Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Angin segar berembus bagi pasien Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Kepulauan Riau (Kepri). RSBP Batam resmi mencetak sejarah dengan meluncurkan layanan intervensi jantung bawaan bagi anak maupun dewasa tanpa melalui bedah terbuka, sebuah layanan perdana yang hadir di Bumi Segantang Lada pada 2026 ini.
Langkah ini menjadi tonggak penting dalam desentralisasi layanan kesehatan spesialistik. Selama ini, pasien dari Kepri harus menempuh perjalanan jauh dan menghadapi antrean panjang di rumah sakit rujukan nasional di Jakarta demi mendapatkan tindakan serupa.
Sebagai permulaan, sebanyak enam pasien dewasa menjalani tindakan intervensi non-invasif di fasilitas cathlab RSBP Batam. Proses tersebut dilakukan dengan pendampingan dokter tamu melalui program proctorship. Seluruh pasien dipastikan telah lolos skrining medis ketat sesuai standar keselamatan.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBP Batam, Muhammad Yanto, menjelaskan bahwa layanan ini memiliki keunggulan kompetitif. Jika sebelumnya rumah sakit swasta di Kepri baru bisa menangani kasus pada anak melalui spesialis anak konsultan jantung, RSBP Batam kini melangkah lebih jauh.
”Di RSBP Batam, tindakan dilakukan oleh dokter spesialis jantung konsultan penyakit jantung bawaan yang mampu melakukan intervensi non-invasif dari pasien anak hingga dewasa. Ini yang pertama di Kepri,” tegas Yanto, Jumat (13/2).
Kehadiran layanan ini diharapkan mampu mengurai ”sumbatan” antrean di tingkat nasional. Dr. Radityo Prakoso, salah satu dokter tamu yang mendampingi tindakan tersebut, memaparkan fakta miris mengenai kondisi di pusat rujukan. Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 6.000 bayi di Jakarta yang masih mengantre jadwal penanganan PJB.
”Karena keterbatasan kapasitas, tidak semua pasien tertangani optimal. Bahkan, sebagian meninggal dunia sebelum mendapatkan jadwal tindakan,” ungkap Radityo.
Fakta tersebut diperkuat oleh Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Kardiologi RSBP Batam, Afdalun Hakim. Ia menyebut angka kejadian PJB di Indonesia mencapai 8 hingga 10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Sayangnya, jumlah dokter dan fasilitas pendukung masih sangat minim.
”Penguatan di daerah seperti di RSBP Batam ini sangat krusial. Akses masyarakat jadi lebih cepat dan risiko fatalitas akibat keterlambatan penanganan bisa kita tekan,” tambah Afdalun.
Selain memberikan tindakan medis kepada pasien, program ini juga menjadi ajang transfer knowledge bagi tim medis internal RSBP Batam. Targetnya jelas: di masa depan, rumah sakit ini mampu menjalankan layanan PJB secara mandiri dan berkelanjutan tanpa harus bergantung pada pendampingan luar daerah. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO