Buka konten ini

Wakil sekretaris PWNU Jawa Timur, Guru Besar UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Kesan berfoya-foya dan menghamburkan harta setiap perayaan Idulfitri sejatinya bukan tradisi dalam Islam. Hal tersebut sedapat mungkin dihindari di momen Idulfitri ini. Apalagi di tengah keadaan sulit saudara-saudara kita akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, keterbatasan finansial, dan sebagainya. Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk bergaya hidup glamor dan menghambur-hamburkan harta, termasuk dalam perayaan Idul-fitri.
Tradisi Idulfitri dalam Islam sesungguhnya berpijak pada kesederhanaan. Kesederhanaan harus menjadi prinsip mainstream seorang muslim. Nabi Muhammad SAW tidak mengajarkan gaya hidup glamor dalam perayaan Idulfitri. Di mana pun berada, Nabi SAW justru senantiasa mengajarkan kesederhanaan tersebut.
Ini adalah cerita Aisyah, istri Nabi, tentang kesederhanaan Nabi SAW. Berbeda dengan para raja dan kaisar yang hidup dalam gelimang harta, Muhammad SAW menjalani hidup sederhana dengan dua helai pakaian, tidur di atas pelepah kurma, sering merasakan lapar hingga harus mengganjal perutnya dengan batu, serta tidak banyak tidur. Nabi SAW juga acap kali menambal pakaiannya sendiri dan memerah susu kambingnya.
Lantaran itu, sebagai ajaran kesederhanaan, tidak ada kewajiban orangtua untuk membelikan baju baru Lebaran bagi anak-anaknya. Kita ingat perkataan Ali bin Abu Thalib yang terkenal: ’’Laisal id liman labisal id, wa lakinnal ida liman taqwaahu taziidi’’. Hari raya Idulfitri bukanlah bagi orang yang mengenakan baju baru, melainkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah SWT.
Efisiensi sejatinya merupakan tradisi dalam perayaan Hari Raya Idulfitri. Meski keseruan merayakan Idulfitri tetap bisa berlangsung meriah, efisiensi harus menjadi pijakan utama. Petasan, pawai obor, opor ayam, dan berbagai keseruan yang lain dalam Idulfitri tetap bisa dirayakan dengan cara yang bijaksana dan efisien.
Membangun Empati
Sebaliknya, Idulfitri adalah momentum untuk berempati. Pemberian zakat fitrah merupakan bentuk empati muslim kepada kaum mustadl’afin (fakir-miskin). Tidak boleh ada orang yang tidak bergembira pada Hari Raya Idulfitri. Semua orang harus bergembira pada hari itu. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda: ’’Berilah kecukupan makanan pada orang miskin agar mereka tidak berkeliling pada hari ini.’’ (HR Bukhari).
Islam mengajari umatnya untuk berempati terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain. Dengan kata lain, seorang muslim harus turut merasakan kesedihan mereka. Islam juga mengajari umatnya untuk merasakan ’’lapar puasa’’ di bulan Ramadan sebagaimana orang miskin berlapar-lapar dalam keseharian mereka. Tujuannya tak lain adalah untuk menumbuhkan rasa empati.
Empati pada mereka dilakukan dengan tidak menonjolkan kelebihan harta serta kekayaan material pada kaum mustadl’afin. Menyadari bahwa di sekeliling kita masih banyak orang yang tidak beruntung adalah hal penting dalam hidup kita. Itulah awal empati dibangun.
Empati juga harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret lewat berbagi kepada sesama. Dalam keadaan berkecukupan (fis sarraa’) maupun tidak berkecukupun (fid dlarraa), Islam mengajarkan kepada kita untuk tetap berbagi. Pada hari-hari biasa, berbagi sangat dianjurkan. Apalagi tentu dalam Ramadan yang suci ini.
Teladan Pemimpin
Presiden Prabowo sendiri mengampanyekan efisiensi melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD 2025. Para pejabat yang diberi amanah memimpin di negeri ini harus berada di garda terdepan dalam memberikan teladan praktik efisiensi. Sinyal efisiensi itu harus dipahami oleh para pejabat di bawahnya. Bahkan, prinsip efisiensi harus benar-benar terejawantahkan dalam kehidupan pribadi pejabat, termasuk dalam perayaan Idulfitri.
Fasilitas negara seperti mobil, sekadar contoh, tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi benar-benar untuk kepentingan kedinasan sebagaimana mestinya. Ketika pejabat pulang kampung (mudik), mereka tidak boleh membawa mobil dinasnya. Para pejabat bisa menggunakan mobil pribadinya untuk kepentingan keluarganya.
Para pejabat harus membiasakan diri mengonsumsi makanan secukupnya. Mereka juga harus membuang jauh tradisi acara rapat-rapat dengan konsumsi mewah dan berlimpah ruah. Para pejabat di nega-ra maju menunjukkan bahwa mereka dapat hidup dengan tradisi makanan secukupnya yang tidak berlebihan. Tak perlu berlimpah dan mewah. Apalagi, makanan itu dibeli dengan uang rakyat yang seharusnya digunakan dengan hati-hati dan penuh amanah.
Demikian pula, kegiatan mewah halalbihalal di hotel pasca-Idulfitri selayaknya tidak dilakukan lagi pada tahun-tahun ini dan masa mendatang. Sekiranya masih bisa dilakukan di gedung sendiri, sebaiknya dilaksanakan di gedung sendiri. Mindset mencari laba dalam kegiatan para pejabat publik sudah bukan musimnya.
Mari kita tradisikan efisiensi untuk masa depan anak cucu kita, ratusan bahkan ribuan tahun nanti. Selamat Hari Raya Idul-fitri 1446 H. (*)