Buka konten ini

BATA merah dan bata ringan atau hebel masih jadi dua primadona bahan bangunan untuk dinding rumah di Indonesia. Keduanya sama-sama berfungsi membentuk dinding yang kokoh, tapi punya karakter, harga, dan keunggulan berbeda.
Sejak dulu, bata merah dikenal sebagai bahan bangunan tradisional yang mudah didapat dan tahan lama. Sementara bata ringan—yang mulai populer sejak 2010-an—hadir sebagai inovasi modern yang menjanjikan efisiensi waktu, biaya, dan presisi hasil.
Proses Produksi yang Beda Kelas
Bata merah dibuat dari tanah liat yang dicetak dan dibakar hingga mengeras berwarna merah. Cara ini sederhana dan sudah dilakukan turun-temurun.
Sebaliknya, bata ringan diproduksi dari campuran semen, pasir silika, gypsum, kapur, dan aluminium pasta. Adonan ini kemudian dikeringkan dengan mesin autoclaved bertekanan tinggi, sehingga menghasilkan bata yang lebih padat, presisi, dan kuat.
Dari proses ini saja sudah terlihat, bata ringan adalah hasil rekayasa teknologi yang lebih maju dibanding bata merah.
Soal Kekuatan, Hebel Unggul Dua Kali Lipat
Banyak yang mengira bata ringan mudah hancur karena lebih empuk saat dipaku. Padahal, anggapan itu keliru.
Tes laboratorium menunjukkan, bata merah rata-rata hanya mampu menahan beban sekitar 25 kilogram per sentimeter persegi, sementara bata ringan bisa mencapai 40 kilogram per sentimeter persegi—nyaris dua kali lipat lebih kuat.
Mengapa bisa begitu? Karena bata ringan punya komponen pengikat berupa semen, sama seperti beton yang digunakan untuk bangunan tahan gempa. Jadi, ketahanannya bukan sekadar “terasa keras”, tapi teruji secara struktural.
Soal Bobot dan Pengerjaan, Hebel Lebih Efisien
Secara ukuran, bata ringan jauh lebih besar dan ringan dibanding bata merah. Hal ini membuat waktu pengerjaan lebih cepat hingga tiga kali lipat. Dinding pun tampak lebih rapi karena permukaan bata ringan seragam.
Sementara bata merah berukuran kecil dan tidak selalu presisi, sehingga butuh plesteran tebal untuk meratakan dinding—dan tentu saja menambah pemakaian semen.
Namun, keunggulan bata ringan ini menuntut tukang dengan keahlian khusus agar hasilnya presisi. Sedangkan bata merah lebih mudah digunakan oleh tukang tradisional.
Bata merah masih jadi pilihan favorit masyarakat karena murah dan mudah ditemukan di toko material mana pun. Sementara bata ringan umumnya dijual dengan harga lebih tinggi dan belum tersedia di semua daerah. Tapi dari sisi efisiensi kerja dan daya tahan, banyak kontraktor kini mulai beralih ke bata ringan.
Banyak orang beranggapan bangunan dari bata merah lebih awet karena melihat contoh candi dan bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Namun, itu bukan karena bata merah lebih kuat, melainkan karena pada masa itu belum ditemukan alternatif lain.
Bata ringan sendiri baru ditemukan tahun 1924 di Swedia, dikembangkan tahun 1943 oleh Joseph Hebel, dan masuk ke Indonesia pada 1995. Baru sekitar 2012 material ini populer di pasar lokal.
Baik bata merah maupun bata ringan punya keunggulan masing-masing.
Jika ingin membangun rumah dengan biaya terjangkau dan dikerjakan tukang tradisional, bata merah masih bisa diandalkan.
Namun, jika ingin hasil presisi, pengerjaan cepat, dan struktur lebih kuat, bata ringan jadi pilihan masa kini. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO