Buka konten ini

Kepulauan Anambas memikul beban sejarah dan harapan. Wilayah ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan nasional terbesar kedua di Indonesia. Namun, luas kawasan tak selalu sebanding dengan kesehatannya.
PASIR putih di pesisir Anambas tampak tenang pada pagi hari. Butirannya lembut, memantulkan cahaya matahari, seolah tak menyimpan kisah apa pun. Padahal, pasir itu adalah jejak kehidupan yang hancur dan terus dilahirkan kembali.
Ia berasal dari pecahan kerangka terumbu karang yang digerus ombak, juga dari sisa pencernaan ikan kakatua—ikan berparuh keras yang memakan alga di karang mati, lalu mengeluarkannya kembali sebagai pasir halus.
Pasir putih adalah penanda bahwa laut bekerja. Bahwa di bawah permukaannya, ada ekosistem yang bernapas, tumbuh, dan sekaligus rapuh.
Namun, terumbu karang kerap disalahpahami sebagai batu atau tanaman. Ia bukan keduanya. Terumbu karang adalah koloni hewan kecil tak bertulang belakang bernama polip. Masing-masing hidup bersimbiosis dengan alga mikroskopis yang menyuplai energi dan warna.
Dari relasi inilah terbentuk struktur kalsium karbonat yang menjadi fondasi terumbu—sebuah kota bawah laut yang menopang ribuan spesies ikan, moluska, dan organisme lain.
Namun kondisinya rapuh. Monitoring Anambas Foundation pada 2025 mencatat, rata-rata tutupan karang hidup sebesar 29,19 persen.
”Angka ini menandai kondisi yang belum pulih. Sebagian terumbu masih hidup, tetapi banyak pula yang terluka,” ujar Fauzan Maulana, Marine Conservation Program Staff (Staf Program Konservasi Laut) Anambas Foundation, pekan lalu.
Di perairan yang sama, biomassa ikan karang tercatat rata-rata 482,78 kilogram per hektare, sementara kelimpahan megabenthos mencapai 0,58 individu per meter persegi—indikator bahwa kehidupan laut masih bertahan, meski di bawah tekanan.
Tekanan itu datang dari banyak arah. Ada pemanasan global. Meningkatnya suhu laut memicu pemutihan karang.
Kemudian ada predator alami seperti Acanthaster planci yang berkembang tanpa kendali. Di saat bersamaan, tangan manusia mempercepat kerusakan: penangkapan ikan berlebihan, penggunaan sianida dan bom ikan, hingga aktivitas wisata yang abai.
”Bahkan, satu jangkar kapal yang dijatuhkan sembarangan, satu injakan kaki penyelam, bisa merusak karang yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh,” ujar Fauzan.
Terumbu karang sejatinya adalah benteng alami. Ia meredam gelombang, melindungi garis pantai, dan menjaga permukiman dari abrasi. Ketika benteng ini runtuh, yang terancam bukan hanya ikan, tetapi juga manusia di daratan.
Merawat yang Terluka
Di tengah kerentanan itu, upaya pemulihan terus dilakukan. Di Desa Kiabu dan Desa Telaga, Anambas Foundation menjalankan program restorasi terumbu karang. Hingga kini, sekitar 3.300 meter persegi terumbu telah berhasil dipulihkan.
Angka ini masih kecil jika dibandingkan dengan sekitar 17.800 meter persegi area terumbu yang rusak. ”Tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal penting: laut bisa disembuhkan,” ujar Fauzan.
Pemulihan tidak hanya berlangsung di dasar laut. Ia juga tumbuh di ruang-ruang kelas. Di SMPN 1 Kiabu, SMPN 3 Telaga, dan SMPN 1 Sunggak, program edukasi konservasi terumbu karang dijalankan.
Anak-anak ini diperkenalkan bahwa karang bukan sebagai objek wisata semata, melainkan sebagai makhluk hidup yang menentukan masa depan pulau-pulau kecil tempat mereka tinggal.
”Merekalah generasi yang kelak akan memilih: menjaga laut atau membiarkannya hilang,” tutur Fauzan.
Dari Bukit hingga Karang
Namun konservasi tidak hanya sebatas itu. Di wilayah kepulauan kecil tak bisa dipisahkan antara darat dan laut. Pendekatan ridge to reef menjadi kunci. Hutan yang gundul di daratan akan mengirim lumpur ke laut. Sampah plastik yang dibuang sembarangan akan berakhir di terumbu. Limbah minyak yang bocor akan meracuni polip yang tak bisa berpindah.
Kesadaran ini menuntut perubahan perilaku sehari-hari: tidak membuang sampah ke laut, berhati-hati saat berwisata bahari, tidak menyentuh atau menginjak karang, serta memilih tabir surya ramah lingkungan. Menolak konsumsi ikan yang dilindungi juga bagian dari sikap etis terhadap laut.
”Bagi mereka yang tak menyelam, keterlibatan tetap terbuka. Program adopsi terumbu karang dan penyu bisa diikuti melalui akun Instagram @anambascoraladoption,” ujar Fauzan.
Gerakan ini digagas masyarakat lokal yang menyebut diri mereka Guardians of the Anambas Seas—sebuah inisiatif warga untuk merawat lautnya sendiri.
Di Anambas, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah sumber hidup, pelindung, dan warisan. Pasir putih yang kita pijak hari ini adalah sisa-sisa kehidupan masa lalu.
”Menjaganya berarti memastikan bahwa kehidupan itu tetap berlanjut, di bawah permukaan laut, untuk waktu yang lama setelah kita pergi,” ujar Fauzan, menyadarkan kita semua. (***)
Reporter : ANAMBAS FOUNDATION
Editor : MUHAMMAD NUR