Buka konten ini

“Jangan takut masukkan anak-anak kita ke pondok pesantren”. Kalimat itu tampaknya sederhana, tapi maknanya dalam. Sebuah ajakan untuk kembali percaya bahwa pesantren bukan tempat yang menakutkan atau tertinggal, melainkan rumah pembentuk karakter sejak dini dan pemimpin masa depan.
SUARA selawat menggema lembut di halaman Kampus STAIN SAR, Toapaya, Bintan. Udara pagi terasa sejuk, seolah ikut larut dalam lantunan doa yang keluar dari bibir ratusan santri berseragam putih-hijau. Mereka duduk bersila rapi di bawah sinar matahari yang menembus lembut pepohonan kampus.
Wajah-wajah muda itu tampak teduh, penuh harapan, dan percaya diri.
Di tengah barisan, Bupati Bintan, Roby Kurniawan, berdiri memberi sambutan. Suaranya tenang, namun tegas saat melontarkan kalimat yang membuat banyak kepala terangguk pelan. “Jangan takut masukkan anak-anak kita ke pondok pesantren,” katanya, penuh keyakinan.
Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Sebuah ajakan untuk kembali percaya bahwa pesantren bukan tempat yang menakutkan atau tertinggal, melainkan rumah pembentuk karakter dan pemimpin masa depan.
Menurut Roby, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama. Di sana, para santri ditempa untuk menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi hidup.
“Di pesantren, anak-anak dididik bukan hanya soal agama, tapi juga karakter agar siap menjadi pemimpin di masa depan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, sejarah telah membuktikan bahwa banyak tokoh bangsa lahir dari pesantren. Mereka menjadi pemikir, cendekiawan, dan pemimpin yang membawa perubahan besar.
“Pesantren telah melahirkan tokoh-tokoh luar biasa yang berperan besar bagi bangsa,” tambahnya.
Sebelum menutup sambutan, Roby berpesan lembut kepada para santri yang duduk di depannya. “Teruslah menimba ilmu, mempertebal keimanan, dan jadilah generasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya, disambut gemuruh takbir para santri.
Harapan di Mata Santri Muda
Bagi Muhammad Rasyad, santri muda dari Pondok Pesantren Darusilmi Bintan, Hari Santri bukan hanya perayaan tahunan. Baginya, momen itu adalah pengingat untuk selalu memperbaiki diri dan menjaga adab.
“Kami ingin menjadi generasi yang menjaga adab dan membawa manfaat bagi sesama,” ucapnya lirih, matanya berbinar.
Rasyad tahu, menjadi santri berarti siap hidup dalam kesederhanaan—bangun sebelum subuh, hafalan sebelum matahari terbit, dan belajar hingga malam. Namun, di balik semua itu, ada rasa bangga yang tak bisa diukur dengan materi: menjadi bagian dari perjuangan panjang menjaga ilmu dan akhlak.
Dari Lingga, Gema yang Sama
Rabu pagi di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, suasana tak jauh berbeda.
Ratusan santri berdiri tegak di halaman Gedung Nasional. Sarung dan peci mereka berkibar pelan diterpa angin laut. Di tengah lapangan, bendera merah putih berkibar gagah.
Upacara Hari Santri Nasional 2025 itu mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.” Tak ada kemewahan, tapi khidmatnya terasa. Para pengasuh pondok, tokoh agama, dan santri dari berbagai lembaga Islam hadir dengan semangat yang sama: menjaga warisan ulama.
“Alhamdulillah, setiap tahun kami tetap menyelenggarakan upacara Hari Santri di dua titik, Daik Lingga dan Dabo Singkep,” ujar Muhammad Nizar, pimpinan Pondok Pesantren Baitul Quran. “Ini bentuk komitmen kami menjaga semangat perjuangan santri.”
Tradisi yang Tak Boleh Padam
Tahun ini, Nizar mengakui peringatan digelar dengan keterbatasan anggaran. Namun, semangat santri tak pernah padam.
“Kami berusaha semaksimal mungkin agar tradisi ini tidak putus. Ini bukan soal besar kecilnya acara, tapi tentang makna yang kami jaga,” ujarnya.
Baginya, Hari Santri adalah pengingat bahwa pesantren punya peran besar dalam membentuk karakter bangsa.
“Santri harus bisa jadi teladan di tengah masyarakat. Maka yang kami tanamkan sejak dini bukan hanya ilmu, tapi juga adab dan akhlak mulia,” katanya.
Nilai kesantunan itu, lanjutnya, adalah warisan para ulama dari Jawa yang kini diteruskan di Lingga.
“Alhamdulillah, akhlak para santri kami mulai terbentuk. Mereka sopan, santun, dan hormat kepada guru. Itu hasil dari proses panjang dan kesabaran,” ucapnya tersenyum bangga.
Menjaga Api di Tengah Zaman
Bagi Roby, Rasyad, maupun Nizar, Hari Santri bukan hanya tentang seragam putih dan selawat yang menggema. Ia adalah cermin dari semangat yang tak pernah padam—semangat untuk mencetak generasi berakhlak di tengah dunia yang serba cepat.
Pesantren mungkin sederhana, tapi dari sanalah lahir manusia-manusia besar: yang pandai menundukkan kepala saat disanjung, dan tetap tegak saat diuji. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO – VATAWARI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO