
Di balik aroma harum kue pukis yang mengepul dari dapurnya, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu tunggal. Emi Rudiastutik, atau akrab disapa Emi, memilih bangkit dan produktif dari rumah dengan berjualan kue pukis.
“Awalnya saya cuma ingin tetap produktif walau di rumah. Saya mulai jualan April 2025 lalu,” ujar Emi membuka perbincangan.
Sejak kepergian suaminya tiga tahun lalu, Emi yang memiliki dua anak laki-laki beranjak dewasa berusaha mencari cara untuk mandiri. Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, rasa sepi dan bosan membuatnya mulai mencari inspirasi.
“Saya orangnya introvert, lebih suka di rumah. Suatu hari saya lihat video ibu-ibu di Jawa yang sukses jualan pisang goreng wijen dari rumah. Dari situ saya mulai berpikir, saya juga bisa,” kenangnya.
Namun, karena tak menyukai masakan berminyak, Emi memilih usaha lain. Ia pun terpikir membuat kue pukis, jajanan tradisional yang banyak disukai semua kalangan.
“Saya memang sudah tahu dasar cara membuat pukis, tapi ingin bikin yang beda. Jadi saya kombinasikan resep sendiri supaya hasilnya lebih premium,” jelasnya.
Emi tak ragu menggunakan bahan-bahan berkualitas agar cita rasa kuenya lebih lembut dan wangi. Setiap hari, ia membuat 2–4 kilogram adonan kue pukis secara rumahan. Semua pesanan dibuat fresh setiap hari, namun untuk jumlah besar harus pre-order (PO) maksimal H-1.
“Adonan harus diresting beberapa jam, jadi nggak bisa dadakan,” katanya.
Beragam varian ia tawarkan. Mulai dari pukis original jadul dan pandan polos tanpa topping, hingga pukis single topping seperti meses, kacang, keju, glaze cokelat, selai kaya, dan pisang. Ada juga pukis double topping, seperti cokelat keju, cokelat kacang, cokelat meses, cokelat pisang, butter red velvet, hingga butter chocolate crumble.
“Harga mulai dari Rp5 ribu per potong. Satu boks isi 12 potong. Pernah juga dapat pesanan sampai 100 potong, biasanya untuk acara gereja atau kantor,” sebutnya.
Saat ini, Emi berjualan dari rumahnya di Perumahan Anggrek Mas 1 Blok E No. 27, buka dari pukul 08.00 sampai 21.00 WIB. Pemesanan bisa melalui GoSend, GoFood, GrabFood, atau langsung ke rumah dengan menghubungi nomor 0821-7373-0055 terlebih dahulu.
“Kalau mau ambil langsung, pesan dulu via WhatsApp. Soalnya panasin cetakan aja butuh 10 menit, belum proses cetaknya. Biar pelanggan nggak nunggu lama,” jelasnya sambil tersenyum.
Dengan modal awal tak sampai Rp2 juta, Emi memulai usaha dari peralatan sederhana: mixer, cetakan, kompor, gas, hingga bahan baku. Ia mengaku omzet masih naik turun karena usahanya baru berjalan enam bulan.
“Yang penting pelan-pelan dulu. Saya belajar sambil jalan, semoga makin dikenal,” ujarnya.
Kendala terbesar yang dihadapi justru soal bahan baku, terutama santan kemasan. Ia pernah mencoba menggunakan santan pasar, tapi hasilnya gagal.
“Adonannya cepat basi, jadi harus buang semua. Tapi saya tetap semangat, apalagi kalau ada pelanggan yang repeat order, artinya mereka suka,” katanya semringah.
Ke depan, Emi berharap bisa membuka outlet kecil agar lebih banyak orang mengenal kue pukis buatannya. Ia juga ingin menjadikan kue pukis khas Anggrek Mas 1 sebagai oleh-oleh khas Batam.
“Intinya jangan takut mencoba. Mulai aja dulu dari rumah. Siapa tahu bisa jadi rezeki,” tutupnya. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : JAMIL QASIM