Buka konten ini
BATAM KOTA (BP) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam terus berjalan dan kini telah menjangkau belasan ribu siswa. Hingga awal April 2025, tercatat enam dapur MBG telah beroperasi di lima kecamatan, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 17.217 siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, menjelaskan bahwa jumlah penerima tersebut mengacu pada data pokok pendidikan (Dapodik). Meski demikian, pihaknya masih akan melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan jumlah siswa yang benar-benar menerima makanan bergizi.
“Jumlah siswa yang menerima manfaat berdasarkan data Dapodik. Tapi tentu setelah Dapodik dilakukan cut off, kami akan cek kembali data riilnya di lapangan,” kata Tri, Selasa (8/4).
Enam dapur MBG yang telah beroperasi antara lain Dapur Yayasan Darusholihin di Anggrek Mas 1, Batam Kota; Dapur Yayasan Yonkenedia di Panbil, Sei Beduk; Dapur Sinergi Inklusi Akses Pangan di Bengkong City, Bengkong; Dapur Yayasan Darusholihin di Greenland, Batam Kota; Dapur Yayasan Darusholihin di Kampung Melayu Batu Besar, Nongsa; dan Dapur Yayasan Mataram Jaya Sentosa di Tiban, Sekupang.
Menurut perhitungan tim MBG, setiap dapur memiliki kapasitas maksimal untuk melayani sekitar 3.500 siswa. Dengan target pembangunan 20 dapur hingga akhir 2025, program MBG di Batam diproyeksikan dapat melayani sekitar 57 ribu siswa, atau sekitar 19 persen dari total peserta didik di kota ini.
Tri menambahkan, seluruh pengelolaan dapur MBG berada di bawah koordinasi Badan Pangan Nasional (BGN) melalui Satuan Tugas Pangan dan Gizi (SPPG). Pemko Batam juga telah mengajukan usulan penyediaan lahan kepada BGN melalui Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk mendukung pembangunan dapur umum tambahan.
“Kami terus melakukan koordinasi dengan BGN agar mitra-mitra lainnya bisa memenuhi persyaratan operasional MBG di Batam. Dengan begitu, distribusi makanan akan lebih optimal dan menjangkau lebih banyak siswa yang membutuhkan, terutama selama bulan Ramadan ini,” jelasnya.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini juga dinilai cukup tinggi, terutama dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejumlah UMKM diketahui telah mendaftar secara mandiri untuk bergabung dalam pelaksanaan program MBG.
“Target kita masih di angka 20 dapur. Namun, kemungkinan bisa bertambah karena alhamdulillah banyak UMKM yang mendaftar secara mandiri untuk bergabung. Hanya saja, mereka masih dalam proses verifikasi dan validasi oleh BGN,” kata Tri.
Program MBG merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan gizi anak usia sekolah, menurunkan angka stunting, serta mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal dalam penyediaan makanan sehat dan bergizi secara berkelanjutan. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK