Buka konten ini

MENGADOPSI konsep tropical contemporary house, Petrichor Verandah memadukan ragam tekstur serta material khas tropis ke dalam tampilan fasad modern yang tetap kontekstual. Rumah berlokasi di kawasan Cirendeu ini dirancang dengan banyak bukaan yang berorientasi langsung ke alam, sehingga menghadirkan suasana sejuk dan terbuka.
Nama Petrichor Verandah sendiri merujuk pada aroma tanah setelah hujan yang kerap tercium dari area beranda atau taman belakang. Arsitek M. Harfansyah menghadirkan sejumlah ruang terbuka, seperti teras dan balkon, agar penghuni bisa merasakan momen relaks tersebut, sekaligus memenuhi keinginan pemilik rumah untuk memiliki area taman yang luas.
Menurut Harfansyah, keberadaan taman berperan penting dalam menciptakan sirkulasi udara serta pencahayaan alami yang lebih optimal, dibandingkan memaksimalkan seluruh lahan menjadi bangunan tertutup.
Untuk menunjang kenyamanan dan kemudahan perawatan, sisi kanan rumah dilengkapi jalur akses beratap terbuka dengan taman kecil yang memanjang dari ruang tamu hingga bagian belakang. Dua area taman ini dirancang untuk menghasilkan cross ventilation yang membuat udara segar mengalir merata ke seluruh ruangan.
Hasilnya, ruang keluarga dan ruang makan terasa sejuk meski tanpa pendingin udara. Konsep ini menekankan pemanfaatan energi alami secara maksimal, sejalan dengan prinsip hunian tropis berkelanjutan.
Bukaan berukuran besar dan elemen transparan juga membantu mengurangi penggunaan pencahayaan buatan di siang hari. Misalnya, pintu kaca model sliding yang menghubungkan ruang keluarga dengan taman samping dan belakang memungkinkan penghuni menikmati panorama hijau langsung dari dalam rumah.
Ruang keluarga dan ruang makan ditetapkan sebagai pusat aktivitas dengan konsep open plan untuk memudahkan interaksi sekaligus menciptakan kesan lega. Hampir seluruh kegiatan harian difokuskan di area ini.
Area utama tersebut terhubung dengan zona servis seperti dapur kotor, garasi, kamar asisten, dan gudang. Namun, keberadaannya tetap terpisah dari ruang tamu melalui tangga yang dibatasi dinding, menyerupai koridor agar privasi tetap terjaga.
Pemilik rumah juga menginginkan ruang tamu yang bisa difungsikan untuk pengajian berkapasitas 10–15 orang dan tetap fleksibel saat perlu diperluas, tanpa mengganggu ruang privat keluarga.
Dari sisi eksterior, karakter rumah diperkuat dengan dominasi warna gelap pada fasad, elemen motif kayu dari concrete wood, serta penggunaan atap bitumen. Kombinasi ini membentuk identitas visual yang menonjol dibandingkan lingkungan sekitar.
Fasad yang bersifat masif dirancang sebagai strategi menghadapi paparan sinar matahari dari arah timur agar suhu dalam ruangan tetap nyaman. Meski demikian, jendela tetap dihadirkan untuk memastikan cahaya alami dapat masuk secara optimal sepanjang hari.
Area pintu masuk turut menjadi perhatian khusus dengan konsep welcoming statement yang memberikan kesan hangat bagi siapa pun yang datang. Taman kecil dengan kontur miring serta dinding bata ringan bermotif menambah nilai estetika sekaligus memperkaya pengalaman ruang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO