Sabtu, 14 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Animalium BRIN, Wisata Sains Dunia Satwa

Sayap burung sejatinya merupakan hasil evolusi dari kaki depan. Leluhur burung yang hidup di pepohonan memanfaatkannya untuk meluncur dari satu pohon ke pohon lain sebagai bagian dari adaptasi hidup.

Pengetahuan semacam itu dapat ditemui di Animalium milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong, Kabupaten Bogor. Informasi disajikan melalui narasi edukatif yang terpampang di dinding lobi, area yang menampilkan koleksi burung dan telur.

Pengunjung juga bisa memahami alasan migrasi burung dan berbagai fakta ilmiah lainnya.
“Animalium disusun berdasarkan hasil riset BRIN, termasuk penelitian satwa liar. Berbeda dengan kebun binatang, fokus utama kami adalah edukasi, meski unsur rekreasi tetap ada,” ujar Public Relation Animalium, Rica Crystaliani, kepada Jawa Pos. grup Batam Pos.

Animalium diresmikan Ketua Dewan Pengarah BRIN Megawati Soekarnoputri pada 5 Juli 2023, namun sudah dibuka untuk publik sejak Maret. Berdiri di atas lahan 1,5 hektare, wahana ini memadukan koleksi hewan hidup dengan replika.

Di lobi utama, pengunjung disambut zona Kingdom Animalia yang membagi dunia hewan ke dalam dua kelompok besar: vertebrata dan invertebrata. Seluruh koleksi di area ini berupa replika, dilengkapi layar sentuh interaktif untuk membantu eksplorasi. Saat pengunjung memilih kategori tertentu, pencahayaan akan otomatis menyorot kelompok hewan yang dimaksud.

Salah satu daya tariknya adalah koleksi telur burung. Mulai dari telur terkecil milik prenjak Jawa hingga telur burung gajah seberat sekitar 10 kilogram—setara 150 kali berat telur ayam.

Secara keseluruhan, Animalium memiliki lima lobi bertema, lima exhibit, dan lima aviary. Sebagai wahana edukasi, Animalium tidak menjual tiket masuk umum, melainkan paket pembelajaran seharga Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per orang. Setiap peserta memperoleh buku panduan dan alat tulis berisi pertanyaan yang dijawab selama kunjungan.

Tur edukasi berlangsung sekitar 2,5 hingga 3 jam dan didampingi pemandu khusus. Koleksi hewan hidupnya antara lain bearded dragon asal Australia, binturong, landak Jawa, serta berbagai jenis musang. Di aviary, pengunjung bisa melihat merak, kakaktua jambul kuning, burung hantu, burung paruh bengkok, hingga koleksi terbaru, pecuk padi.

Aviary dirancang menyerupai habitat alami, seperti lantai hutan, aliran sungai, dan kawasan burung pemangsa. Pada aviary pecuk padi, misalnya, disediakan kolam ikan sebagai bagian dari ekosistemnya.

Selain aviary, terdapat biodome yang menampilkan habitat reptil dan amfibi, lengkap dengan tanaman khas seperti kantong semar. Puluhan jenis reptil menghuni area ini, mulai dari bunglon surai, ular siput, hingga beragam katak. Sistem misting diterapkan untuk menjaga kelembapan dan suhu agar menyerupai habitat asli.

Meski berada di kawasan BRIN, pengelolaan Animalium yang dirancang sejak 2021 telah diserahkan kepada mitra swasta, dengan melibatkan sekitar 30–50 tenaga profesional, termasuk zookeeper dan ahli satwa.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menjelaskan, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno di Cibinong memiliki luas 190 hektare, dengan sekitar 30 hektare dialokasikan sebagai kawasan komersial bagi industri berbasis riset dan pengembangan.

“Animalium menjadi ruang belajar sekaligus penerapan pengetahuan tentang kehidupan satwa. Bukan sekadar sarana peraga modern, tetapi juga etalase riset dan publikasi ilmu satwa dengan konsep baru di Indonesia,” ujar Handoko. (***)

Reporter : AZIS MAULANA
Editor : PUTUT ARIYO