Buka konten ini

LUMAJANG (BP) – Gunung Semeru terus mengeluarkan letusan sekunder sejak beberapa hari lalu pascaerupsi pada Rabu (19/11) pekan lalu. Letusan itu menimbulkan kepulan asap dan material vulkanik sampai ke bawah Jembatan Gladak Perak, Desa Sumberwuluh, KecamatanCandipuro, kemarin.
Sejak Minggu (23/11), letusan Semeru yang menyemburkan asap putih kembali muncul dengan ketinggian beragam dari 500 hingga 700 meter. Letusan sekunder itu juga menerbangkan material abu vulkanik sampai ke Gladak Perak, jembatan penghubung Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.
Kondisi ini sempat membuat kawasan tersebut mencekam. Sebab, kepulan asap terbentuk begitu cepat. Bahkan, banyak warga yang memadati jembatan karena penasaran berhamburan menyelamatkan diri karena asap makin mendekat.
Status Semeru sampai dengan kemarin pukul 18.00 masih di Level IV atau Awas. Karena itu, warga diminta tetap waspada dengan potensi kebencanaan yang masih mengintai.
Sementara itu, kepolisian melakukan buka tutup kawasan Gladak Perak untuk menjaga situasi tetap aman. “Jalurnya tetap situasional dan diberlakukan buka tutup,” kata petugas Satlantas Lumajang Bripka Arik.
Kembali Sekolah
Pemerintah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mulai mewajibkan siswa-siswi SDN Supiturang 02 yang sekolahnya hancur terdampak erupsi Gunung Semeru, kembali aktif bersekolah sejak Senin (24/11). Proses pembelajaran digabung dengan para murid SDN 01 Supiturang.
Pantauan Radar Jember Grup Jawa Pos (Batam Pos Group), hari pertama kegiatan belajar mengajar diikuti puluhan siswa dari kedua sekolah. Sebagian besar siswa datang tanpa mengenakan seragam lengkap dan terpaksa memakai pakaian bebas seperti kaus, celana panjang, maupun baju muslim.
Sebab, seragam mereka hilang bersama hancurnya rumah buntut banjir lahar dan material vulkanik yang dimuntahkan Semeru. SDN 02 Supiturang berada di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, salah satu dusun yang paling parah terdampak erupsi. Puluhan rumah warga rata dengan tanah, begitu pula bangunan sekolah.
Peralatan sekolah yang dimiliki juga terbatas. Beberapa tak punya alat tulis. Beruntung, siswa-siswi dari SDN 01 Supiturang rela berbagi peralatan tulis mereka.
Pengawas SDN 02 Supiturang Nur Zaenab menjelaskan, keputusan untuk bergabung dengan sekolah lain itu dilakukan untuk meng-cover proses pembelajaran siswa.
“Sejauh ini digabung, tiap ruang kelas masih bisa menampung siswa SDN 02 Supiturang,” ucapnya.
Total ada 92 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 yang belajar bersama dengan keterbatasan yang ada.
Sebagian dari mereka terpaksa belajar dengan cara lesehan. Sementara itu, jumlah pengajar dalam masing-masing kelas juga dilakukan oleh dua tenaga pendidikan di masing-masing sekolah.
“Jadi, setiap siswa bergabung sesuai tingkatan kelasnya, termasuk setiap satu kelas terdapat dua guru dari masing-masing sekolah. Jadi, anak-anak tetap diawasi oleh guru masing-masing,” kata Nur Zaenab. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK