Buka konten ini

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial
PRESIDEN Prabowo Subianto duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya merapat di pangkuan. Matanya mengikuti setiap gerak sang guru yang sedang mengajar di depan kelas menggunakan smartboard. Sementara air wajahnya memperlihatkan perpaduan antara rasa ingin tahu dan empati.
Di sebelahnya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti duduk tenang, tetapi sorot matanya menggambarkan kekaguman yang sama. Keduanya beberapa kali saling membisikkan komentar pendek mengenai cara guru itu mengelola ritme pembelajaran dan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.
Kelas berjalan hidup. Murid-murid merespons dengan cepat, bergiliran menjawab pertanyaan sambil sesekali melirik layar yang menampilkan bagan dan ilustrasi. Ketika seorang siswa menjawab dengan lantang, Prabowo merapatkan kedua telapak tangan dan bertepuk. ’’Salut,’’ ujarnya pelan, memecah kesunyian pendek yang menyertai keberhasilan siswa itu.
Momen kecil tersebut terekam saat Presiden Prabowo bersama Mendikdasmen Abdul Mu’ti meninjau pembelajaran di SMPN 4 Kota Bekasi, Senin (17/11/2025), yang telah memanfaatkan interactive flat panel (IFP) sebagai sarana belajar modern.
Prabowo seperti ingin menegaskan bahwa di tengah derasnya era kecerdasan artifisial, peran guru tetap menjadi pusat nalar pendidikan nasional. Arah transformasi ke depan harus dibangun dengan menempatkan guru sebagai poros perubahan itu sendiri.
Kado untuk Guru
Tahun 2025 menjadi salah satu fase ketika Prabowo memberikan ’’kado’’ bagi guru –sebuah rangkaian kebijakan yang menyentuh isu paling mendasar: kesejahteraan dan kompetensi. Sebuah langkah yang ingin menunjukkan bahwa ini bukan sekadar omon-omon atau gestur seremonial, melainkan komitmen untuk membenahi fondasi pendidikan dari aktor utamanya. Layaknya kelas yang dia saksikan hari itu, kebijakan-kebijakan ini menggambarkan sebuah keyakinan bahwa pendidikan hanya dapat bergerak maju ketika guru berada pada posisi yang tepat: dihargai, diperhatikan, dan diberi ruang untuk berkembang.
Pemerintah merilis tiga bentuk dukungan utama: insentif bagi guru honorer, bantuan subsidi upah bagi pendidik nonformal, serta afirmasi peningkatan kualifikasi akademik bagi guru yang belum S-1 atau D-4. Kebijakan tersebut memerlukan konteks. Selama puluhan tahun, guru honorer bekerja dalam ketidakpastian –jam mengajar penuh, pendapatan kecil, hingga status kerja rapuh.
Pendidik nonformal, seperti guru PAUD dan pengelola PKBM, menopang fondasi literasi bangsa, tetapi kerap berada di luar sorotan. Dan masih ada ribuan guru yang belum memiliki kualifikasi akademik memadai, baik karena keterbatasan akses maupun beban hidup yang menunda kesempatan belajar.
Insentif tahun 2025 memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, ia merupakan pengakuan moral, sebuah isyarat bahwa negara melihat beban yang selama ini dipikul para guru. UNESCO dalam Global Education Monitoring Report 2024 menyebutkan, kualitas pendidikan tidak mungkin meningkat jika guru dibiarkan bekerja dengan tekanan struktural yang tidak proporsional.
Pernyataan itu sejalan dengan pemikiran tokoh pendidikan kontemporer Pasi Sahlberg yang menekankan bahwa kualitas pendidikan hanya dapat tumbuh jika kesejahteraan, kapasitas, dan martabat guru bergerak naik secara bersamaan.
Karena itu, kebijakan kesejahteraan berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kompetensi. Guru tidak hanya diberi bantuan finansial, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan keterampilan baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Program pelatihan pembelajaran mendalam, literasi digital, koding, serta pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pedagogi menjadi bagian dari kurikulum pelatihan guru nasional.
Pembaruan itu bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan cara memperkuat peran guru sebagai fasilitator pemikiran kritis dan kreativitas murid.
Futuris pendidikan seperti Sugata Mitra berkali-kali menekankan bahwa teknologi tidak akan menggantikan guru, tetapi memperluas cakrawala pembelajaran ketika guru memiliki kompetensi digital yang kuat.
Pendapat itu beresonansi dengan situasi Indonesia: teknologi dapat mempercepat, tetapi guru tetap pusat ekosistem belajar. Penguatan kompetensi mereka menjadi syarat mutlak agar transformasi pendidikan tidak hanya berhenti pada perangkat, tetapi menjangkau esensi: kualitas interaksi belajar.
Guru Pusat Transformasi
Kado Prabowo memiliki lapisan makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya kebijakan, melainkan sinyal politik pendidikan. Negara memulai dari guru, bukan dari infrastruktur, bukan dari perangkat mahal, dan bukan dari jargon futuristis. Ini menandai perubahan cara pandang: bahwa pembangunan pendidikan adalah pembangunan manusia dan guru adalah fondasinya. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana pendidikan kerap bergeser ke teknologi. Prabowo melalui kebijakan ini mengembalikan fokus utama bahwa ruang kelas hidup bukan karena layar, melainkan karena kehadiran guru yang stabil lahir batinnya.
Namun, jalan reformasi masih panjang. Insentif masih sebatas bantuan sementara; persoalan status guru honorer belum sepenuhnya terselesaikan. Pelatihan digital yang luas tetap membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar tidak berhenti sebagai formalitas. Redistribusi guru ASN yang akan berjalan pada 2026 perlu diawasi dengan ketat untuk menjamin keadilan antardaerah. McKinsey dalam laporan The Future of Teaching Workforce in Asia (2023)mengingatkan bahwa transformasi pendidikan hanya efektif jika reformasi kesejahteraan, kompetensi, dan tata kelola berjalan dalam satu tarikan napas.
Butuh konsistensi, keberanian politik, dan sensitivitas terhadap realitas lapangan. Di sisi lain, para guru pun perlu terus belajar –bukan sebagai tuntutan administrasi, melainkan bagian dari profesionalisme yang terus bergerak. Hubungan dialektis antara negara dan guru ini harus dijaga: negara memperkuat guru dan guru memperkuat masa depan bangsa.
Ketika Prabowo bangkit dari kursinya meninggalkan ruang kelas yang telah dia saksikan dengan penuh perhatian, adegan itu menutup lingkaran makna: pendidikan Indonesia bertumpu pada interaksi manusia –antara guru yang mengajar dengan ketekunan dan murid yang belajar dengan antusias. Kado yang dia berikan pada 2025 ini bukan garis akhir, melainkan titik berangkat menuju arah baru pendidikan yang lebih manusiawi.
Dalam rangka memperingati Hari Guru 25 November 2025, saatnya mendorong semangat untuk terus menempatkan guru sebagai poros perubahan dan negara terus menjaga komitmennya agar Indonesia selalu punya alasan untuk berharap. (*)