Buka konten ini
Jajaran Komisi II DPRD Batam melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Mitra Raya, Batam Center, Selasa (4/3). Sidak ini bertujuan untuk memantau ketersediaan dan harga sejumlah kebutuhan pokok, terutama santan, yang merupakan bahan utama dalam berbagai hidangan selama bulan Ramadan.
Ketua Komisi II DPRD Batam, Muhammad Yunus Muda, menekankan perlunya kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan pihak terkait guna mengatasi kendala dalam ketersediaan bahan pangan. Ia menyatakan bahwa Batam memiliki potensi kelapa yang seharusnya dimanfaatkan lebih maksimal untuk memenuhi kebutuhan santan di daerah tersebut.
”Batam sebenarnya memiliki potensi besar untuk memanfaatkan kelapa. Masalahnya, jika pasokan santan selalu bergantung pada luar daerah, kita akan rentan terhadap gangguan distribusi,” kata Yunus.
Menurut Yunus, langkah antisipatif diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok, seperti sayur, telur, dan ayam. Pasar Mitra Raya sendiri merupakan pasar kelas menengah ke atas, di mana daya beli masyarakat lebih tinggi dibandingkan pasar tradisional lainnya di Batam.
Saat ini, Yunus memastikan bahwa harga sembako masih stabil dan stok pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Idulfitri. Namun, ia tetap menekankan perlunya koordinasi lebih lanjut dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam untuk memastikan ketersediaan bahan pangan tetap aman.
Dari hasil sidak tersebut, DPRD Batam berencana untuk membahas lebih lanjut strategi pengamanan stok pangan dengan Disperindag. Langkah ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga dan harga stabil selama Ramadan hingga Idulfitri.
Selain itu, DPRD Batam mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius memanfaatkan potensi lokal, khususnya dalam produksi kelapa dan bahan pangan lainnya, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pasar Disperindag Batam, Elfasi, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar seperti Ramadan dan Idulfitri adalah fenomena biasa.
Lonjakan harga sering disebabkan oleh fenomena panic buying atau membeli karena panik yang dilakukan masyarakat.
”Contohnya cabai, ketika mendekati puasa atau Lebaran, orang-orang membeli dalam jumlah banyak untuk persediaan. Ketika mindset ini terjadi secara massal, permintaan naik, dan otomatis harga pun ikut naik,” ujarnya.
Terkait santan, Elfasi menyebutkan bahwa Batam selama ini bergantung pada pasokan kelapa dari daerah lain, seperti Bintan, Tembilahan, dan Dumai. Meskipun stok santan cukup stabil, peningkatan konsumsi selama Ramadan menyebabkan permintaan melonjak drastis.
”Dalam kondisi normal, kebutuhan santan di Batam sekitar 5 ton per hari. Namun, selama Ramadan, permintaan bisa meningkat hingga 7-8 ton per hari,” ujarnya.
Namun, masalah ketersediaan santan ini bukan hal baru. Distribusi santan telah terganggu sejak awal tahun 2025.
Harga santan murni saat ini tercatat sekitar Rp46 ribu per kilogram. Bagi masyarakat yang mencari alternatif lebih murah, tersedia santan dengan campuran air yang lebih banyak, seharga Rp23-25 ribu per kilogram.
Terkait kebutuhan santan secara keseluruhan di Batam, Elfasi mengaku belum memiliki data pasti. Namun, pihaknya sedang berupaya menjalin kerja sama antardaerah untuk memastikan kelancaran pasokan bahan baku.
”Kepri sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan kelapa untuk produksi santan di Batam, sehingga kerja sama dengan daerah lain sangat diperlukan,” ujarnya.
Elfasi juga mencermati perbedaan daya beli masyarakat di berbagai pasar di Batam. Di Pasar Mitra Raya, misalnya, harga yang lebih tinggi masih dapat diterima oleh konsumen. Namun, di pasar dengan segmen menengah ke bawah, konsumen cenderung mencari harga yang lebih terjangkau. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK