Buka konten ini

BENGKONG (BP) – Pendataan sementara yang didapat dari SPPG mencatat setidaknya 138 siswa MAN 2 Batam melaporkan gejala diare, mual, atau sakit perut sejak kejadian awal pada Selasa (11/11). Dugaan sementara mengarah pada konsumsi menu katering program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi penyebab pastinya belum dapat dipastikan.
Setelah kasus mencuat, pihak sekolah menyebarkan formulir pendataan kepada seluruh siswa dan wali murid untuk mencatat kronologi keluhan. Banyak siswa mengaku gejala baru muncul pada malam hari, sehingga keterkaitan dengan menu makan siang di sekolah belum dapat disimpulkan.
Kepala MAN 2 Batam, Ernawati, membenarkan adanya laporan massal tersebut. Ia menyampaikan bahwa sekolah sudah berkoordinasi dengan puskesmas sejak hari pertama menerima informasi.
“Memang ada laporan siswa mengalami diare, tetapi kami belum bisa memastikan penyebabnya. Sebagian siswa mulai sakit pada malam hari. Kami masih menunggu hasil observasi lanjutan,” ujarnya.
Menurut Ernawati, siswa yang belum pulih diminta beristirahat di rumah sambil terus memantau kondisi kesehatan. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa, meski beberapa kelas tampak berkurang jumlah siswanya.
Koordinator SPPG Batam, Defri Frenaldi, menyebut data resmi dari puskesmas hingga kini belum diterbitkan. Namun, berdasarkan laporan yang dihimpun SPPG, total siswa yang mengonfirmasi mengalami diare telah mencapai 138 orang.
“Data lengkap dari puskesmas belum keluar. Terakhir yang kami terima, 138 siswa melaporkan keluhan diare,” ujarnya.
Defri menegaskan belum ada kesimpulan mengenai penyebab kejadian tersebut. Seluruh sampel dan hasil pemeriksaan masih diproses. Ia juga mengimbau masyarakat tidak berspekulasi sebelum data medis dirilis secara resmi.
“Kami masih menunggu hasil observasi dari dinas kesehatan dan puskesmas hingga Jumat (14/11),” katanya.
Sambil menunggu laporan resmi, pihak sekolah dan SPPG meminta orang tua terus memperhatikan kondisi anak. Jika gejala tidak membaik atau justru memburuk, siswa diminta segera menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat.
Diberitakan sebelumnya, ratusan siswa MAN 2 Kota Batam mengalami diare setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (11/11). Kepala MAN 2 Batam, Ernawati, memastikan sebanyak 235 dari total 648 siswa terdampak setelah makan siang bersama di sekolah.
Ernawati menjelaskan, sekolahnya mulai menerima program MBG sejak Juli. Pada hari kejadian, sekitar pukul 12.00, seluruh siswa dan guru makan siang setelah salat. Kegiatan belajar mengajar pun dilanjutkan seperti biasa.
“Setelah sampai di rumah semuanya masih aman. Namun sekitar pukul 19.00 hingga 20.00, mulai ada laporan dari wali murid bahwa anak mereka sakit perut dan mencret,” ujar Ernawati saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (14/11).
Tiga siswa sempat dibawa orang tuanya ke fasilitas kesehatan. “Yang ke IGD hanya tiga orang. Satu ke Rumah Sakit Elisabeth, satu ke Klinik Nagoya. Setelah diberi obat, semuanya langsung dipulangkan,” jelasnya.
Keesokan harinya, Rabu (12/11), sebanyak 235 siswa tidak masuk sekolah. “Kami menelepon orang tua satu per satu. Rata-rata masih mengeluh sakit perut. Mencretnya sudah berhenti karena sudah diberi obat,” katanya.
Beberapa siswa yang tetap hadir, namun masih sakit, mendapat perawatan di UKS sebelum dijemput orang tua.
Menurut Ernawati, sepertiga siswa sekolah terdampak. “Yang kena hanya 235. Jadi sekitar sepertiga dari total siswa kami,” ujarnya.
Setelah kejadian, pihak MBG, Puskesmas Tanjung Buntung, Polsek Bengkong, dan BIN mendatangi sekolah untuk pendataan dan pemeriksaan. Pihak MBG dan SPPG juga menyampaikan permintaan maaf. “Mereka bilang mohon maaf. Siswa yang sempat ke IGD akan di-claim biayanya,” ucapnya.
Terkait penyebab, Ernawati mengaku mendapat penjelasan dari dokter bahwa keluhan muncul setelah siswa mengonsumsi dendeng. “Dari keterangan dokter, ini akibat makan dendeng. Rasanya enak, bahkan ada yang makan dua sampai tiga porsi. Tapi malamnya baru melilit,” terangnya.
Ia mengatakan kasus serupa pernah terjadi sebelumnya, meski jumlahnya tidak banyak. “Dulu juga pernah kena beberapa anak karena daging. Kami sudah sampaikan bahwa kalau daging bentuknya seperti ini, MAN 2 tidak bisa. Atau mungkin yang masak tidak bisa mengolah daging. Kali ini lebih banyak yang kena. Artinya, kalau daging, sebaiknya tidak dikirim ke MAN 2,” katanya.
Pada hari kejadian, menu MBG berisi sayur, tahu, buah, dan dendeng sapi. “Indikasi di sayur tidak ada. Sepertinya dari dendeng. Anak-anak bilang dendengnya keras,” ujarnya.
Sejak Kamis (13/11), pengantar MBG tidak datang lagi karena tempat produksinya disegel.
“Rabu masih kirim. Hanya satu kelas yang tidak mau makan karena anak-anaknya dari keluarga menengah ke atas. Mereka biasa bekal dari rumah atau makan di kantin,” kata Ernawati.
Ia menambahkan sekitar 10 persen siswa MAN 2 berasal dari keluarga kurang mampu, sementara mayoritas menengah ke atas. Dari 235 siswa yang diare, delapan masih tidak hadir pada Jumat (14/11).
Ernawati juga menolak istilah “keracunan makanan”. “Dokter bilang ini keracunan. Saya bilang bukan. Karena yang ada hanya mencret. Tapi dokter menjelaskan bahwa keracunan bisa ditandai mencret, mual, muntah, sakit kepala. Jadi kalau dibilang dugaan keracunan, saya setuju. Tapi kalau langsung disebut keracunan, saya tidak setuju,” tegasnya. Ia memastikan gejala yang dialami siswa adalah diare.
Sementara itu, Kepala SPPG Batam, Defri Frenaldi, menyatakan operasional SPPG Bengkong Laut 2—penyedia MBG untuk MAN 2—dihentikan sementara. “Kami hentikan dulu untuk evaluasi,” ujarnya.
Ketika ditanya sampai kapan, ia menjawab, sampai evaluasinya selesai, dan tidak ditentukan waktunya. (*)
Reporter : Eusebius Sara – MOHAMMAD SYABAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO