Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menghadapi tekanan akibat banjir impor produk hilir yang melebihi kebutuhan pasar domestik. Kondisi ini berdampak pada industri hulu yang selama ini menjadi penopang pasokan benang dan kain lokal.
Pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober, subsektor tekstil tercatat berada pada level 49,74 poin, yang menandakan kontraksi.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemenperin, Alexandra Arri Cahyani, mengatakan, meski industri tekstil nasional tetap membutuhkan impor bahan baku untuk meningkatkan daya saing, lonjakan impor produk jadi menimbulkan tekanan tersendiri.
“Banjir impor ini memang memberikan tekanan, terutama bagi industri hulu yang selama ini menopang pasokan benang dan kain lokal. Kemenperin bersama kementerian dan lembaga terkait segera melakukan langkah pengendalian agar industri nasional tetap terlindungi,” ujar Alexandra di Jakarta, Sabtu (2/11).
Menurutnya, peningkatan impor produk hilir disebabkan pergeseran pola perdagangan global, penurunan biaya logistik internasional, serta relaksasi kebijakan impor di beberapa negara mitra. Alexandra juga mendukung upaya Menteri Keuangan yang menegaskan akan memberantas mafia impor tekstil ilegal. Penanganannya dilakukan secara proporsional dan terukur, tanpa mengganggu kelancaran bahan baku bagi industri pengguna yang berorientasi ekspor, seperti garmen dan apparel.
Ketua Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, menegaskan industri TPT tetap menjadi kontributor penting ekspor nonmigas Indonesia dan penyerap jutaan tenaga kerja, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Nilai ekspor sektor ini mencapai USD 11,9 miliar pada 2024.
“Kami meyakini, dengan peningkatan daya saing baik dari sisi SDM, teknologi, energi, maupun rantai pasok, industri garmen dan tekstil nasional mampu bertahan, bahkan tanpa kebijakan protektif yang berlebihan,” ujarnya.
Anne menepis anggapan bahwa industri tekstil Indonesia kehilangan daya saing. Banyak perusahaan garmen nasional kini menjadi mitra merek global dan telah memenuhi standar internasional ketat.
Terkait isu impor ilegal, AGTI mendorong agar persoalan segera ditangani agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap kemampuan sektor tekstil nasional. Dengan dukungan kebijakan fiskal dan industri yang tepat, sektor TPT berpotensi menjadi motor pertumbuhan hijau (green growth) yang memperkuat rantai pasok nasional dan ekspor berkelanjutan.
“Tantangan hari ini harus dijadikan momentum memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat,” tambah Anne. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK