Buka konten ini

EDYANUS HERMAN HALIM
Associate Professor di FEB Unri
Pemerintah di bawah komando Pre-siden Prabowo kembali menggebrak. Para eksportir yang selama ini memarkir dana hasil ekspor di perbankan luar nege-ri, kini dipaksa untuk menempatkan dana tersebut di perbankan dalam negeri.
Sebelumnya para eksportir bebas me-nempatkan dananya di luar negeri walaupun itu dari hasil-hasil penjualan berbagai jenis komoditas di dalam negeri. Nasio-nalisme para eksportir dalam konteks ini memang terkesan tipis sebab penempatan dana di luar negeri tidak menambah cada-ngan devisa Indonesia. Padahal sumber utama perolehan devisa negara adalah dari kegiatan ekspor, baik barang maupun jasa. Sumber lainnya adalah utang luar negeri yang tentunya harus dikendalikan serendah mungkin.
Posisi cadangan devisa Indonesia sampai bulan Desember 2024 baru mencapai 155,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Jumlah ini setara dengan 6,5 bulan import ditambah dengan pembayaran utang luar negeri. Kondisi ini masih di atas standar kecukupan internasional yang menetapkan kese-taraan sebesar 3 bulan impor.
Dibanding dengan negara-negara Asean, Indonesia berada pada urutan ketiga terbanyak. Singapura memiliki cadangan devisa terbesar di Asean yakni sebesar 506,7 miliar dolar, sedangkan di urutan kedua yakni Thailand sebesar 237,1 miliar dolar. Posisi Malaysia lebih rendah dari Indonesia yang hanya sebesar 118,1 miliar dolar. Di negara-negara Asia, cadangan devisa yang terkuat adalah Cina yang mencapai 3.202,01 miliar dolar diikuti oleh Jepang sebesar 1.230,7 miliar dolar. Sedangkan India sebesar 630,61 miliar.
Cadangan devisa menjadi salah satu pilar yang dapat menunjukkan kekuatan ekonomi di suatu negara dan merupakan indikator moneter yang sangat penting yang menunjukkan kuat atau lemahnya fundamental perekonomian suatu negara. Devisa adalah kekayaan suatu negara dalam bentuk valuta asing (biasanya dalam kurs dolar Amerika Serikat) yang dapat digunakan untuk transaksi internasional, se-perti membayar impor barang ataupun jasa dari luar negeri.
Cadangan devisa dalam jumlah yang cukup merupakan salah satu jaminan tercapainya stabilitas moneter dan perekonomian makro. Semakin tinggi cadangan devisa yang dimiliki suatu negara, semakin besar pula kekuatan ekonomi negara tersebut. Besar kecilnya posisi cadangan devisa tergantung pada berbagai macam faktor yang berpengaruh pada masing-masing unsur dalam neraca pembayaran.
Upaya pemerintah untuk mendapatkan devisa dari luar negeri dengan jalan melakukan pinjaman ke negara lain dan mengeks-por hasil-hasil sumber daya alam ke luar negeri. Dari hasil devisa ini maka dapat digunakan untuk menambah dana pembangunan negara.
Di Indonesia, ada 4 sektor ekonomi yang turut menyumbang devisa terbesar, yakni hasil ekspor kelapa sawit sebesar 31,49 miliar dolar, pekerja migran Indonesia 9,71 miliar dolar, pariwisata sebesar 7,03 miliar dolar, industri tekstil sebesar 3,38 miliar dolar.
Ekspor kelapa sawit menjadi primadona walaupun dihadapkan pada tantangan pasar yang sangat kompleks. Sedang pe-ran pekerja migran seakan memberikan sinyal khusus bahwa penanganan dan perlindungan terhadap mereka merupa-kan hal yang sangat urgen karena keberadaannya sebagai “pahlawan devisa” tidak dapat dipungkiri.
Demikian pula halnya dengan pariwisata. Potensi ini masih sangat terbuka untuk dikembangkan mengingat besarnya potensi yang dimiliki Indonesia. Baik wisata alam, wisata budaya, kuliner dan tentunya wisata-wisata buatan yang komplementer dengan destinasi-destinasi wisata tadi.
Di Riau sendiri nilai ekspor pada Desember 2024 mencapai 1,635 miliar dolar Amerika. Jika dibandingkan dengan posisi yang sama tahun 2023 kondisi ini meningkat 11,05 persen. Namun jika diban-dingkan dengan bulan sebelumnya terjadi penurunan sebesar 4,17 persen. Ekspor non-migas di Riau menyumbang sekitar 90,44 persen.
Pada posisi Desember 2023 ekspor non-migas Riau sebesar 1,301 miliar dolar. Sedangkan pada Desember 2024 mening-kat menjadi 1,478 miliar dolar atau 13,61 persen. Struktur ekspor menurut sektor didominasi oleh industri pengolahan sebesar 88,76 persen, migas sebesar 9,56 persen, pertanian dan lainnya sebesar 1,68 persen. Ekspor industri pengolahan mampu tumbuh sebesar 14,44 persen sedangkan ekspor migas turun atau minus 9,04 persen dan pertanian terkoreksi sebesar minus 15,09 persen. Kontribusi ekspor Riau terhadap Nasional baru mencapai 6,97 persen meskipun Riau berada pada pintu gerbang ekspor terdekat di dunia.
Tantangan ekspor Indonesia maupun Riau tidak hanya dihadapkan pada derasnya perputaran ekonomi global serta pe-ningkatan kualitas pemenuhan keinginan konsumen, tetapi juga pada semakin canggihnya teknologi yang mampu memengaruhi pasar dan konsumen itu sendiri.
Tantangan lainnya adalah meningkatnya biaya-biaya transportasi dan biaya-biaya perdagangan lainnya serta volatilitas nilai tukar yang tinggi. Eksportir harus berpikir keras untuk melakukan efisiensi agar produk dapat terjual pada harga yang wajar. Kebijakan-kebijakan pemerintah, baik dalam negeri maupun di negara-negara tujuan ekspor juga memberi tantangan tersen-diri.
Belum lagi adanya proteksi dari negara tertentu yang membuat pasar menjadi sulit untuk ditembus. Kompleksitas birokrasi ini menimbulkan kerumitan bagi para pengusaha untuk melakukan aksi-aksi pasar yang menguntungkan. Kondisi ini jelas-jelas menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
Pada sisi lain kendala masih tetap saja menggayut. Kualitas sumber daya manusia masih rendah. Walaupun pekerja-pekerja migran merupakan pahlawan devisa namun kualitas tenaga kerja yang diekspor masih berada pada level bawah. Diringi oleh lemahnya tata kelola dan pengawasan problema yang dihadapi tenaga kerja Indonesia di luar negeri memunculkan tampilan yang sangat memilukan.
Hal yang sama juga terjadi pada ekspor komoditas. Kekalahan di pasar muncul akibat rendahnya kualitas produk yang diekspor. Diperparah pula oleh ketidakmampuan menjaga kontinuitas membuat kinerja ekspor ini malah makin mengalami penurunan. Lebih mengenaskan lagi masalah struktur pasar komoditas yang cenderung berperilaku monopsonis. Kesejahteraan di tingkat produsen menjadi rendah sedangkan pada sisi eksportir menikmati rente yang lebih tinggi. Akibatnya upaya-upaya meningkatkan kualitas dan membangun keberlanjutan pada tingkat produsen menjadi sulit dilakukan.
Mengingat ekspor merupakan sumber utama penghasil devisa, maka peningkatan dan penguatan struktur ekspor harus senantiasa ditingkatkan. Ekspor yang tumbuh dan semakin beragam dari aspek komoditas juga akan meningkatkan kese-jahteraan Masyarakat.
Trickledown effect pariwisata misalnya akan menumbuhkan gairah bagi industri kreatif dan usaha-usaha kuliner pada lapis bawah. Ia juga akan menimbulkan peluang-peluang usaha baru yang mampu memberikan peluang kerja dan distribusi pendapatan pada rakyat.
Diversifikasi produk ekspor dengan melakukan penajaman-penajaman pada pemenuhan selera pasar akan memperkuat kinerja ekspor secara fundamental dan berkelanjutan. Pemerintah harus proaktif memberi informasi kepada Masyarakat tentang peluang-peluang ekspor, baik dari jenis komoditas maupun kualifikasinya.
Pemberdayaan untuk itu mutlak diperlukan supaya singkronisasi pasar dapat dilakukan. Mengingat dinamika pasar bergerak sangat kompleks dan cepat maka proses pendampingan di sisi produsen oleh tenaga ahli dan lembaga keuangan harus dilakukan.
Efisiensi birokrasi harus dipupuk dan dijalankan secara berkesimbungan. Jangan hanya sekedar “omon-omon” belaka. Hal-hal yang menimbulkan biaya tinggi dalam proses ekspor barang dan jasa di Indonesia harus dikikis habis di lapangan. Indonesia harus senantiasa membangun kekuatan bangsa dari sisi peningkatan cadangan devisa yang ditopang oleh ekspor barang dan jasa yang semakin meningkat. Pengu-asaan pasar internasional harus diperluas dan diperdalam.
Untuk Riau prasarana pendukungnya sudah semakin membaik. Bentangan jalan tol Pekanbaru Dumai hendaknya diisi oleh lalu lintas orang dan barang yang memberi kontribusi ke depan (forward linkage) dan ke belakang (backward linkage) bagi tumbuhnya kesejahteraan masyarakat. Kunci pentingnya adalah produktivitas yang berkualitas dan berkesinambungan. Entahlah! (*)
Oleh:
EDYANUS HERMAN HALIM
Associate Professor di FEB Unri