Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Di tengah laju pertumbuhan Kota Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, alih kapal, jasa, dan pariwisata, jejak sejarah masa lalu kembali dihadirkan melalui Pameran Mini Raja Isa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nong Isa.
Pameran ini digelar di Kantor Wali Kota Batam, tepatnya di lobi lantai 1, Kamis (18/12), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Batam (HJB) ke-196.
Deretan foto dan narasi sejarah disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Pameran ini mengajak pengunjung menelusuri perjalanan Raja Isa alias Nong Isa, tokoh yang dikenal sebagai tonggak awal pemerintahan di Batam.
Dari sosok inilah, benang merah sejarah Batam mulai dirajut hingga berkembang menjadi kota seperti yang dikenal saat ini.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pameran mini tersebut bukan sekadar ruang pamer, melainkan ruang interaksi dan edukasi sejarah bagi masyarakat.
“Melalui visual dan narasi sejarah, masyarakat diajak memahami bahwa Batam memiliki akar sejarah yang kuat dan tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh masa lampau. Penyajian dua bahasa juga menjadi upaya agar kisah Batam dapat dipahami lintas generasi dan lintas bangsa,” ujar Ardiwinata.
Menurutnya, kehadiran pameran tersebut membuat peringatan Hari Jadi Batam tahun ini terasa lebih informatif dan bernilai edukatif, terutama bagi generasi muda.
“Dengan pameran foto mini ini, kami ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat Batam, khususnya para pelajar, tentang sejarah Nong Isa. Bahkan, kami juga menampilkan sketsa wajah Nong Isa yang merupakan koleksi Museum Batam Raja Ali Haji,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menjelaskan penetapan Hari Jadi Batam melalui proses kajian sejarah yang panjang dan melibatkan sejumlah seminar.
“Dari tiga kali seminar yang dilaksanakan saat itu, dengan Bapak Amsakar Achmad sebagai ketua tim—yang kini menjabat Wali Kota Batam—disepakati tanggal 18 Desember 1829 sebagai Hari Jadi Batam. Kesepakatan ini kemudian ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Batam,” kata Samson.
Ia menilai Pameran Mini Raja Isa menjadi sarana penting dalam memperkuat edukasi sejarah sekaligus menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap identitas dan warisan budaya Batam.
“Sejarah Batam perlu terus dikenalkan, agar masyarakat memahami dari mana kota ini bermula dan bagaimana prosesnya hingga berkembang seperti sekarang,” ujarnya.
Melalui Pameran Mini Raja Isa alias Nong Isa, sejarah Batam tidak hanya tersimpan dalam buku atau arsip, tetapi dihadirkan kembali ke ruang publik—menjadi pengingat bahwa kemajuan hari ini berangkat dari jejak langkah masa lalu. (*)
Reporter : RATNA IRTATIK
Editor : GALIH ADI SAPUTRO