Buka konten ini


BATAM (BP) – Hujan deras yang mengguyur Kota Batam selama dua hari terakhir mengakibatkan banjir di berbagai wilayah. Salah satunya di Perumahan Benih Raya Marina, Kecamatan Sekupang. Air yang terus meninggi hingga setinggi pinggang orang dewasa membuat ratusan warga harus dievakuasi.
Kepala Pos Basarnas Kota Batam, Dedius, mengatakan bahwa pihaknya menerima laporan dari warga sekitar pukul 13.00 WIB. Salah satu laporan mendesak datang dari warga yang menyebut ada seorang lansia dalam kondisi sakit terjebak di dalam rumah dan tidak bisa keluar karena banjir.
”Kami langsung menuju lokasi dengan enam personel serta membawa perahu karet untuk membantu evakuasi,” ujar Dedius, Kamis (20/3). Selain menyelamatkan lansia tersebut, Basarnas juga mengevakuasi enam orang dewasa, tiga anak-anak, dan satu balita yang terjebak di dalam rumah mereka.
Menurut informasi dari ketua RT setempat, sekitar 600 kepala keluarga (KK) dari tiga RT terdampak banjir dan telah diungsikan. ”Air masuk ke rumah warga hingga setinggi pinggang orang dewasa, sehingga kami harus segera melakukan evakuasi,” tambah Dedius.
Hingga pukul 16.00 WIB, proses evakuasi masih berlangsung. Basarnas dibantu warga dan aparat setempat, terus berupaya membantu warga yang membutuhkan pertolongan.
Dedius juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada mengingat intensitas hujan masih tinggi dan berpotensi menyebabkan banjir susulan. ”Kami mengingatkan warga untuk selalu memperhatikan keselamatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Jika air semakin naik, segera mencari tempat yang lebih aman,” tukasnya.
Sementara itu, warga yang mengungsi saat ini ditampung di beberapa lokasi, termasuk rumah warga yang tidak terdampak serta tempat ibadah terdekat.
Hujan yang tak kunjung reda menyebabkan sejumlah permukiman dan jalan raya terendam air, terutama di Kecamatan Batuaji dan Sagulung. Wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Kelurahan Buliang, Kecamatan Batuaji.
Banjir merendam jalan-jalan utama dan permukiman warga. Air yang menggenangi lokasi tersebut cukup deras dan besar, membuat aktivitas warga terganggu.
Salah satu titik krisis terjadi di jalan tengah yang menghubungkan Aviari dengan RS Mutiara Aini. Jalan tersebut lumpuh total akibat banjir setinggi lutut orang dewasa. Kendaraan roda dua dan roda empat kecil tidak bisa melintas, sehingga pengendara terpaksa mencari jalur alternatif melalui jalan perumahan.
Hanya truk dan kendaraan besar yang mampu melewati genangan air di jalan utama. Namun, arus air yang cukup deras menimbulkan risiko bagi pengendara. Banyak warga yang memilih untuk tidak mengambil risiko melintas di lokasi tersebut.
”Sejak subuh tadi air terus naik, dan sampai siang masih tinggi. Kalau hujan terus sampai malam, bisa tenggelam semua wilayah Buliang ini,” ujar Erna, salah satu warga yang terdampak banjir.
Selain di sekitar Aviari, genangan banjir juga melanda kawasan dekat kantor Kelurahan Buliang hingga jembatan menuju Perumahan Kodim. Ketinggian air di lokasi ini mencapai sepinggang orang dewasa, membuat kendaraan sama sekali tidak bisa melintas.
Sebuah truk yang nekat melaju di jembatan menuju Perumahan Kodim harus terhenti di tengah banjir karena mogok. Di sekitar jembatan tersebut, permukiman warga juga mengalami banjir besar. Drainase induk dan jembatan yang biasanya terlihat kini tertutup air, menyulitkan warga untuk mengetahui batas jalan.
Kejadian hampir merenggut nyawa seorang bocah yang bermain di sekitar genangan air. Anak tersebut sempat terseret arus menuju drainase besar. Beruntung, seorang pria yang sedang menjaring ikan melihat kejadian itu dan segera menyelamatkan bocah tersebut sebelum hanyut lebih jauh.
”Hampir saja. Kalau bapak itu tidak lewat, anak ini sudah masuk ke dalam gorong-gorong. Untung cepat diselamatkan,” kata Ridwan, warga di dekat kantor Kelurahan Buliang.
Di wilayah lain seperti Batuaji dan Sagulung, banjir juga menyebabkan lumpuhnya aktivitas warga. Beberapa titik yang menjadi langganan banjir kembali terendam, membuat akses keluar masuk warga terganggu.
Warga yang terdampak banjir mulai mengeluhkan lambannya penanganan pemerintah dalam mengatasi masalah ini. Mereka menyoroti kurangnya langkah konkret dari Pemko Batam untuk menanggulangi banjir, terutama dalam normalisasi drainase dan pengelolaan lahan resapan air.
”Banyak daerah resapan air yang dijadikan lokasi pembangunan. Sungai ditimbun, bukit dibabat, jadi beginilah akibatnya. Kalau terus dibiarkan, lama-lama Batam bisa tenggelam,” kata Willy, warga Buliang.
Hingga kini, hujan masih mengguyur Batam. Warga berharap pemerintah segera turun tangan untuk melakukan langkah darurat guna mencegah banjir semakin meluas, dan berharap tidak menimbulkan korban jiwa.
Situasi di lapangan masih sulit diprediksi. Jika hujan terus berlanjut, diperkirakan ketinggian air akan terus naik, membuat lebih banyak daerah terdampak banjir parah.
Di Kecamatan Nongsa, Perumahan Ameria II juga terdampak banjir yang cukup parah. Air setinggi pinggang orang dewasa terlihat menggenangi perumahan tersebut. Semakin masuk ke dalam perumahan, air semakin tinggi menggenangi kawasan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, meski ketinggian air mulai menurun. Meski demikian, air masih menggenangi kawasan permukiman itu. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – EUSEBIUS SARA
Editor : RYAN AGUNG