Buka konten ini
Tradisi 7 Likur yang identik dengan lampu cangkok atau lampu colok, merupakan tradisi turun temurun yang memiliki nilai dan makna spiritual yang mendalam. Tradisi ini juga menjadi simbol cahaya keberkahan di ujung Ramadan.
Tradisi 7 likur merupakan tradisi yang dilakukan sejak masa lalu secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu terutama di Kepulauan Riau dengan melakukan penyalaan lampu atau penerangan tradisional.
7 Likur sendiri berasal dari istilah Melayu yang berarti malam ke-27 Ramadan. Dalam keyakinan masyarakat, malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki keutamaan khusus, terutama malam ke-27 yang sering dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar yaitu malam penuh kemuliaan.
Untuk menyambut malam istimewa ini di ujung bulan Ramadan ini, masyarakat Melayu di Kepulauan Riau termasuk di Tanjungpinang, menyalakan lampu cangkok sebagai simbol cahaya keberkahan dan petunjuk dalam kehidupan.
Lampu cangkok yang menyala juga melambangkan cahaya iman dan keberkahan di bulan Ramadan. Cahaya ini juga mengingatkan umat Islam untuk senantiasa berada di jalan yang terang dan lurus.
Melalui cahaya sederhana yang menerangi malam, umat Islam diingatkan untuk terus mencari keberkahan dan berbagi kebahagiaan di bulan suci Ramadan. Tradisi 7 Likur juga tidak hanya tentang penerangan, namun tentang bagaimana menerangi hati dan memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat.
Tidak hanya itu, lampu cangkok bukan hanya sekadar tradisi, namun sebagai simbol semangat kebersamaan dan keberkahan Ramadan.
Melalui pancaran cahaya yang menyala di malam-malam akhir bulan suci Ramadan, umat Islam diajak untuk terus bersinar dalam kebaikan dan terus menerangi jalan memperoleh keberkahan.
Warga Seiladi Tanjungpinang Menghidupkan Tradisi 7 Likur
Lampu cangkok atau lampu colok merupakan lentera sederhana yang dibuat dari kaleng bekas atau wadah kecil berisi minyak tanah dengan sumbu sebagai pemantik api.
Lampu-lampu ini kemudian dipasang di sepanjang jalan, halaman rumah, bahkan dibentuk dan didesain menjadi ornamen Islami seperti masjid, kubah masjid atau berbentuk kaligrafi.
Di beberapa kampung di Kepulauan Riau termasuk di Tanjungpinang, pemasangan lampu cangkok menjadi ajang kreativitas. Masyarakat berlomba-lomba membuat desain yang indah dan menarik. Semakin besar dan artistik susunan lampu, semakin megah pula suasana Ramadan yang dirasakan.
Selain itu, tradisi 7 Likur dengan pemasangan lampu cangkok juga untuk menjaga warisan budaya. Meskipun zaman telah modern dan listrik sudah menjadi sumber penerangan utama, lampu cangkok pada tradisi 7 Likur, tetap dijaga sebagai warisan budaya Melayu yang unik.
Guna menjaga warisan budaya turun temurun ini, warga Sei Ladi Tanjungpinang berinisiatif untuk menyemarakkan kembali tradisi 7 Likur dengan memasang ribuan lampu cangkok berbentuk Masjid di jalan, gang-gang kecil hingga ke rumah-rumah warga di Sei Ladi.
”Untuk menjaga tradisi 7 Likur dan mempercantik kawasan Sei Ladi ini, Kami sudah menyiapkan sebanyak 1001 lampu cangkok,” kata Teddy, Ketua Panitia 1001 Cangkok Seiladi, Rabu (26/3) malam.
Bahkan, kata Teddy, dua bulan sebelum Ramadan menjelang, warga Sei Ladi telah menyiapkan ribuan lampu cangkok, dua drum minyak tanah dan lima gulung sumbu, untuk menghidupkan tradisi 7 Likur di Seiladi Tanjungpinang.
”Alhamdulillah dengan swadaya masyarakat dan bantuan donatur, kami bisa melaksanakan tradisi 7 Likur. Rencananya akan kami gelar rutin setiap Ramadan,” ungkapnya.
Teddy menambahkan, tradisi 7 Likur juga dapat mempererat hubungan silaturahmi antarwarga. Sebab warga bersama-sana dan bergotong royong dalam mendesain, membuat dan memasang lampu cangkok.
”Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan serta semakin meningkatkan semangat gotong royong antarwarga Sei Ladi,” sebutnya.
Tradisi 7 Likur Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia dari Kepri
Menurut Peneliti Sejarah BRIN Dedi Arman, tradisi 7 Likur tidak hanya sekedar penyalaan lampu cangkok, namun tersirat berbagai makna dan kearifan lokal masyarakat Melayu dalam memaknai datangnya malam Lailatul Qadar.
Tidak hanya sebagai penerangan di malam hari, lampu cangkok juga memiliki makna yang lebih mendalam. Cahaya yang terpancar dari lampu cangkok seakan-akan melambangkan keberkahan di bulan Ramadan.
Oleh karena itu, tradisi 7 Likur dengan penyalaan lampu cangkok kini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya dan spritual Islam yang patut dijaga keberadaannya.
”Tradisi 7 likur sudah ditetapkan menjadi WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) Indonesia dari Kepulauan Riau. Tradisi 7 Likur yg menjadi fokusnya. Lampu cangkok itu memeriahkan tradisi 7 Likur,” kata Dedi.
Sejak zaman dahulu, lanjut Dedi, masyarakat Melayu di berbagai kawasan di Kepulauan Riau, selalu menyambut bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah dengan memeriahkan suasana di malam hari dengan menyalakan berbagai penerangan tradisional.
Lampu cangkok dipasang di sekitar rumah, jalan dan lorong-lorong atau gang-gang, serta banyak warga membangun gerbang lampu bernuansa Islami seperti membuat kaligrafi dan kubah Masjid.
Tradisi 7 Likur, sebut Dedi juga telah menjadi tradisi turun-temurun sejak zaman dahulu dan merupakan salah satu wujud rasa kegembiraan atas datangnya bulan suci Ramadan.
”Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur dan suka cita terhadap kedatangan bulan suci Ramadan,” jelasnya.
Meskipun kini zaman telah modern, tradisi 7 Likur dengan penerangan lampu cangkok ini, harus tetap dijaga dan melestarikan tradisi ini sebagai warisan budaya yang mempunyai makna yang mendalam.
Tradisi budaya ini juga menyimpan berbagai hal positif yang bermanfaat khususnya dalam memberikan semangat kepada generasi muda untuk dapat memahami mengetahui akar budaya yang dimiliki masyarakat Melayu.
”Tradisi 7 Likur telah menghiasi kehidupan masyarakat Melayu Kepulauan Riau sejak masa lalu. Jadi kita patut menjaga dan melestarikan warisan budaya ini,” tutup Dedi.
Keindahan Gerbang Lampu Colok
Tak hanya di Tanjungpinang, Kabupaten Lingga juga merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak tradisi budaya lokal. Salah satu dari tradisi budaya masyarakat muslim Kabupaten Lingga adalah peringatan malam ke 27 Ramadan atau dikenal dengan masyarakat setempat sebagai malam tujuh likur.
Adapun tradisi budaya dalam peringatan malam tujuh Likur oleh masyarakat Dabo Singkep, Kabupaten Lingga adalah dengan menampilkan gerbang yang dihiasi lampu colok (lampu minyak tanah) dengan berbagai bentuk yang memadukan antara nilai kesenian dan religi. Pemandangan ini menjadikan Susana malam Tujuh Likur di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga menjadi meriah pada Rabu (26/3).
Pantauan di lokasi, hampir di setiap Desa mapuan Kelurahan yang ada di Dabo Singkep menyuguhkan keindahan Gerbang Lampu Colok yang dibuat dengan ide dan kreativitas mereka masing-masing. Tidak hanya disuguhkan dengan keindahan gerbang lampu colok, setiap pengunjung yang datang untuk melihat pesona gerbang lampu colok ini juga disuguhkan dengan berbagai makanan khas Melayu oleh warga setempat.
Ribuan warga memadati jalan-jalan kota untuk menyaksikan pesona gerbang lampu colok yang ada di berbagai titik. Kendaraan roda dua dan empat ramai berkeliling, menciptakan atmosfer hangat kebersamaan di tengah malam penuh hikmah ini. Namun demikian, kondisi ini tidak menimbulkan kegaduhan dan semuanya berjalan damai dan aman.
Masdelima, salah seorang warga yang datang berkunjung untuk melihat keindahan Gerbang Lampu Colok di kelurahan Sungai Lumpur mengatakan dirinya sangat bahagia dan bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati kemeriahan malam tujuh likur dengan berbagai macam keindahan bentuk dari hiasan gerbang lampu colok ini.
”Alhamdulillah, saya merasa sangat bahagia pad malam ini masih dapat melihat semarak malam tujuh likur. Mungkin saat ini banyak orang atau saudara kita lagi sibuk dengan aktivitas Mudik lebaran dengan lalulintas yang padat, namun kita di sini dapat menikmati kemeriahan malam tujuh likur dengan kegembiraan yang dibingkai dengan kebersamaan,” ujar Masdelima, Rabu malam (26/3).
Selanjutnya, Arispita warga yang juga datang berkunjung untuk melihat keindahan gerbang lampu colok yang berada di Sekop Darat mengungkapkan, tradisi malam tujuh likur ini merupakan salah satu tradisi yang sangat kami rindukan. Tradisi ini juga menjadi penyebab kenapa kami berusasah payah untuk Mudik Lebaran di kampung halaman karena memang tradisi semacam ini sangat jarang kita temukan di Daerah lain.
”Momen ini menjadi sebuah momen yang kami rindukan dan kami nanti-nantikan saat kami berada di rantauan. Momen ini juga menjadi penyemangat buat kami yang berada di rantauan untuk Mudik Lebaran ke kampung halaman agar bisa menikmati kemeriahan malam Tujuh Likur bersama keluarga dan sanak saudara,” ungkap Arispita.
Arispita menambahkan, agar tradisi ini untuk terus dijaga dan dilestarikan. Hal ini dikarenakan tradisi malam tujuh likur menjadi salah satu warisan budaya dari para leluhur terdahulu dari generasi ke generasi. ”Saya berharap kita semuanya dapat tersusun menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kita dari generasi ke generasi ini agar terus berlanjut,” tambahnya.
Malam tujuh likur di Dabo Singkep bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bukti harmoni antara budaya, keimanan, dan kebersamaan. Pesona lampu colok yang berkelap-kelip seakan mengajak semua untuk merenung bahwa tradisi tak pernah mati selama ia terus dijaga di hati masyarakat. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR / Vatawari
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI