Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Libur panjang Natal dan tahun baru biasanya menjadi masa panen bagi industri perhotelan, kali ini, justru tidak memberi dampak signifikan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat okupansi hotel secara nasional turun hingga 30 persen dibandingkan periode libur yang sama tahun sebelumnya. Penurunan bahkan lebih dalam terjadi di sejumlah daerah yang terdampak bencana.
“Kami bisa bilang penurunannya mencapai 30 persen dibandingkan tahun lalu. Bahkan ada daerah-daerah yang penurunannya lebih dalam, terutama yang terdampak bencana,” ujar Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran di Jakarta, kemarin (7/1).
Libur Terpotong
Menurut Maulana, pola libur Nataru kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Lonjakan okupansi hanya terjadi pada dua momentum singkat, yakni malam Natal 24 Desember dan malam pergantian tahun 31 Desember. Di luar itu, tingkat keterisian kamar cenderung datar.
Bahkan pada puncak liburan, tingkat hunian hotel rata-rata hanya mampu menembus kisaran 70 persen. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal libur panjang yang biasanya mendekati 90 persen.
“Periode liburnya terpotong dan lonjakan okupansinya juga sangat pendek. Banyak daerah justru melaporkan penurunan,” katanya.
PHRI juga mencatat sejumlah faktor menjadi penekan utama kinerja perhotelan, antara lain cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, mahalnya tiket transportasi saat musim liburan, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Kondisi Bali
Kondisi serupa juga terjadi di Bali sebagai destinasi wisata utama nasional. Pada periode 25–31 Desember 2025, okupansi hotel di Pulau Dewata turun sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Penurunan kunjungan wisatawan domestik dipengaruhi sentimen negatif pemberitaan mengenai kemacetan, banjir, hingga imbauan pemerintah untuk tidak menggelar pesta kembang api,” paparnya.
Di luar Bali, penurunan okupansi juga terjadi di berbagai daerah. Di Jawa Barat, tingkat hunian hotel pada 24–25 Desember 2025 hanya sekitar 65 persen, turun 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. DKI Jakarta mencatat tingkat keterisian di kisaran 60–64 persen, sementara Jawa Timur berada di level rata-rata 65 persen.
Yogyakarta Tertinggi
Jawa Tengah mencatat tingkat hunian sekitar 71 persen, meski beberapa kota tertentu mampu menembus 89 persen. Yogyakarta relatif lebih baik dengan okupansi berkisar 80–90 persen.
PHRI menilai kondisi ini menjadi sinyal bahwa libur akhir tahun tidak lagi otomatis menjadi pengungkit utama industri perhotelan. “Tantangan ekonomi, faktor cuaca, dan dinamika eksternal masih membayangi kinerja sektor pariwisata nasional,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO