengendalian secara efektif serta menjamin pasokan baja dalam negeri. Tata niaga tersebut juga untuk memastikan impor tidak berdampak negatif bagi industri nasional.
“IISIA mengusulkan pembentukan sentral logistik baja untuk tata kelola ekosistem rantai pasok baja nasional dengan tetap mempertimbangkan kemampuan industri baja nasional. Selain itu, kerja sama dengan negara-negara ASEAN juga perlu diperkuat untuk menjaga keberlanjutan ekosistem baja di tingkat regional,” ucap Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara di Jakarta, Rabu (9/4).
Chairman IISIA M. Akbar Djohan mengatakan, kebijakan tarif dari AS berpotensi mendorong negara-negara lain untuk mengalihkan ekspornya ke pasar baru, termasuk Indonesia. ”Dengan pasar yang besar dan daya beli masyarakat yang terus tumbuh, Indonesia menjadi target potensial bagi produk-produk dari luar. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan terhadap pasar dalam negeri agar tidak kebanjiran produk baja impor,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG