Buka konten ini

Rasa panas di dada, perut perih, hingga mual sering dianggap sebagai “maag”, padahal keluhan itu bisa menandakan gangguan berbeda seperti GERD (gastroesophagia, reflaks deases) atau naiknya asam lambung. Dokter mengingatkan, meski gejalanya mirip, masing-masing kondisi memiliki penyebab dan risiko yang tidak sama. Pola makan tak teratur, konsumsi kafein berlebihan, hingga stres menjadi pemicu utama yang tak boleh diremehkan.

BANYAK orang mengira gejala maag, asam lambung, dan GERD (gastroesophageal reflux disease) itu sama, padahal ketiganya memiliki perbedaan yang penting untuk diketahui. Menurut dr. Ninda Septia Yuspar, Sp.PD-KGEH, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi, perbedaan utama terletak pada gejala dan penyebab masing-masing kondisi.
Dalam sesi Live Instagram yang digelar pada Jumat (7/11), dr. Ninda menjelaskan bahwa GERD ditandai dengan rasa panas atau terbakar di dada, serta asam yang naik ke tenggorokan (regurgitasi).
Sementara itu, maag atau dispepsia, lebih sering dirasakan sebagai perut kembung atau begah tanpa ada asam yang naik. “Asam lambung bisa menyebabkan GERD, namun jika hanya terasa kembung dan nyeri ulu hati, kemungkinan besar itu dispepsia,” terang dr. Ninda.
Namun, dr. Ninda menekankan pentingnya pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab keluhan. “Kondisi seperti maag atau GERD yang tidak kunjung sembuh bisa menandakan masalah yang lebih serius, bahkan potensi kanker lambung. Jika gejala berlangsung lama, penting untuk memeriksakan diri ke dokter,” tambahnya.
Penyebab Umum dan Gaya Hidup yang Harus Diwaspadai
Faktor penyebab yang umum untuk GERD dan dispepsia adalah beberapa jenis makanan. “Pasien yang sering mengonsumsi makanan berlemak, cokelat, dan keju sebaiknya lebih berhati-hati. Jenis makanan ini dapat melemahkan klep atau lower esophageal sphincter (LES) yang berfungsi menahan asam lambung agar tidak naik,” jelas dr Ninda.
Ia menambahkan, kebiasaan merokok juga menjadi salah satu faktor utama. Asap rokok yang masuk ke tenggorokan dapat menyebabkan LES melemah. Ketika klep ini tidak menutup dengan baik, asam lambung mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan keluhan panas di dada, perih, atau rasa asam di mulut, yang merupakan gejala khas GERD.
Selain makanan tertentu dan merokok, faktor risiko lain yang sering ditemukan adalah obesitas. Kelebihan berat badan meningkatkan tekanan pada perut sehingga semakin melemahkan LES.
“Pada pasien dengan GERD yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) tinggi atau termasuk obesitas, kami biasanya memberikan edukasi mengenai cara menurunkan berat badan agar mencapai kondisi ideal,” kata dr. Nginda.
Dengan demikian, faktor risiko GERD yang perlu diwaspadai antara lain kebiasaan merokok, konsumsi cokelat, keju, dan makanan berlemak, serta obesitas.

Menurut dr Ninda, ada juga faktor stres. Kondisi ini sangat bergantung pada gaya hidup dan kemampuan seseorang mengelola stres. Mengapa ketika kita sedang stres tiba-tiba lambung ikut bermasalah? Hal itu berkaitan dengan sistem yang disebut brain–gut axis, yaitu hubungan antara otak dan saluran cerna. Ketika otak mengalami tekanan atau pikiran berat, lambung juga merespons dan memicu keluhan.
Selain stres, obat-obatan tertentu juga dapat memperburuk kondisi lambung. Misalnya, seseorang sedang sakit kepala lalu mengonsumsi obat antinyeri. Beberapa obat antinyeri diketahui dapat mengiritasi lambung. Karena itu, pasien perlu bijak memilih obat, terutama jika sedang mengalami gangguan lambung. Pilih obat antinyeri yang aman untuk lambung dan konsumsi sesuai anjuran
Bagi yang sudah memiliki gejala, dr. Ninda menyarankan untuk mengatur pola makan dengan porsi kecil namun sering, serta menghindari tidur setelah makan. “Setelah makan, usahakan beristirahat selama 2-3 jam sebelum tidur agar asam lambung tidak naik,” ujarnya.
Kadang, ada kondisi yang sebelumnya tidak menimbulkan keluhan, tiba-tiba menjadi nyeri. Karena itu, dokter perlu melakukan penyaringan awal (screening).
Jika gejala GERD atau dispepsia muncul pada usia di atas 45 tahun, padahal sebelumnya tidak pernah ada masalah, kita harus waspada.
“Salah satu kemungkinan yang perlu dicurigai adalah adanya penyakit serius, seperti keganasan lambung. Tumor pada lambung dapat menimbulkan keluhan serupa, sehingga perlu dipastikan penyebabnya,” kata dr Ninda.
Pada pasien berusia di atas 45 tahun yang baru mengalami gejala seperti mual, muntah, atau nyeri lambung, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan. Untuk mengetahui penyebab pastinya, dokter biasanya menganjurkan tindakan endoskopi atau gastroskopi.
Gejala yang berulang, seperti mual dan muntah, tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah dispepsia tersebut bersifat organik atau fungsional. Dispepsia organik menunjukkan adanya masalah pada organ, misalnya kelainan atau tumor di lambung, sedangkan dispepsia fungsional tidak berhubungan dengan kelainan organ.
Karena itu, pada usia 45 tahun ke atas, jika keluhan lambung yang sebelumnya tidak pernah dirasakan tiba-tiba muncul dan sering berulang, pemeriksaan lanjutan sangat dianjurkan. Lebih baik langsung menemui dokter spesialis sejak awal, daripada mendiagnosis sendiri dan mengonsumsi obat tanpa arahan. Penanganan yang tepat sejak awal membantu mendeteksi apakah ada masalah yang lebih serius.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Gejala Kambuh?
Pada pasien yang sudah mengalami gejala yang mengganggu, dr. Ninda juga menyarankan pemeriksaan lebih lanjut melalui endoskopi untuk memastikan ada tidaknya kelainan atau infeksi pada lambung, seperti infeksi bakteri Helicobacter pylori. Untuk pasien yang memiliki gejala pada malam hari (nocturnal), dokter mungkin akan menyesuaikan pengobatan untuk mengurangi kambuhnya gejala tersebut.
Dr. Ninda mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala, apalagi jika sudah berlanjut atau terasa semakin parah. Pengelolaan yang tepat dengan pemeriksaan dokter akan membantu mencegah komplikasi lebih lanjut.
Penanganan yang Tepat, Kunci Menghindari Komplikasi
Akhir kata, dr. Ninda menegaskan bahwa pengelolaan yang tepat sangat penting. “Penyakit seperti GERD atau maag memang bisa kambuh, tapi dengan penanganan yang benar dan perubahan gaya hidup, kita bisa mencegah kekambuhan dan komplikasi yang lebih serius,” ujarnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY