Buka konten ini

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Batam Kota.
Anggota Korp Muballigh Muhammadiyah Kota Batam.
MUHAMMADIYAH adalah salah satu organisasi sosial kemasyarakatan terkemuka di Indonesia. Dilihat dari milad kelahirannya Muhammadiyah 33 tahun lebih tua dari lahirnya Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November tahun 1912 sehingga pada tahun 2025 milad Muhammadiyah telah memasuki usia 113 tahun. Sementara itu usia Republik Indonesia dari sejak diproklamirkan pada tahun 1945 telah berusia 80 tahun. Pada tahun ini Muhammadiyah mengangkat tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Tema ini ini diambil bertujuan memperkuat upaya Muhammadiyah dalam meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat secara utuh, serta mendorong dukungan terhadap kebijakan pemerintah untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan merata sesuai UUD 1945 dan Pancasila.
Dari awal berdirinya Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih besar bagi pra dan pasca lahirnya Negara Indonesia sebagai organisasi sosial yang modernis dan progresif. Setidaknya Muhammadiyah lahir untuk membawa misi membangun kembali kejayaan Islam yang pernah mercusuar pada era abad ke 7 sampai dengan abad ke 13 Masehi. Dalam konteks keindonesiaan Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pembaharuan dan pemurnian menuju intelektualitas dalam gerakan sosial kemasyarakatan yang menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat.
Tema 113 tahun milad Muhammadiyah adalah “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Tema ini setidaknya merupakan tindakan nyata pengejawantahan isi pembukaan Undang-undang Dasar 1945 “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.
Kalimat “mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang” diwujudkan oleh Muhammadiyah dengan membawa Indonesia memasuki gerbang kesejahteraan. Jadi, kalau dulu para pendiri bangsa telah mengantarkan rakyat Indonesia ke depan “pintu gerbang” kemerdekaan, maka kini Muhammadiyah telah memposisikan dirinya menyambut dan membimbing rakyat di negeri ini memasuki pintu gerbang pembangunan bangsa.
Dengan amal usahanya di berbagai bidang Muhammadiyah menunjukkan komitmen kebangsaannya dengan nilai-nilai sosial keislaman. Muhammadiyah hadir dengan karya nyata merawat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi “Baldatun Thayyibatun Wa rabbun Ghafur”, yaitu “Suatu negara yang indah, bersih suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun”.
Dalam konteks politik global Muhammadiyah hadir di Indonesia sebagai kekuatan peradaban melalui amal usahanya, khususnya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Dalam tesis Samuael P. Huntington (seorang ilmuwan politik Amerika Serikat) yang akrab dikenal “The Clash Of Civilizations” bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca-Perang Dingin. Namun dalam perkembangannya menurut Huntington bahwa benturan dimasa yang akan datang tidak lagi pada konflik ideologi, politik, dan ekonomi, namun pada unsur peradaban. Dalam buku “The Future Of Word Order” ada tujuh atau delapan peradaban besar dunia yang akan saling berhadap-hadapan untuk membangun kekuasaan, yaitu peradaban Barat, Confusian, Jepang, Islam, Hindu, Slavia Ortodok, Amerika Latin dan juga Afrika. Dari semua peradaban tersebut, Islam dan Confusianisme merupakan dua peradaban yang sangat menonjol untuk mengatasi peradaban Barat sebagai kekuatan peradaban alternatif.
Terlepas dari perdebatan keakuratan tesis Huntington tersebut, Islam Indonesia dengan Muhammadiyah sebagai organisasi terkemuka menjadi kekuatan dalam membangun peradaban Islam, baik kini maupun di masa yang akan datang. Fondasi peradaban Islam yang dibangun oleh Muhammadiyah bertitiktolak pada surat Al-Imran ayat ke 110 : “kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta’murûna bil-ma‘rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minûna billâh”, (Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah).
Almarhum Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A (Sejarawan, Sasterawan dan juga pernah menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah) menganalisis bahwa agen perubahan dalam konsep Islam adalah “umat”, yaitu komunitas Islam yang tidak boleh tinggal dalam pergulatan sejarah. Adapun identitas komunitas tersebut adalah: ”ta’murûna bil-ma‘rûf, yaitu menyuruh yang makruf, tan-hauna ‘anil-mungkar”, yaitu mencegah yang munkar. Tu’minûna billâh, yaitu beriman kepada Allah. Dalam konteks kekinian “Menyuruh kepada yang makruf” akan berarti humanisasi dalam budaya, mobilitas dalam kehidupan sosial, pembangunan dalam ekonomi dan rekulturasi dalam politik.
“Mencegah dari yang munkar” berarti berusaha memberantas kejahatan. Aktualitanya misalnya Muhammadiyah menjadi kekuatan sosial yang turut dalam pemberantasan narkotika dan pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
“Beriman Kepada Allah” berarti transendensi. Kedudukan transendensi sangat penting agar gerakan sosial umat tidak terjebak dalam materialisme dan sekularisme. Muhammadiyah dalam gerakannya menjadi agen Umat Islam yang memasukkan kesadaran spiritual kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun umat.
Berdasarkan kompilasi data terkini yang dikutip dari Seasia Stats, terdapat sepuluh organisasi keagamaan dengan kekayaan terbesar di dunia, bahwa Muhammadiyah menempati peringkat keempat organisasi Islam Sunni asal Indonesia dengan memiliki kekayaan sekitar Rp454,24 triliun. Tiga peringkat sebelumnya ditempati oleh The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, Catholic Church in Germany, dan Tirumala Tirupati Devasthanams (TTD).
Daftar ini disusun berdasarkan perkiraan nilai aset dan investasi yang mereka miliki, mencakup berbagai agama dan denominasi yang memiliki aset finansial secara signifikan. Keberadaan finansial Muhammadiyah yang kuat mencerminkan peran besar organisasi Islam dalam berbagai sektor dengan membangun jaringan pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai amal usaha untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Geliat Muhammadiyah di Batam
Dalam konteks lokal kedaerahan di Batam Muhammadiyah juga telah hadir sebagai dalam upaya menjadikan Kota Batam sebagai Kota Baru yang modern, berkemajuan menuju bandar dunia madani. Sejak kiprahnya pada dekade tahun 1990-an Muhammmadiyah Kota Batam telah menunjukkan geliat peransertanya dalam menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan, pendidikan dan rehabilitasi sosial.
Menyongsong tasyakkuran Milad Muhammadiyah tahun 2025, Pimpinan Daerah Muhammadiyah mengambil tema “Islam Berkemajuan Untuk kesejahteraan Umat” : 113 tahun Muhammadiyah Bergerak, Mencerahkan, Memberdayakan, dan Mensejahterakan.
Tema tersebut tentunya tidak berlebihan karena Muhammadiyah di kota Batam telah ikut berperanserta dalam perkembangan kota Batam yang semakin modern. Kini Muhammadiyah Kota Batam telah memiliki sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di beberapa di tempat di kota Batam, seperti Batuaji, Sagulung, Nongsa, Sekupang dan Batam Kota. AUM Muhammadiyah tersebut meliputi layanan fasilitas pendidikan dari mulai Taman Kanak-Kanak (Bustanul Athfal), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki 2 Perguruan Tinggi, yaitu: Sekolah Tinggi Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Internasional Muhammadiyah Batam. Muhammadiyah Kota Batam juga memiliki sebuah Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU). Lembaga Zakat ini juga sudah terbentuk di beberapa Pimpinan Ranting Muhammadiyah yang tersebar di Kota Batam yang siap bergerak menjemput dan menghimpun Zakat, Infaq dan sedekah dari masyarakat Batam.
Milad Muhammadiyah ke 113 tahun 2025 harus dimaknai sebagai bentuk komitmen Muhammadiyah ikut berperan aktif mengisi 80 tahun Indonesia Merdeka, ”Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” melalui Tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”.
Sedangkan dalam kontek lokal di Batam Muhammadiyah hadir sebagai agen organisasi yang progresif dalam mewujudkan Kota Batam sebagai Bandar dunia yang madani. Kemajuan modernitas yang dibawa Muhammadiyah adalah modernitas rasional yang dilandasi nilai-nilai religiusitas yang utuh dalam bentuk spiritual sejati kepada Tuhan. Misi kamajuan modern inilah yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah dalam membangun peradaban bangsa.
Terakhir, sebagai penutup dalam tulisan ini ada beberapa catatan yang dapat dijadikan sebagai refleksi dalam memperingati 113 tahun milad Muhammadiyah taun 2025. Pertama, meneguhkan Muhammadiyah sebagai lem perekat bagi kemajemukan atau kebhinekaan suku, bangsa, ras dan golongan yang ada di Indonesia.
Kehadiran Organisasi Muhammadiyah di seluruh pelosok negeri ini tentunya kamin memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan Negara. Ikatan sebagai satu bangsa dan negara direkatkan dengan lem ukhuwah islamiyah. Pada moment inilah Muhammadiyah hadir mempertemukan dan mempererat anatara ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan/kenegaraan) dan ukhuwah islamiyah (persaudaraan keislaman yang membawa kedamaian).
Kedua, Muhammmadiyah hadir sebagai kekuatan peradaban Islam global yang moderat, tidak hanya hadir untuk Indonesia tetapi untuk dunia Islam. Tesis Huntington bahwa akan terjadi benturan (clash) peradaban, dimana Islam merupakan salah satu peradaban yang kehadirannya bisa menandingi peradaban Barat.
Dengan demikian Muhammadiyah bisa menjadi kekuatan peradaban Islam di Nusantara yang nantinya bisa memimpin peradaban dunia yang madani. Posisi keempat Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan terkaya didunia menjadi bukti bahwa ke depan Muhammadiyah bisa tampil memimpin peradaban dunia yang madani. Dengan begitu “Sinar Mentari Muhammadiyah” bisa menerangi dan mencerahkan wajah dunia.
Ketiga, Memegang teguh wasiat “Sang Pencerah” Kyai Ahmad Dahlan “Hidup Hidupilah Muhammadiyah, dan Jangan Mencari Kehidupan di Muhammadiyah” . Inilah wasiat sejati misi dakwah Muhammadiyah. Misi sejati untuk ikhlas beramal, iklhas berkorban mengharap ridha dari yang Maha Kuasa. Dalam mengemban misi dakwah, pada waktu tertentu mungkin bisa saja atau diperkenankan berpikir atau bertindak pragmatis, namun pada waktu bersamaan tidak diperkenankan berpikir atau bertindak oportunis.
Misi dakwah harus dilandasi menyuruh (berbuat) yang makruf sebagai bentuk humanisasi, mencegah dari yang mungkar sebagai bentu liberasi, dan beriman kepada Allah sebagai bentuk transendensi. Dengan demikian, gerakan humanisasi, liberasi dan transendensi adalah dasar pijakan dakwah guna membangun peradaban mulia.
Selamat memperingati milad Muhammadiyah ke 113 tahun 2025, semoga Muhammadiyah tetap jaya dalam Memajukan Kesejahteraan Bangsa dan ke depan bisa hadir memimpin peradaban dunia yang madani. (***)