Buka konten ini

Radioterapi menjadi salah satu pilihan utama dalam pengobatan kanker selain operasi
dan kemoterapi. Terapi ini menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker secara lokal tanpa memengaruhi seluruh tubuh.

DOKTER Spesialis Onkologi Radiasi di Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Rizqi Nanda Pribawa, Sp.Onk.Rad, menjelaskan bahwa radioterapi berperan penting dalam menekan pertumbuhan sel kanker.
Radioterapi merupakan pengobatan kanker dengan menggunakan sinar pengion berenergi tinggi, biasanya sinar-X, untuk membunuh sel kanker di area tertentu,” jelasnya di Instagram halloawalbros yang disiarkan langsung, Jumat (31/10).
Berbeda dari kemoterapi yang biasanya pasien diberikan obat kemoterapi yang bekerja ke seluruh tubuh melalui aliran darah, radioterapi hanya menyasar area tubuh yang terdeteksi memiliki sel kanker.
Namun, tidak semua jenis kanker membutuhkan radioterapi. ”Biasanya terapi ini dikombinasikan dengan operasi atau kemoterapi, tergantung jenis dan stadium kankernya,” tambahnya.
Beberapa jenis kanker yang sering memerlukan radioterapi antara lain kanker nasofaring, kanker serviks, dan kanker payudara. ”Biasanya dilakukan operasi operasi terlebih dulu, kemoterapi kemudian baru dilakukan radioterapi,” jelar dr Rizqi.
Sementara itu, radioterapi juga dapat diberikan untuk kasus non-kanker, seperti keloid pascaoperasi guna mencegah kekambuhan.
Proses Radioterapi
Menurut dr. Rizqi, sebelum dilakukan penyinaran, pasien harus melalui serangkaian tahapan, mulai dari konsultasi dan pemeriksaan CT Simulator untuk menentukan posisi dan dosis radiasi yang tepat.
”Pasien yang membutuhkan radioterapi biasanya dirujuk oleh dokter spesialis lain, seperti bedah onkologi, ginekologi-onkologi atau hematologi-onkologi. Setelah pasien dirujuk, dokter spesialis onkologi radiasi akan melakukan pemeriksaan (CT Simulator) menentukan apakah pasien benar-benar memerlukan radioterapi serta jenis terapi yang paling sesuai dengan kondisinya. Dokter akan merencanakan area target radiasi dan melindungi organ normal di sekitarnya,” jelasnya.
Setelah perencanaan matang, barulah pasien menjalani penyinaran sesuai jadwal. Umumnya terapi dilakukan setiap hari, Senin hingga Jumat (lima kali, selama 25 (lima minggu) hingga 35 kali sesi, tergantung kasus dan respons pasien.
Efek Samping dan Keamanan
Meski efektif, radioterapi tetap memiliki efek samping. Yang paling umum adalah kulit menggelap atau kehitaman di area penyinaran serta rasa lelah. Namun, efek tersebut bersifat sementara.
“Radiasi tidak membuat pasien memancarkan radiasi setelah terapi. Jadi aman bagi orang sekitar,” tegasnya.
Selain itu, radioterapi tidak menyebabkan rambut rontok seluruhnya, kecuali jika penyinaran dilakukan di area kepala. Efeknya pun hanya lokal dan akan berangsur membaik.
Tidak Perlu Rawat Inap
Kebanyakan pasien radioterapi tidak perlu dirawat inap. Proses penyinaran per sesi hanya memakan waktu 15 sampai 30 menit, dan pasien bisa langsung pulang setelahnya.
”Rawat inap hanya dilakukan jika kondisi pasien memang lemah atau ada penyakit penyerta,” kata dr. Rizqi.
Harus Tuntas
dr. Rizqi menekankan pentingnya menjalani terapi secara tuntas dan teratur.
“Jika radioterapi terputus, sel kanker yang belum mati bisa tumbuh kembali dan bahkan lebih cepat berkembang,” ujarnya.
Harapan untuk Pasien
Menurut dr Rizqi, saat berbicara kanker biasanya tidak berbicara sembuh namun lebih kepada mengontrol pertumbuhan kankernya, sama seperti penyakit hipertensi/darah tinggi, kencing manis/diabetes.
Meski kanker kerap disebut penyakit kronis, hasil terapi yang baik bisa membuat kondisi pasien terkendali hingga bertahun-tahun.
“Banyak pasien yang masih bisa bertahan 10 hingga 15 tahun setelah terapi bila pengobatannya tuntas. Itu tergantung jenis kanker dan stadiumnya,” ujarnya.
Di akhir wawancara, dr. Rizqi menyampaikan kabar baik: RS Awal Bros Batam membuka layanan radioterapi, sehingga pasien di Kepulauan Riau tak perlu lagi berobat ke luar kota.
“Harapannya, pasien bisa menjalani pengobatan lebih dekat, lebih cepat, dan tidak perlu biaya tambahan untuk perjalanan,” tutupnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY