Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Sejumlah analisis memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih akan melemah sepanjang tahun ini, bahkan bisa menyentuh Rp16.900 per USD. Pada kuartal pertama 2025, proyeksi dolar rata-rata di Rp16.600 per USD. Kuartal berikutnya diperkirakan masih akan meningkat menjadi Rp16.800 per USD.
Global Economics and Market Research UOB Enrico Tanuwidjaja memproyeksikan, tren kenaikan USD masih akan berlanjut sampai kuartal tiga 2025, Nilainya bisa mencapai Rp16.900 per USD. Penyebab penguatan dolar Amerika Serikat, di antaranya adalah tren suku bunga tinggi bank sentral AS The Federal Reserve atau The Fed. ”Karena dolar masih akan terus naik sampai Fed akan pangkas suku bunga lagi,” tuturnya di Jakarta, Jumat (21/3).
Adanya kebijakan pengenaan tarif tinggi kepada Kanada, Meksiko, dan Tiongkok yang juga merupakan penyuplai barang impor terbesar di AS meningkatkan risiko kenaikan harga barang. Sehingga inflasi sulit turun ke level 2 persen yang jadi target The Fed dalam menurunkan suku bunga acuan.
Enrico juga membeberkan potensi pemangkasan suku bunga pada kuartal empat 2025. Saat ini Fed Funds Rate (FFR) berada di posisi 4,5 persen. Pemotongan suku bunga acuan juga akan dilakukan oleh Bank Indonesia.
”Yaitu di kuartal empat. Itu forecast kami. Dan, BI masih akan pangkas dua kali lagi. Satu di kuartal dua, satu di kuartal tiga,” tuturnya.
Analis Keuangan Ibrahim Assuaibi menerangkan, investor perlu menanti momen untuk belanja mata uang USD. Investor yang telah mengoleksi USD sejak rupiah ada di level Rp15.000 per USD dinilai memiliki advantage yang besar.
”Ini jadi keuntungan bagi investor yang sudah mengoleksi dolar,” ujarnya.
Dalam kondisi ini, investor dapat memilih untuk menjual aset USD-nya dalam posisi menguntungkan seperti ini, atau jika menimbang proyeksi bawah USD masih akan perkasa sampai akhir tahun. Dolar AS juga bisa menjadi safe hafen.
”Safe haven ini sifatnya aset investasi yang tetap stabil di tengah ketidakstabilan dan ketidakpastian ekonomi global karena berbagai faktor, seperti perang, resesi, dan inflasi. Selain komoditas seperti emas, beberapa mata uang asing seperti USD memiliki peluang tetap stabil dalam situasi yang tidak menentu,” paparnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG