Buka konten ini

GULING, atau bolster pillow, mungkin terlihat sederhana. Namun di balik bentuknya yang silindris dan padat, benda ini punya peran penting dalam menunjang kenyamanan dan kualitas tidur. Bentuknya ramping dan panjang, diisi bahan yang cukup keras seperti busa memori atau dakron padat, dan biasa digunakan untuk menopang punggung, lutut, hingga leher saat beristirahat.
Asal-Usul Guling
Guling bukanlah penemuan baru. Di Asia—terutama di Indonesia, Vietnam, dan Korea—guling sudah lama menjadi bagian dari tradisi tidur masyarakat. Dahulu, guling bahkan dibuat dari bambu atau rotan, memberikan dukungan yang kuat bagi tubuh saat berbaring. Seiring waktu, bahan keras itu berganti menjadi busa dan kapas yang lebih lembut, tanpa mengurangi fungsi utamanya: menopang tubuh agar tidur lebih nyaman.
Selain untuk tidur, guling juga sering digunakan sebagai hiasan tempat tidur atau sofa. Di beberapa rumah, guling bahkan jadi bagian tak terpisahkan dari suasana santaiteman setia untuk rebahan di akhir pekan.
Fungsi dan Manfaat Guling
Kini, guling modern punya banyak fungsi. Berikut beberapa di antaranya:
– Penopang punggung atau kaki: Guling kecil bisa diletakkan di bawah punggung atau lutut untuk menopang tulang belakang.
– Pendamping tidur menyamping: Bagi yang tidur miring, meletakkan guling di antara lutut membantu menjaga posisi tulang belakang tetap lurus dan mengurangi tekanan pada pinggul.
– Pereda nyeri sendi: Memeluk guling dapat meredakan tekanan pada bahu dan punggung, sekaligus memberikan kenyamanan emosional.
– Alat bantu yoga atau terapi: Bentuknya yang kokoh juga cocok digunakan untuk latihan peregangan dan meditasi.
Kenapa Disebut “Bolster”?
Kata bolster sendiri berarti “menopang” atau “menguatkan”. Sesuai namanya, guling memang dirancang untuk menjadi penopang tambahan di antara bantal dan tubuh. Ia bisa diletakkan di bawah bantal lain untuk memberikan ketegasan, atau dijadikan sandaran tangan dan kaki saat berbaring.
Bahan dan Desain Guling
Kalau dulu guling identik dengan bambu, kini pilihan bahan lebih beragam—mulai dari busa memori, lateks, hingga kapas alami. Beberapa guling bahkan dilengkapi sarung kulit, linen, atau katun premium. Ukurannya pun bervariasi, dari sependek bantal kepala hingga hampir sepanjang tubuh manusia.
Ada pula model modern yang didesain ergonomis, bahkan bisa dikaitkan ke pinggang untuk menopang tubuh saat duduk atau yoga.
Guling vs Bantal Tubuh
Meski mirip, guling dan body pillow punya perbedaan mencolok. Guling cenderung lebih pendek, lebih padat, dan berbentuk silinder lurus. Sementara body pillow biasanya berbentuk huruf C, U, atau J, dengan isian lebih lembut untuk dipeluk penuh. Guling menawarkan dukungan lebih kuat, sehingga sering digunakan dalam latihan atau terapi postur tubuh.
Posisi Tidur Terbaik dengan Guling
Guling bisa membantu meredakan nyeri jika digunakan dengan posisi yang tepat:
– Diletakkan di bawah lutut saat tidur telentang untuk mengurangi nyeri punggung bawah.
– Diletakkan di antara lutut saat tidur menyamping untuk menjaga kesejajaran tulang punggung.
– Ditempatkan di bawah punggung bawah untuk menopang tulang belakang.
– Dipeluk di antara bahu dan dada untuk mengurangi tekanan di area atas tubuh.
Beberapa ahli ortopedi bahkan merekomendasikan guling setengah silinder untuk pasien dengan masalah tulang belakang, karena bentuknya pas mendukung lekuk alami tubuh.
Saatnya Ganti Guling
Sama seperti bantal, guling juga punya masa pakai. Idealnya diganti setiap dua tahun sekali, tergantung bahan dan intensitas pemakaian. Guling yang mulai kempis, berbau, atau berubah bentuk sebaiknya segera diganti agar tidak mengganggu kualitas tidur.
Guling bukan sekadar pelengkap tempat tidur. Ia adalah penopang yang menjaga tubuh tetap nyaman dan rileks, baik untuk tidur, rebahan, maupun yoga. Di balik bentuknya yang sederhana, guling menyimpan rahasia tidur berkualitas yang diwariskan sejak berabad-abad lalu di Asia. (*)
RReporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO