Buka konten ini
Kompleks Masjid Jami sekarang sudah menyatu dengan sekolah, tapi sejumlah kegiatan Ramadan di sana masih seperti ketika masjid tersebut didirikan jauh sebelum Papua resmi masuk wilayah Indonesia. Dibangun para pendatang, jadi saksi penting penyebaran Islam di kawasan sekitar.
SEPANJANG ingatan H M. Syaiful, sedari kecil hingga sekarang menjadi ketua pengurus Masjid Jami, Kota Jayapura, tak ada yang berubah dari podium imam di masjid tersebut. Begitu pula jendela-jendela di sudut-sudut tempat ibadah berukuran 8 x 15 meter tersebut.
”Sedari saya kecil bentuk podiumnya ya seperti itu,” katanya kepada Cenderawasih Pos (grup Batam Pos), Rabu (5/3) lalu.
Pada masjid tertua di Kota Jayapura yang berdiri jauh sebelum Papua resmi menjadi wilayah Republik Indonesia itu, perubahan yang tak terhindarkan dan sisi-sisi yang tak lekang oleh zaman sama-sama hadir. Banyak dari jemaahnya yang berusia sepuh dulunya juga santri atau belajar mengaji di masjid yang didirikan pada 1943 itu.
Yang berubah, misalnya, penambahan sekolah dan sekretariat. Bentuk fisiknya juga sudah mengalami beberapa kali pemugaran.
Meski penampakannya dari luar sudah sangat berbeda, masjid ini jadi saksi penting penyebaran Islam di Kota Jayapura dan sekitarnya. Itu diperkuat keberadaan beberapa makam pedagang dari Tidore, Maluku Utara, yang ikut menyebarkan Islam di dalam kompleks masjid. Juga saksi penting harmoni antarumat beragama di ibu kota Papua yang mayoritas memeluk Kristen tersebut.
Yang juga tak lekang oleh zaman di Masjid Jami adalah tradisi selama Ramadan. Salat Tarawih dan Witir masih 23 rakaat, salah satunya. Begitu pula dengan berbuka puasa bersama.
Cenderawasih Pos turut berkesempatan berbuka puasa bersama di masjid yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara 126, Kelurahan Gurabesi, Kecamatan Jayapura Utara, itu bersama jemaah lainnya pada Rabu (5/3) lalu.
Kegiatan lainnya selama Ramadan adalah buka puasa bersama. Warga sekitar masjid yang menyediakan menu takjilnya. Setiap hari dijadwalkan empat kepala keluarga yang menyediakan menu.
Ritual lainnya yang masih bertahan di Masjid Jami adalah doa bersama selepas salat Asar. ”Itu tradisi kita sejak dulu dan masih kita pertahankan. Warga sekitar masjid kami undang mengirimkan doa kepada mereka yang sudah tiada atau yang masih hidup,” ungkap Syaiful.
Rata-rata jemaah di Masjid Jami berdatangan dari kawasan Polimak, APO, Dok IX. Kebanyakan sudah sepuh yang dulunya pernah menjadi siswa atau santri di tempat tersebut.
Masjid Jami dibangun para buruh yang berasal dari Buton, Ternate, Tidore, Halmahera, Waigeo, dan Salawati. Kecuali dua terakhir yang sekarang masuk wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya, semua daerah lainnya di Maluku Utara.
Semula, bangunan masjid hanya terdiri atas satu lantai di atas lahan seluas 1.440 meter persegi. Atapnya terbuat dari seng dan kubah berbentuk limas, seperti umumnya masjid di Jawa ketika itu.
Lalu, bangunan masjid direhab kali pertama pada 1980 dengan bantuan Bazis. Syaiful berkisah, proses rehab dilakukan lantaran bocornya sebagian atap masjid. Dan, pada 2000, berdirilah SMP Nurul Huda Ma’rif sekaligus membangun Masjid Jami yang awalnya berada di lantai 1, kemudian ditempatkan di lantai 3.
”Ada beberapa penyebab hingga masjidnya dibongkar. Semua tak terlepas dari banyaknya animo masyarakat yang membutuhkan tingkat lanjutan sekolah,” ucapnya.
Menurut Syaiful, kendati posisi masjid dipindahkan ke lantai 3, tetap banyak sisi yang berubah. Misalnya, kubah. Selain tentu sederet kenangan dan sejarah. (***)
Reporter: ELFIRA
Editor: RYAN AGUNG