Buka konten ini

KENYA (BP) – Industri fast fashion kembali disorot tajam setelah berbagai laporan internasional mengungkapkan skala kerusakan lingkungan dan persoalan sosial yang ditinggalkannya. Produksi pakaian cepat dan murah yang mendorong masyarakat membeli lebih sering, kini berubah menjadi gunungan limbah tekstil yang makin sulit dikendalikan.
Dalam analisis Earth.Org, industri fast fashion disebut menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon global menjadikannya salah satu sektor yang paling mencemari bumi. Banyak pakaian dibuat dari bahan sintetis yang saat dicuci melepaskan mikroplastik. Partikel ini mengalir ke laut, mencemari ekosistem, dan mengancam kesehatan manusia.
Masalah tak berhenti di situ. Scientific American menyoroti sistem produksi yang bertumpu pada pekerja berupah rendah di negara berkembang, kerap dengan kondisi kerja buruk. Selain itu, kualitas produk yang rendah membuat pakaian cepat rusak dan dibuang hanya setelah beberapa kali dipakai.
Dampak krisis ini terlihat jelas di Kenya, yang oleh Le Monde disebut sebagai “tujuan akhir” dari limbah busana dunia. Setiap bulan sekitar 500 kontainer pakaian bekas tiba di Pelabuhan Mombasa. Namun, sekitar 40 persen di antaranya tidak layak pakai: terlalu rusak, berkualitas rendah, atau tidak sesuai kebutuhan pasar lokal. Tumpukan itu akhirnya berubah menjadi sampah yang memenuhi pasar Gikomba dan sejumlah lokasi pembuangan, bahkan kerap dibakar di area terbuka, menambah polusi udara dan tanah.
Upaya kelompok lokal seperti Africa Collect Textile (ACT) dan AfroWema memang terus berjalan. Mereka mengolah limbah pakaian menjadi produk baru, namun kapasitasnya masih jauh dari cukup untuk mengimbangi derasnya aliran tekstil bekas setiap bulan.
Terutama bahan berbasis plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai.
Sementara itu, Textile World menilai situasi ini tak bisa terus dibiarkan. Industri dinilai harus segera melakukan perubahan besar mulai dari pemakaian bahan yang lebih bertanggung jawab, proses produksi yang transparan, hingga regulasi yang menekan produksi berlebihan.
Rentetan temuan tersebut menegaskan bahwa persoalan fast fashion bukan sekadar soal tren, melainkan bagian dari krisis global yang memengaruhi lingkungan, kesehatan, dan kehidupan masyarakat. Tanpa perubahan dari konsumen, industri, hingga pemerintah, beban limbah dan dampak ekologis akan terus menumpuk—sementara negara-negara seperti Kenya tetap menjadi wilayah yang menanggung akibat paling besar dari konsumsi pakaian dunia. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY