Buka konten ini

Kebahagiaan sederhana menemani hari libur sejumlah bocah yang tinggal di wilayah tanpa pusat hiburan megah. Anak-anak Tanjung Momong di Anambas misalnya, mereka memilih laut sebagai halaman bermain mereka. Jongkong rakitan menjadi kapal petualang yang mengajarkan keberanian, persahabatan, dan keceriaan yang tulus.
MATAHARI pagi menembus celah awan, memantulkan kilau keemasan di permukaan air laut yang tenang di Tanjung Momong, Desa Tarempa Timur, Minggu (30/11). Setelah dua hari diterjang cuaca buruk, pagi itu terasa seperti hadiah yang lama dinanti. Anak-anak pun kembali ke laut, membawa jongkong rakitan mereka, tawa lepas mereka bersatu dengan hembusan angin pesisir.
Di atas jongkong sederhana itu, Randi, Bagas, dan Hairul tersenyum lebar, menatap perairan luas yang menjadi “halaman rumah” mereka. Bagi masyarakat Anambas, laut bukan sekadar batas wilayah; ia adalah halaman rumah, ruang belajar, ruang bermain, sekaligus sumber kehidupan. Ketika akhir pekan tiba, warga tidak perlu berpikir panjang untuk mencari hiburan.
Pantai, air terjun, atau sekadar memancing dari tepian dermaga sudah cukup untuk menghadirkan kebahagiaan.
Randi, 10 tahun, memulai hari dengan penuh antusias. “Alhamdulillah om, laut tenang, langit pun cerah. Bisa kami main laut mancing,” ujarnya polos sambil tersenyum lebar.
Bersamanya, Bagas dan Hairul sudah berdiri di pinggir bebatuan, menunggu gelombang kecil mereda sebelum jongkong mereka diturunkan ke air. Jongkong itu sederhana: terbuat dari potongan drum plastik yang dibelah dua dan beberapa balok kayu agar tetap stabil mengapung. Namun bagi ketiga anak itu, perahu mini itu adalah kapal petualang yang bisa membawa mereka ke mana saja.
“Kami ya macam ini om, kalau libur sekolah mancing pakai jongkong,” kata Randi sambil menunjuk perahu kecil mereka. Tidak ada nada mengeluh, tidak ada rasa iri kepada anak-anak di kota lain yang mungkin menghabiskan hari libur di tempat permainan modern. Bagi mereka, memancing bukan sekadar kegiatan mengisi waktu. Ada kebanggaan tersendiri ketika kail mereka disambar ikan.
“Lumayan, ikan bisa kasih mamak untuk lauk di rumah,” tambahnya.
Bagas yang sejak tadi memegang dayung pendek menimpali sambil terkekeh pelan.
“Seronok om, kalau dapat ikan besar. Kita macam juara,” ujarnya. Matanya berbinar ketika membayangkan hasil tangkapan yang memuaskan.
Tidak ada rasa malu atau sungkan dalam diri mereka. Bermain di laut, berjemur di tepi pantai, atau menyelam dengan kacamata buatan sendiri adalah hal yang lumrah. Mereka tumbuh dalam budaya yang dekat dengan laut, sehingga setiap aktivitas yang berhubungan dengan air sudah menjadi bagian dari identitas mereka sehari-hari.
“Daripada main handphone, jenuh juga,” ujar Randi sambil mengangkat bahu.
Ia menyadari bahwa tidak banyak pilihan hiburan di sini, tapi justru keterbatasan itulah yang membuat mereka lebih sering berinteraksi dengan alam. “Kalau nak berjalan, ya nak berjalan ke mana? Sini mana ada mall macam di Batam,” lanjutnya, terselip nada gurauan, tapi juga jujur tentang realitas hidup di pulau-pulau kecil.
Di balik celetukan itu, tersimpan keindahan. Anak-anak ini tumbuh dengan cara yang mungkin sudah jarang ditemui, lebih akrab dengan laut dibanding layar gawai.
Ketiganya kemudian mendorong jongkong mereka ke air. Ombak kecil menyambut, dan dalam hitungan detik mereka sudah mengayuh perlahan menuju titik favorit untuk memancing. Tubuh mereka tampak mungil di atas perahu rakitan itu, namun keberanian mereka seolah menyaingi luasnya lautan.
Suara mereka masih terdengar dari kejauhan, kadang bercanda, kadang saling mengejek karena kail tak kunjung disambar. Namun inilah bentuk kebahagiaan yang paling asli, tak dibuat-buat, tak dipoles. Masyarakat sekitar sudah terbiasa melihat anak-anak seperti Randi menghabiskan waktu di laut. Itu bagian dari pola kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Laut adalah guru pertama bagi banyak anak di Anambas.
Ketika kota-kota besar sibuk mengejar hiburan modern, anak-anak Tanjung Momong menemukan kesenangan dari hal paling sederhana: badai mereda, langit cerah, dan kesempatan untuk kembali bermain di lautan luas. Jongkong sederhana menjadi saksi perjalanan mereka, sekaligus lambang kebahagiaan yang tidak ternilai.
Momen seperti ini mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka adalah kebebasan kecil yang sangat berharga. Kebebasan untuk belajar tentang alam, tentang persahabatan, dan tentang hidup. Ketika matahari semakin tinggi, tiga anak itu masih sibuk dengan kail dan umpan mereka. Jongkong perlahan mengikuti irama air, menandai petualangan kecil yang setiap hari memberi pelajaran berharga bagi anak-anak di Anambas.
Di sini, tidak ada pusat hiburan megah, tetapi ada sesuatu yang lebih berharga: anak-anak yang tumbuh bersama alam, laut yang selalu setia menjadi saksi, dan tawa lepas yang mengajarkan kebahagiaan sederhana. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : RATNA IRTATIK