Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Di usia yang seharusnya diisi dengan tawa dan cita-cita, dua pelajar di Kabupaten Kepulauan Anambas justru memilih duduk diam di sebuah kafe di atas bukit.
Bukan untuk nongkrong atau menikmati pemandangan, melainkan mencari tenang dari rumah yang tak lagi terasa sebagai rumah.
Kamis (30/10) siang itu, sinar matahari menyapu lembut halaman Cafe Bukit Tengkorak (Buteng) di Tarempa. Dari kejauhan, dua remaja tampak berbincang pelan, seolah menutup diri dari hiruk pikuk dunia sekolah.
Keduanya masih duduk di bangku sekolah menengah. Satu pelajar SMK Negeri 4 Anambas, satu lagi dari SMA Negeri 1 Siantan. Seharusnya pagi itu mereka berada di kelas, mendengarkan guru atau bercanda dengan teman. Namun kenyataan berkata lain — mereka bolos, bukan karena malas, tapi karena luka.
Petugas Satpol PP Anambas yang sedang berpatroli awalnya mengira keduanya hanya nongkrong biasa. Namun ada yang janggal, tatapan mata yang kosong dan gelisah.
“Kami curiga, jadi kami tanya dari hati ke hati. Akhirnya mereka mengaku, ternyata masih sekolah dan sedang bolos,” tutur Barry, Kepala Seksi Penindakan Satpol PP Anambas.
Dari situlah kisah getir itu terungkap. Mereka bukan kabur karena kenakalan remaja, melainkan karena kekerasan di rumah.
“Orangtua mereka sering melakukan kekerasan fisik. Sampai membuat anak-anak ini tidak mau sekolah lagi,” ujar Barry lirih.
Satu di antara mereka bahkan memilih tidak pulang selama dua hari. Ia lebih
memilih kesepian di luar rumah daripada teriakan yang selalu menunggunya di balik pintu.
“Anak itu pernah dipanggil pihak sekolah karena melakukan pelanggaran. Tapi begitu pulang, malah mendapat kekerasan dari orangtuanya,” tambah Barry.
Luka di tubuh mungkin bisa sembuh. Namun luka di hati, tidak semudah itu. Sang anak bahkan sempat berkata ingin berhenti sekolah, merasa percuma belajar bila di rumah hanya ada tangis dan amarah.
Beruntung, petugas Satpol PP tidak tinggal diam. Mereka berbicara lembut, memujuk agar anak-anak itu tidak menyerah. Perlahan, dua remaja itu mulai membuka diri.
Kasus ini kini telah diteruskan ke pihak sekolah. Guru Bimbingan Konseling (BK) dilibatkan untuk mendampingi dan memulihkan semangat mereka. Harapannya, anak-anak itu kembali merasakan bahwa sekolah bukan tempat hukuman, melainkan ruang aman untuk tumbuh.
Sebab terkadang, seorang anak hanya butuh satu orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Dua pelajar ini hanyalah potret kecil dari banyak anak lain yang mungkin merasakan hal serupa, kehilangan rasa aman di rumah sendiri. Sebagai orangtua, kelelahan sering kali membuat lupa bahwa anak bukan tempat pelampiasan. Mereka hanya butuh disayangi, dipahami, dan dipercaya.
Rumah seharusnya menjadi pelabuhan setelah dunia luar yang keras. Tapi jika rumah justru menjadi badai, ke mana lagi seorang anak akan berlabuh?
Kini, harapan kecil itu mulai tumbuh kembali. Dua pelajar itu mulai dibimbing agar mau bersekolah lagi, agar percaya bahwa dunia tak sekejam yang mereka bayangkan.
Mungkin, suatu hari nanti, mereka akan tersenyum di ruang kelas, bukan di sudut kafe, karena tahu, akhirnya mereka punya tempat untuk pulang. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO