Buka konten ini

PARA arsitek, praktisi, dan kalangan akademisi didorong untuk merancang ruang yang terbuka, setara, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui konsep arsitektur berkelanjutan yang juga memperhatikan aspek kebutuhan, keamanan, serta kenyamanan bagi penyandang disabilitas.
Adalah penting kepedulian dalam membangun kota yang ramah bagi kelompok difabel. Dalam keseharian masih sering dijumpai keterbatasan akses di berbagai bangunan, lingkungan, hingga kawasan perkotaan yang menunjukkan adanya ketidaksetaraan ruang publik bagi penyandang disabilitas.
Christie Damayanti, arsitek senior sekaligus penulis yang juga merupakan difabel survivor, membagikan pengalamannya tetap produktif berkarya meski memiliki keterbatasan fisik. Ia juga mengulas perbandingan desain arsitektur di beberapa negara yang telah menyediakan fasilitas ramah disabilitas dengan lebih optimal.
Menurut Christie, disabilitas tidak hanya merujuk pada kondisi fisik yang tampak. Banyak kelompok lain yang juga termasuk kategori ini, seperti lansia, anak-anak, serta mereka yang memiliki keterbatasan yang tidak terlihat, misalnya autisme atau gangguan pada organ dalam.
Ia menilai kantor konsultan arsitektur seharusnya dilengkapi sarana pendukung bagi penyandang disabilitas, seperti kursi roda, penutup telinga, penutup mata, tongkat, walker untuk lansia, hingga stroller untuk bayi.
Christie juga menyoroti pentingnya jalur pedestrian yang ramah difabel, dengan lebar ideal minimal dua meter serta dilengkapi guiding block atau jalur pemandu berwarna kuning untuk membantu tunanetra dalam bernavigasi.
Bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 mewajibkan pemerintah menyediakan infrastruktur yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas.
Arsitektur berkelanjutan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang tanpa merusak atau menguras sumber daya alam.
Para arsitek, praktisi, dan akademisi, diharapkan visi pembangunan fisik menuju 2030 dapat terwujud dengan mengedepankan konsep Indonesia yang inklusif dan ramah disabilitas. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO