BATAM KOTA (BP) – Persoalan sampah kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Batam. Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan, pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di seluruh wilayah kota.
“Ya, kami sedang melakukan evaluasi menyeluruh. Salah satu yang menjadi atensi saya adalah Dinas Kebersihan dan Kehidupan. Kami ingin pengelolaan sampah di Batam ke depan menjadi lebih baik,” ujar Amsakar, Sabtu (1/11).
Menurutnya, persoalan sampah di Batam bersifat kompleks—mulai dari tingginya volume sampah harian hingga keterbatasan armada pengangkut dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
“Volume sampah yang dihasilkan per kepala sekitar satu kilogram per hari. Sementara armada pengangkut sangat rentan karena terpapar air lindi, sehingga cepat berkarat dan membutuhkan biaya pemeliharaan yang tinggi,” jelasnya.
Sebagai langkah perbaikan, Pemko Batam akan membentuk tiga Unit Pelaksana Teknis (UPT) pengelolaan kebersihan, di mana masing-masing UPT bertanggung jawab terhadap tiga kecamatan.
“Dalam APBD Perubahan, kami sudah mengalokasikan masing-masing satu mesin insinerator untuk setiap UPT. Mudah-mudahan dengan formula ini, sedikit banyak persoalan sampah dapat terurai,” tutur Amsakar.
Ia menegaskan, komitmen pemerintah kota dalam menuntaskan persoalan sampah akan
terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.
Meski Peraturan Daerah (Perda) telah mengatur sanksi bagi pelanggar kebersihan, Amsakar menilai penegakan hukum bukan satu-satunya solusi. Ia ingin kepatuhan warga muncul dari kesadaran, bukan ketakutan terhadap sanksi.
“Dalam Perda sebenarnya ada sanksi tegas. Tapi saya ingin semua ini lahir dari hati. Jangan sampai kita taat hanya karena takut sanksi, lalu abai ketika sanksi tidak ditegakkan,” ujarnya.
Amsakar mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan tanpa saling menyalahkan.
“Kalau mau mencari kambing hitam, bisa saja pemerintah disalahkan karena sarana tidak lengkap. Tapi pemerintah juga bisa beralasan bahwa dengan sarana terbatas, kesadaran masyarakat masih kurang,” tuturnya.
Menurutnya, yang paling penting adalah semangat gotong royong dan kontribusi nyata setiap warga.
“Kita tidak perlu sibuk mencari kambing hitam. Yang paling bijak adalah bagaimana kita bisa berkontribusi untuk negeri ini,” pungkas Amsakar. (***)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : Jamil Qasim