Buka konten ini
SURABAYA (BP) – Jaringan pemasok senjata api (senpi) rakitan untuk kelompok separatis teroris (KST) di Papua akhirnya terbongkar. Tujuh orang ditangkap. Empat di antaranya adalah warga Bojonegoro.
Operasi ini melibatkan jajaran petugas dari tiga polda. Yakni, Polda Jatim, Polda DIJ, dan Polda Papua Barat. Empat orang yang dibekuk Polda Jatim di Bojonegoro pada Sabtu (8/3) lalu adalah Teguh Wiyono, Mukhamad Kamaludin, Pujiono, dan Moh. Herianto.
Pelaku pertama yang diringkus adalah Teguh, otak sindikat. Dia diciduk di kediamannya, Perumahan Citra Modern Kalianyar, Kapas, Bojonegoro. Dari tangan pelaku didapati 982 butir amunisi, lima senjata api (senpi) rakitan, dan perangkat perakitan.
“Teguh Wiyono berperan sebagai pemasok dan distributor senpi,” ungkap Kapolda Papua Irjen Pol Petrus Patrige Rudolf Renwarin dalam konferensi pers bersama, Selasa (11/3).
Hasil pengembangan dari tangkapan tersebut, aparat kemudian mengamankan tiga orang lainnya. Yaitu, Kamaludin sebagai operator mesin perakitan, Pujiono sebagai pembuat popor senjata, dan Herianto sebagai pengemas sekaligus pengirim senjata. Khusus Herianto hingga kemarin masih berstatus sebagai saksi.
Sesuai hasil penelusuran polisi, senpi-senpi rakitan itu akan dikirim ke Papua atas pesanan Yuni Enumbi. Dia adalah mantan anggota TNI Kodam XVIII/Kasuari yang membelot menjadi penyuplai senjata untuk KKB di Papua.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jatim Kombes Farman menjelaskan, para tersangka mengaku baru sekali mengirimkan senjata rakitan ke Papua. “Satu kali transaksi kurang lebih Rp1,3 miliar,” terang Farman.
Dalam sekali transaksi tersebut, para perakit senpi berhasil mengirimkan empat senpi laras pendek dan dua senpi laras panjang. Senpi dikirim dalam beberapa potongan bersama dengan amunisi dan magasin. Senpi lantas dikemas menggunakan kompresor sebelum dikirim menggunakan jasa paket ekspedisi.
Teguh mengenal Yuni dari Eko Sugiyono (tersangka) yang diamankan Polda Papua Barat pada 8 Maret lalu di Manokwari. Eko adalah rekan Yuni sebagai sesama anggota TNI di Kodam XVIII/Kasuari.
“Yuni ini juga pernah datang ke Bojonegoro untuk melihat lokasi pembuatan senjata,” imbuh eks Kapolres Madiun Kota tersebut.
Para pelaku bisa merakit senjata setelah belajar dari pembuatan senapan angin. Mereka juga memiliki kemampuan pengelasan karena pernah bekerja sebagai tukang las. Keahlian itu dimanfaatkan untuk membikin popor senjata.
Bagaimana dengan amunisi? “Kami masih telusuri dari mana pelaku mendapatkan amunisi,” katanya. Yang jelas, amunisi tersebut buatan PT Pindad.
Total ada 982 amunisi yang berhasil disita polisi. Perinciannya, 402 butir kaliber 5,56; 198 butir kaliber 22; 68 butir kaliber 30; 152 butir kaliber 7.62 x 59; 147 butir kaliber 7.62 x 51; 14 butir kaliber 9; dan 1 butir kaliber 762.
Penangkapan juga dilakukan Polda DIJ. Tersangka atas nama Adi Pamungkas ditangkap pada 9 Maret lalu. Dengan demikian, total ada enam tersangka yang berhasil diringkus petugas gabungan.
Sementara itu, Jawa Pos Radar Bojonegoro (grup Batam Pos), kemarin mendatangi lokasi penangkapan Teguh di Desa Kalianyar. Di tempat itulah proses perakitan senpi diduga berlangsung.
Kasi Kesejahteraan Desa Kalianyar Abdul Rouf mengaku tidak tahu persis terjadinya penggerebekan. Yang dia tahu, Teguh bukan pemilik rumah. Pria 45 tahun itu mengontrak rumah tersebut sejak lima tahun lalu.
Budi, warga yang rumahnya berada di samping rumah Teguh, mengaku tidak kenal dekat dengan tetangganya itu. Yang dia tahu, penghuni rumah itu adalah pasangan suami istri asal Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Kota.
“Terakhir ya Jumat (7/3) lalu mereka masih duduk-duduk di depan rumah,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO