Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pedagang dan pengunjung Mega Bekasi Hypermall panik. Banjir tiba-tiba masuk ke lantai bawah mal tersebut.
’’Ayo naik, naik semua, ada banjir.’’ Seruan itu terdengar berkali-kali. Tak lama kemudian, air berwarna cokelat memenuhi lantai bawah hingga setinggi lutut orang dewasa. Sejumlah pedagang terlihat berlarian menyelamatkan barang dagangan.
Kepanikan itu terekam dalam video yang beredar di beberapa platform media sosial, kemarin. Hujan dengan intensitas tinggi pada Senin (3/3) malam hingga Selasa (4/3) dini hari memang menyebabkan banjir di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Banjir melanda 13 kecamatan. Bekasi lumpuh akibat banjir di banyak titik.
Salah satu pegawai mal, Hapip, 25, menceritakan kronologi saat banjir masuk ke dalam lantai dasar mal. ”Saya berangkat kerja dari Bekasi Cyber Park, waktu itu sudah macet, tapi saya tidak menyangka bakal banjir. Pas sampai Mega Bekasi, pintu masuk depan ditutup, jadi saya masuk lewat pintu belakang dekat Gokana,” ujarnya dilansir Radar Bekasi (grup Batam Pos), Selasa (4/3).
Sekitar pukul 10.05, air mulai menggenangi area belakang mal. Dalam hitungan menit, sekitar pukul 10.12, air semakin tinggi dan mulai masuk ke lantai dasar. ”Kejadiannya cepat banget. Tenant-tenant di bawah langsung menye-lamatkan barang-barang mereka, tapi banyak yang tidak sempat karena air keburu masuk,” tambahnya.
Manajemen mal segera mematikan listrik untuk meng-hindari risiko. Pada pukul 10.20, tenant dan pengunjung dilarang masuk. Lalu, orang-orang di dalam mal dievakuasi.
Kapolsek Bekasi Selatan Kompol Dedi Herdiana me-ngonfirmasi bahwa banjir kali ini cukup luas. ”Hari ini, khususnya di wilayah Bekasi Selatan, ada 38 titik banjir. Lokasi terparah di Perumahan Jaka Kencana, Perumahan Depnaker Jaka Setia, Perumahan Delta Pekayon, serta Mega Bekasi Hypermall,” ujarnya.
Sebelumnya, BPBD mencatat 20 titik banjir, tetapi jumlahnya terus bertambah. Mes-ki demikian, tidak ada laporan korban jiwa. Tim kepolisian bersama pemerintah daerah dan TNI-AD telah membuka dapur umum serta posko evakuasi di beberapa titik terdampak.
Informasi dari pihak Mega Bekasi Hypermall, sekitar 700 toko di lantai dasar terdampak banjir. Ketinggian air sekitar 1,5 meter. Para pemilik toko masih berusaha mengevakuasi barang dagangan mereka. Sementara itu, operasional mal ditutup sementara hingga situasi memungkinkan untuk kembali dibuka.
Kepolisian memastikan penyebab banjir adalah luapan air dari Kali Bekasi. ”Tidak ada tanggul yang jebol. Ini murni luapan air yang cukup besar hingga menyebabkan genangan di lantai dasar dan area parkir mal,” katanya.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menuturkan, BPBD Kota Bekasi mencatat tujuh kecamatan terdampak banjir. Yakni, Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede, dan Rawalumbu. Sebanyak 140 rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 300 sentimeter.
”BPBD Kota Bekasi mendistri-busikan bantuan logistik dan mengerahkan sejumlah perahu karet untuk evakuasi warga terdampak,’’ katanya. PLN Kota Bekasi memadamkan listrik di beberapa wilayah terdampak untuk mencegah adanya korban yang terkena aliran listrik.
Sementara di Kabupaten Bekasi, hujan disertai kiriman air dari sungai di bagian hulu menyebabkan banjir di enam kecamatan. Yaitu, Kecamatan Cibarusah, Serang Baru, Setu, Cikarang Utara, Cibitung, dan Tambun Utara. BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan, ketinggian air mencapai 150 sentimeter dan merendam 15 rumah.
Berdasar pemantauan di lapangan, hingga Selasa (4/3) pagi, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah. ”BPBD dan tim gabungan melakukan evakuasi warga terdampak menggunakan perahu karet,” ujarnya.
Letjen Suharyanto menyampaikan bahwa pemerintah pusat melalui BNPB mendukung kebutuhan pemerintah daerah dan masyarakat terdampak pada masa tanggap darurat banjir di daerah Jabodetabek. ”Kita akan kerahkan peralatan dan personel ke masing-masing daerah terdampak sesuai kebutuhan,” tutur Suharyanto dalam konferensi pers penanganan banjir di wilayah Jabodetabek, Selasa (4/3).
Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya (Marsdya) TNI Muhammad Syafii mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan personel untuk menangani banjir yang melanda kawasan Jabodetabek. Personel Basarnas bekerja di bawah arahan BNPB.
Berdasar informasi yang dia peroleh, jajarannya sudah tersebar di banyak titik sejak Senin. ”Kemudian, siang ini (Selasa) juga ada di sembilan titik yang sudah dilaksanakan evakuasi sesuai dengan permintaan call center,” imbuhnya.
Sementara itu, sebagian warga memilih mengungsi setelah debit air terus mening-gi secara cepat. Rini, warga Patuha Selatan, Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, langsung siaga ketika mengetahui air sudah menggenangi kawasan perumahannya. Tanpa pikir panjang, dia mengajak dua anaknya mengungsi ketika air mulai masuk rumah menjelang siang.
”Mau numpang sementara di tempat temen. Ini listrik juga udah dimatiin soalnya,” ungkapnya.
Benar saja, air ternyata begitu cepat naik. Saat tengah mengungsi, banjir di depan perumahannya sudah mencapai 2,5 meter. ”Tadi keluar udah sedagu. Ini jalanan juga macet banget karena banjir semua,” keluhnya.
Beda lagi dengan Dini, warga Bekasi. Dia kesulitan mendapatkan bantuan SAR untuk mengevakuasi kerabatnya yang ada di Perumahan Dharmawangsa, Tambun Utara. Sejak pagi, dia mencoba menghubungi sejumlah kontak tanggap darurat. Namun, hingga menjelang sore, hasilnya nihil.
”Karena kondisi airnya naik terus, warga jadi kaget. Naiknya cepet, yang tadinya cuma sebetis tiba-tiba udah sepaha. Padahal gak hujan,” tuturnya.
Kecemasan kian besar lantaran banyak anak dan bayi yang terjebak di kawasan tersebut. Untuk sementara, mereka mengungsi di rumah warga yang memiliki rumah dua lantai. ”Listrik sudah mati dan air bersih juga tidak ada,” ungkapnya.
Selasa (4/3) Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menggelar rapat koordinasi penanganan tanggap darurat bencana hidrometeorologi secara daring. Dalam rapat, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah telah mengidentifikasi kebutuhan utama masing-masing daerah terdampak.
Pertama, penyelamatan masyarakat melalui evakuasi dan penyiapan lokasi pengungsian. Kedua, pemenuhan kebutuhan dasar, terutama makanan dan kebutuhan lain yang semakin krusial di bulan Ramadan ini. Lalu, pelayanan kesehatan, baik di pengungsian maupun di rumah penduduk. Terakhir, pemulihan permukiman dan infrastruktur, termasuk jalan, jembatan, sekolah, rumah ibadah, hingga fasilitas umum lainnya.
Sejalan dengan upaya tersebut, pemerintah akan melanjutkan operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi curah hujan di wilayah terdampak. Selain itu, pemerintah mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, daerah rawan banjir, dan wilayah rentan longsor agar meningkatkan kesiapsiagaan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG