
SPPG Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya memproduksi lebih dari 4.000 paket makanan setiap hari. Disalurkan ke enam sekolah dan juga ke lima posyandu. Dapur ini tak pernah benar-benar tidur alias beroperasi 24 jam.
MATAHARI belum menampakkan dirinya, namun, denting logam ompreng dan peralatan masak sudah lebih dulu memecah sunyi di SPPG Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya.
Suasana kian sibuk. Derap langkah pegawai yang mengenakan APD penutup kepala, sarung tangan, hingga masker, berpadu dengan suara peralatan dapur. Dapur ini tak pernah benar-benar tidur alias beroperasi 24 jam.
Di salah satu sudut dapur, nasi mengepul dari panci besar. Aneka lauk pauk, sayur, buah, hingga ompreng stainless steel tertata rapi di atas meja panjang, penanda dimulainya kegiatan meracik menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tangan-tangan mereka bergerak cekatan. Nasi ditakar, lauk disusun, sayur dan buah dilengkapi ke dalam setiap wadah.
Satu per satu ompreng diperiksa kembali, memastikan tak ada menu yang tertinggal sebelum ditutup rapat.
Setelah lengkap, ompreng disegel dengan tali dan disusun rapi ke dalam mobil boks. Sebuah ritual pagi yang sederhana, namun menyimpan tanggung jawab besar sebelum paket MBG itu tiba di meja makan penerimanya.
Kepala SPPG Jemur Wonosari, Syamsudin Duka mengatakan setiap harinya, dapur MBG yang ia pimpin memproduksi lebih dari 4.000 paket makanan, yang didistribusikan ke 6 sekolah di Kecamatan Wonocolo.
”Dapur MBG kita melayani 6 sekolah, yakni KB Yasporbi, TK Yasporbi, SD Taquma, SMP Negeri 13 Surabaya, SMA Negeri 10 Surabaya, dan SMK 1 PGRI Surabaya, dengan jumlah penerima manfaat kurang lebih 3.364 anak,” tuturnya.
Selain sekolah, SPPG Jemur Wonosari juga mendistribusikan paket makanan bergizi untuk bumil, busui, dan balita ke 5 posyandu di tiap RW, yakni Posyandu RW 9, RW 5, RW 4, RW 3, dan Posyandu RW 2.
Sebagai SPPG tertua di Kota Surabaya, SPPG Jemur Wonosari telah melalui perjalanan panjang dalam menjaga kualitas menu MBG. Berbagai kendala pernah terjadi, mulai dari nasi yang kurang matang hingga buah basi.
“Hal-hal seperti itu kami tampung sebagai bahan evaluasi. Tujuan kami satu, setiap hari makanan yang disajikan harus fresh dan layak dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat,” imbuhnya.
Syamsudin tak menampik bahwa sebagai program yang baru berjalan satu tahun, MBG masih membutuhkan penguatan di sejumlah aspek. Perbaikan cepat menjadi kunci agar program bisa berjalan secara optimal.
“Saat ada penerima manfaat yang protes nasinya keras, kami langsung ganti ke beras berkualitas. Kami bebaskan untuk kritik. Jangan alergi dengan kritik, karena itu tugas kita untuk memperbaiki,” tegas Syamsudin.
SPPG Jemur Wonosari juga memberikan perhatian khusus terhadap kualitas bahan makanan MBG. Bahkan, untuk kebutuhan air, mereka tidak menggunakan air keran PDAM, tetapi air mineral galon.
“Kami sangat memerhatikan bahan, termasuk air. Karena ini menyangkut nyawa manusia, jadi kami memperhatikan betul. Selama kritis tersebut tujuannya positif, saya selalu terbuka untuk itu,” tegas laki-laki asal Gorontalo itu.
Terkait permintaan menu kekinian seperti burger, spageti yang di-request anak-anak sekolah, Syamsudin menyebut hal itu bukan hal sulit untuk dipenuhi, tetapi pihaknya memiliki tanggung jawab tentang kandungan gizi.
“Menu kekinian seperti burger atau spageti itu sifatnya hanya bonus, hadiah. Bukan berarti kami tidak terbuka. Tetapi kami punya kewajiban setiap hari melaporkan kandungan gizi, mulai protein, zat gizi, hingga serat,” tukas Syamsudin. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ALFIAN LUMBAN GAOL