Buka konten ini

BATAM (BP) – Guru SMP Negeri 28 Batam, Annisa Aginta S.Pd, terpilih mengikuti program pengembangan pendidikan di Tiongkok yang difasilitasi Kementerian Sekretariat Negara melalui Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri (KTLN). Di usia 39 tahun, Annisa menjadi satu dari sedikit pendidik Indonesia yang lolos untuk mengikuti pelatihan manajemen pendidikan di empat kota di Negeri Tirai Bambu.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam peningkatan kapasitas guru serta tata kelola sekolah di kawasan Asia. Selain Indonesia, sejumlah negara ASEAN seperti Myanmar, Laos, dan Thailand juga ambil bagian.
“Ini baru pertama kali ada program khusus guru yang diselenggarakan di Tiongkok,” ujar Annisa saat ditemui di sela aktivitas mengajarnya, Kamis (27/11).
Ia menjelaskan, proses seleksi dimulai dari pengumpulan portofolio, CV, hingga penulisan esai terkait pencapaian dan praktik baik yang telah diterapkan di sekolah. Seluruh dokumen diverifikasi Kemensetneg sebelum diteruskan ke pemerintah Tiongkok sebagai penentu akhir.
“Saya jalani saja seperti biasa. Menulis esai berdasarkan apa yang sudah saya kerjakan di sekolah dan di luar. Yang penting percaya diri,” tuturnya.
Salah satu syarat utama adalah memiliki skor TOEFL minimal 450 dari tes resmi. Annisa mengaku sempat terkejut saat menerima pemberitahuan bahwa ia lolos seleksi administrasi tingkat nasional.
“Itu saja sudah bikin saya senang, padahal keputusan final tetap dari pihak Tiongkok,” kata ibu tiga anak ini.
Meski jumlah resmi peserta dari Indonesia tak diumumkan, Annisa menyebut hanya 11 orang yang berangkat, dari total 28 peserta internasional yang berasal dari empat negara ASEAN.
Selama hampir tiga pekan di Tiongkok, Annisa mengikuti kunjungan ke empat sekolah, mengikuti perkuliahan bersama akademisi bergelar doktor, hingga berdiskusi dengan mantan duta besar Tiongkok untuk Bangladesh. Ia juga mempelajari budaya lokal di Shandong, termasuk mengunjungi museum pendidikan.
Fokus utama program adalah manajemen sekolah. Meski tidak memiliki kewenangan mengubah sistem secara struktural, Annisa merasa banyak metode yang bisa diterapkan langsung di kelas.
“Saya tidak bisa mengatur manajemen sekolah, tapi banyak praktik baik yang bisa langsung saya bawa ke ruang belajar,” ujarnya.
Ia menyoroti cara guru di Tiongkok membentuk karakter dan kedisiplinan siswa yang berlandaskan filosofi Konfusius. Menurutnya, hal ini memiliki kesamaan nilai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, meski lebih sistematis dalam penerapannya.
Keseriusan pemerintah Tiongkok dalam membangun pendidikan juga menarik perhatiannya, termasuk pembatasan penggunaan media sosial demi menjaga fokus belajar siswa.
“Kalau dianggap mengganggu, platform bisa diblokir. Mereka benar-benar membenahi dari akar,” jelasnya.
Perhatian terhadap pendidikan inklusif juga menjadi sorotan. Anak berkebutuhan khusus difasilitasi guru khusus, bahkan mendapat layanan belajar di rumah bila diperlukan, sehingga guru reguler tidak terbebani.
Selain itu, teknologi seperti STEM, robotik, dan kecerdasan buatan telah diterapkan sejak tingkat sekolah dasar. Annisa menyebut salah satu robot anjing yang sempat viral di Indonesia ternyata dibuat oleh siswa di sekolah yang ia kunjungi.
Setiap sekolah juga dilengkapi fasilitas lengkap, mulai dari pusat olahraga hingga program bertani mingguan. Hasil panen dimanfaatkan untuk konsumsi bersama di sekolah, tanpa melibatkan pihak ketiga.
Meski seluruh program didanai penuh dari Jakarta hingga Kunming, Annisa tetap menanggung biaya perjalanan dari Batam ke Jakarta secara mandiri.
“Saya ikhlas. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menginspirasi para guru di Batam. Menurutnya, pemerintah perlu memberi perhatian lebih pada beban kerja guru yang semakin kompleks.
“Anak datang ke sekolah bukan cuma membawa buku, tapi juga masalah di rumah,” ungkapnya.
Annisa menegaskan, dukungan sistem dan kebijakan yang kuat akan memudahkan tugas guru dan memperkuat kualitas pendidikan.
“Kalau sistemnya mendukung, kerja guru jadi lebih ringan dan hasilnya juga lebih maksimal,” pungkasnya. (***)
Reporter : YASHINTA
Editor : PUTUT ARIYO