Buka konten ini

Di banyak kota besar, akhir pekan bukan lagi sekadar waktu beristirahat, tetapi menjadi momen untuk mencari suasana baru yang ceria dan menyenangkan. Salah satu tren yang kini digandrungi oleh anak muda, pasangan, hingga keluarga adalah piknik bersama rekan dan sahabat.
DI sebuah kebun di tengah kota di Tanjungpinang, di antara pepohonan rindang dan rerumput hijau yang baru saja disiram embun pagi, terlihat sekelompok perempuan muda, duduk melingkar. Di tengah-tengah perempuan muda itu, bukan keranjang piknik dengan lauk berat seperti yang biasa dibayangkan, melainkan kue-kue kecil dengan warna ceria, buah segar, termos berisi teh hangat dan alas tikar serta serbet bermotif sederhana.
Para perempuan muda tersenyum, berbagi gigitan demi gigitan, sembari merasakan proses pulih dari segala masalah, bercerita tentang hidup, pekerjaan, cinta, dan apa pun yang sedang dilalui.
Inilah Cake Picnic, tren piknik manis yang sedang berkembang di dalam dan luar negeri termasuk di Tanjungpinang. Sebuah aktivitas sederhana yang menggabungkan rasa dan cerita yang kerap menjadi cara untuk melepas lelah di akhir pekan.
Selain itu, Cake Picnic adalah sebuah konsep piknik sederhana namun penuh kehangatan dengan suguhan utama aneka kue manis dan suasana santai di ruang atau alam terbuka. Tidak perlu menu berat, kompor, atau perlengkapan masak yang rumit.
Cukup selembar kain piknik, keranjang kecil, dua hingga tiga potong cake favorit, buah-buahan segar, serta secangkir kopi atau teh hangat.
Sisanya, biarkan saja suasana alam yang indah dan cerah, angin berhembus pelan, cahaya matahari hingga percakapan ringan yang bekerja mengisi suasana ceria.
Cake Picnic memang semakin populer. Dokumentasi atau foto cake mini dengan dekorasi cantik dengan latar taman atau kebun hijau, mengundang siapa saja untuk mencoba konsep yang sama.
“Rasanya senang, suasananya bikin hati adem, bisa ngobrol sambil makan kue yang enak plus dapat foto-foto lucu dan unik,” ungkap Oki Rozaliansha, 33, warga Tanjungpinang yang sering menggelar Cake Picnic.
Menurut Oki, Cake picnic bukan soal makanan apa yang dibawa. Lebih dari itu, ia adalah bentuk merawat diri. Sebuah cara untuk memberi ruang pada diri sendiri untuk rileks dalam menghadapi persoalan hidup dan setelah seminggu penuh rutinitas.
Tidak hanya itu, dengan piknik gaya baru ini, menyalurkan juga keluh kesah yang ada di hati lewat rasa dan cerita serta menikmati momen hingga berbagi senyum bersama orang-orang terdekat.
”Dengan Cake Picnic ini kita dapat berbagi dan mengkreasikan rasa dan cerita lewat cake buatan sendiri,” katanya.
Bukan Sekadar Piknik, tapi Cara Menyembuhkan Diri
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan tuntutan produktivitas tanpa henti, banyak orang mulai mencari ruang-ruang kecil untuk rileks. Cake picnic menjadi salah satu bentuk jeda sederhana, namun sangat bermakna.
Bahkan saat ini, beberapa komunitas di Tanjungpinang seperti She and Fleur, menjadikan Cake Picnic sebagai sesi berkumpul berbagi cake atau kue, sekaligus berbagi dan berbagai cerita mengenai persoalan hidup.
”Kue-kue kecil yang manis menjadi simbol memanjakan diri, sesuatu yang sering terlupakan dalam kehidupan yang sibuk,” jelas Oki, penggagas komunitas She and Fleur.
Oleh sebab itu, Oki mengajak siapa pun untuk bergabung dalam Cake Picnic yang digelar She and Fleur di Kebun Akong Jalan Ganet Tanjungpinang, 16 November 2025 mendatang.
”Yang mau tanya-tanya dan bergabung berbagi cerita dan curhat, silahkan hubungi Instagram @she.and.fleur. Nanti ada sesi tanya jawab dengan psikolog juga,” ajak Oki.
Pada akhirnya, Cake Picnic di ruang terbuka mengajarkan satu hal sederhana. Kebahagiaan dan keceriaan itu seringkali hadir dalam momen kecil yang diciptakan sendiri.
Di bawah pohon rindang sebagai ruang untuk berhenti sejenak, berbagi rasa, dan menikmati manisnya dunia, di situlah tempat rileks sejati dan memulihkan diri dari berbagai persoalan hidup.
”Terkadang kan jumpa kawan itu kalau tidak di rumah ya di luar rumah. Minimal sambil makan kue di kebun sambil menikmati pemandangan alam,” tutup Oki. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK