Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan ekspor batu bara Indonesia tahun ini akan mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan proyeksi ESDM, volume ekspor batu bara nasional berpotensi turun sekitar 20–30 juta ton dari realisasi 2024 yang mencapai sekitar 555 juta ton.
“Penurunan terutama dipicu oleh melemahnya permintaan dari Tiongkok, yang selama ini menjadi pasar utama batu bara Indonesia,” ungkap Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Surya Herjuna, di Jakarta kemarin (6/11).
Ia menambahkan, tren tersebut bukan disebabkan oleh menurunnya daya saing batu bara Indonesia, melainkan perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor utama. “Ekonomi Tiongkok dan India juga sedang melambat,” imbuhnya.
Untuk mengantisipasi dampak pelemahan permintaan dari dua pasar utama itu, Kementerian ESDM kini mendorong pelaku industri memperluas pasar ekspor ke negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Salah satu negara yang dinilai potensial adalah Filipina, yang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.
Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia dengan volume ekspor mendekati 500 juta ton per tahun. Namun, Surya menilai dominasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan pasar yang stabil.
“Kalau kita ukur, ekspor ke Tiongkok sampai sekarang hanya sekitar 120 juta ton, sementara produksi mereka hampir 40 juta ton. Jadi sebenarnya penguasaan pasar kita di Asia masih bisa dibilang semu,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO