Buka konten ini

Hasil uji sampel takjil yang dilakukan Dinas Kese-hatan (Dinkes) Kabupaten Anambas tak menemukan zat berbahaya di dalam makanan ataupun minuman. Meski demikian, penggunaan botol plastik bekas untuk penjualan minuman marak di Anambas.
Petugas Dinkes Anambas mendatangi pedagang takjil yang berjualan di kawasan Pasar Tarempa, Minggu (9/3).
Kedatangan petugas ini untuk melakukan uji sampel makanan yang dijual pedagang. Uji sampel ini dilakukan dengan menggunakan metode rapid test.
Makanan atau minuman yang dilakukan uji sampel antara lain mie tarempa, gorengan, kue tradisional, air tahu dan cendol dawet.
”Ada 24 sampel makanan dan minuman yang kami ambil untuk diuji kandungannya,” ujar Ketua Tim Uji Sampel Dinkes Anambas, Sofiani Srilagogo.
Hasilnya dari 24 sampel tersebut tidak ditemukan kandungan berbahaya atau negatif dari 4 pemeriksaan yaitu borax, formalin, Rhodamin B atau pewarna tekstil merah dan Metanil Yellow atau pewarna tekstil kuning.
“Kami akan tetap melakukan pengawasan dan edukasi nanti dengan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga untuk tetap melakukan edukasi ke masyarakat,” kata Sofiani.
Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dengan selalu melihat bahan makanan yang dibeli.
“Ya harus lihat kemasannya, izin edarnya, kemasannya, kedaluwarsanya itu juga harus tetap dilihat,” pungkas Sofi.
Sementara itu, penggunaan botol plastik bekas untuk penjualan minuman di Anambas masih saja ditemukan.
Pantauan Batam Pos, setiap lapak pedagang takjil di Pasar Tarempa, terdapat minuman se-perti air tahu, air kelapa dan lainnya yang dikemas ke dalam botol plastik bekas dengan berbagai macam merek, Minggu, (9/3).
Staf Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Anambas, Sofiani Srilagogo mengatakan masih banyaknya penggunaan botol bekas dikarenakan pedagang belum memahami pentingnya kebersihan.
”Banyak pedagang yang memanfaatkan botol plastik bekas untuk menjual minuman. Padahal botol plastik itu tidak boleh di pakai ulang karena berbahaya bagi kesehatan,” ujar Sofiani Srilagogo.
Ia mengungkapkan biasanya pedagang mengambil botol plastik dari penampung barang bekas dan sisa minuman dari kapal Pelni yang kerap singgah di Anambas.
”Kita kan tidak tahu kualitasnya seperti apa, namanya botol plastik bekas ya tidak baik digunakan. Walaupun dicuci berulang kali ya masih ada kumannya,” tutur dia.
Petugas menyarankan kepada pedagang untuk tidak lagi menggunakan botol bekas sebagai wadah pengisian minuman yang dijual.
”Apa salahnya mereka bisa beli botol plastik yang baru, tidak mahal kok terjamin juga hiegenisnya,” kata dia.
Ke depan, Dinas Kesehatan akan rutin melaksanakan razia ke pedagang-pedagang sekaligus memberikan edukasi dalam mencegah terjadinya penyakit di tengah masyarakat dari dampak penggunaan botol bekas. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI