Buka konten ini
TANJUNGPINANG (BP) – Sebanyak 13.622 pengangguran di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tercatat putus asa mencari pekerjaan. Kondisi tersebut terjadi karena mereka merasa kecil kemungkinan mendapatkan pekerjaan di daerah ini.
Data tersebut berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau. Ribuan pengangguran yang menyerah tersebut merupakan penduduk usia kerja, yakni 15 tahun ke atas.
“Mereka adalah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan,” kata Humas BPS Kepri, Resa Surya Utama, kepada Batam Pos, Minggu (14/12).
Resa menjelaskan, jumlah pengangguran yang putus asa mengalami kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan Sakernas Agustus 2023, jumlah pengangguran putus asa tercatat sebanyak 8.635 orang.
“Jika dibandingkan, terjadi kenaikan sebesar 7,47 persen pada Agustus 2024,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi
Kepri mengaku tidak memiliki data rinci terkait jumlah pengangguran yang telah putus asa mencari kerja. Data tersebut sepenuhnya berada di BPS.
“Data pengangguran yang putus asa mencari kerja adanya di BPS,” ujar Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kepri, Suryadi.
Ia menyebutkan, jumlah pengangguran di Provinsi Kepri saat ini mencapai sekitar 65 ribu orang. Kelompok usia muda atau Generasi Z menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran, yakni sekitar 60 persen atau sekitar 39 ribu orang.
Sementara jumlah pencari kerja yang terdata di Disnakertrans Kepri mencapai 29.295 orang. Rinciannya, Batam sebanyak 26.412 orang, Bintan 1.607 orang, Tanjungpinang 712 orang, Karimun 368 orang, Anambas 181 orang, Lingga 111 orang, dan Natuna empat orang.
Menurut Suryadi, para pencari kerja tersebut tercatat karena mengurus kartu kuning atau kartu pencari kerja di Dinas Tenaga Kerja masing-masing kabupaten/kota.
“Namun, yang tidak terdaftar belum tentu tidak mencari kerja,” katanya.
Ia menambahkan, mayoritas pengangguran yang putus asa berasal dari lulusan SMA dan SMK. Setiap tahun, sekitar 32 ribu pelajar lulus dari SMA/SMK di Kepri. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sementara 40 persen lainnya langsung masuk ke pasar kerja.
Namun, keterbatasan lapangan pekerjaan serta tingginya persaingan, termasuk masuknya pencari kerja dari luar daerah, membuat angka pengangguran lulusan SMA/SMK berpotensi terus meningkat.
“Bahkan tahun depan diperkirakan bertambah lagi. Biasanya setelah dua hingga tiga tahun mencari kerja tanpa hasil, mereka menjadi frustrasi dan akhirnya menyerah,” pungkasnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY