Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Di antara langit kota yang kian dipenuhi deretan apartemen baru, jutaan keluarga Indonesia masih berjuang sekadar untuk memiliki rumah layak.
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan, backlog atau kekurangan pasokan rumah pada 2023 mencapai 9,9 juta unit. Angka itu menandakan jarak lebar antara kebutuhan nyata masyarakat dan kemampuan mereka untuk membeli hunian.
Masalah perumahan ini bukan sekadar deretan angka statistik. Ia mencerminkan ketimpangan sosial yang kian terasa. Sebagian masyarakat menikmati kenyamanan tinggal di hunian vertikal dengan fasilitas lengkap, sementara sebagian lain harus bertahan di rumah tak layak—sering tanpa sanitasi memadai dan berdiri di atas lahan yang tidak resmi.
Pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang cepat membuat kebutuhan rumah baru terus meningkat, antara 700 ribu hingga 800 ribu unit setiap tahun. Namun, laju pembangunan belum mampu mengejar kebutuhan itu. Akibatnya, backlog terus menumpuk dan bahkan diprediksi mencapai 15 juta unit pada 2025 jika tidak ada terobosan berarti.
Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, persoalan ini kian terasa. Di ibu kota, lebih dari 1,7 juta rumah tangga masih tinggal di hunian tidak layak, menurut data Badan Pusat Statistik dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Di tengah situasi tersebut, langkah kecil dari sektor sosial menjadi oase. Habitat for Humanity Indonesia (HFHI), yang tahun ini berusia 28 tahun, mencoba menjembatani kesenjangan akses terhadap rumah layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Melalui berbagai program kolaboratif, HFHI berupaya menegaskan bahwa membangun rumah bukan sekadar menyediakan bangunan fisik, melainkan juga membangun ketahanan sosial dan ekonomi keluarga.
Di Gresik, HFHI menjalankan program Home Equal 2025–2026 yang berfokus pada pembangunan rumah layak serta pelatihan hidup sehat bagi perempuan kepala keluarga dan penyandang disabilitas. Di Cilegon, program Echo Village 2025 menggandeng POSCO untuk membangun rumah ramah lingkungan dan memberikan pelatihan ketangguhan bencana.
Sementara di Tangerang, HFHI mengembangkan bursa kerja di sektor konstruksi guna meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kami percaya, rumah yang layak adalah fondasi kehidupan yang bermartabat. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memperluas akses hunian bagi masyarakat yang terpinggirkan,” ujar Ketua Dewan Pengawas HFHI, Rene I. Widjaja, dalam keterangannya.
Tidak hanya membangun rumah, HFHI juga memanfaatkan seni dan olahraga sebagai media kampanye sosial. Melalui konser amal Songs for NTT dan Songs for Cianjur, serta ajang tahunan Habitat Charity Golf Tournament, organisasi ini berhasil menghimpun dana untuk pembangunan ratusan rumah dan penguatan komunitas. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO