Buka konten ini

Dosen Sarjana, Magister, Doktor, dan Arsitektur di Unpar, Bandung
MEMANG masih misterius di manakah letak posisi istana Majapahit. Jika merujuk pada puri-puri di Bali sebagai penerus tradisi Majapahit, dapat diketahui bahwa puri atau tempat tinggal penguasa layaknya istana/keraton memang tidak hanya satu dalam satu wilayah. Raja atau penguasa yang baru dapat membangun purinya di tempat lain atau di samping yang lama.
Berdasarkan toponimi, istana Majapahit diperkirakan berada di sekitar Sentonorejo (sentono = bangsawan) atau Candi Kedaton (keraton) Sumur Upas di Trowulan. Namun, kedaton itu dapat dihubungkan dengan raja yang mana? Sanggaramawijaya, Hayam Wuruk, Wikramawardana, atau yang lain?
Para ahli telah melakukan studi sejak era kolonial seperti Wardenar (1815), Verbeek (1889), Kern (1919), Krom (1923), Maclaine Pont (1924–1926), Bosch (1930), Kempers (1949), Stutterheim (1948), Pigeaud (1960), dan Slamet Mulyana (1966–1983), hingga era 1980–2000 seperti Wibowo, Darmoyuwono, Mundardjito, dan tim Puslitarkenas, IFSA 1983–2010, serta era milenial sampai saat kini seperti Gompert (2014) dan lainnya.
Peta Wardenar 1815 sudah menggambarkan adanya desa kedaton/kawasan Sumur Upas/Kedaton/Sentonorejo di Trowulan. Kajian selanjutnya melalui peta yang digambarkan Maclaine Pont (1926) juga menunjukkan adanya sisa-sisa bata yang memanjang yang diperkirakan adalah tembok di lokasi Candi Kedaton Sumur Upas.
Pada penggalian arkeologi Vistarini tahun 1930 juga ditemukan adanya kolam dan bekas fondasi dinding di utara kompleks Candi Kedaton Sumur Upas. Hal itu memperkuat kajian Stutterheim (1948) yang mencoba membuat rekonstruksi melalui gambaran sebagaimana yang diceritakan dalam Negarakretagama. Berdasarkan tafsir kitab tersebut, keraton itu dapat dihubungkan dengan era Raja Hayam Wuruk.
Posisi Istana
Tulisan ini mencoba menjelaskan posisi istana Majapahit dengan menggunakan metode superposisi (overlay) yang menggabungkan peta-peta di atas. Penelitian Gomperts (2014) sebelumnya menggunakan landasan kajian Wardenar, Vistarini (1930), serta Stutterheim dan menafsirkan ulang hasilnya.
Tafsir itu menunjukkan bahwa posisi istana Majapahit tidak jauh berbeda dari hasil kajian Stutterheim. Namun, Gompert tampaknya tidak menggunakan hasil pemindaian Bakosurtanal. Pada 1970–1980, melalui foto udara infrared Bakosurtanal, terlihat adanya pola grid bersilangan di situs Trowulan. Disertasi Hermanislamet (1999) juga menggunakan analisis berdasarkan peta Bakosurtanal tersebut.
Mundardjito (dalam Permana, 2024) berpendapat bahwa garis-garis bersilangan tegak lurus itu adalah kanal. Hal ini diperkuat oleh penelitian arkeologi di kawasan tersebut, baik oleh Mundardjito dan tim dari tahun 1980–2000-an. Beberapa arkeolog senior lainnya juga berpendapat bahwa garis tersebut adalah kanal, yang diperkuat dengan hasil penggalian arkeologi.
Studi overlay antarpeta Gompert dan Stutterheim, peta Bakosurtanal, serta kajian peneliti terdahulu seperti Mundardjito, timnya, dan Hermanislamet menunjukkan adanya pola-pola yang saling memperkuat. Karena itu, Kedaton Majapahit diduga terletak di area antara Sumur Upas/Sentonorejo di selatan dan Kubur Panggung di utara. Pola itu dibatasi grid garis-garis di sekelilingnya.
Hal itu juga diperkuat oleh temuan artefak di lapangan seperti keramik istimewa, struktur bangunan, dan fondasi dinding. Dengan mempertimbangkan pula toponimi di sana seperti nama Kedaton, Sentonorejo, dan Nglinguk, posisi istana Majapahit memang diperkirakan berada di area tersebut. Istana yang dimaksud adalah yang digunakan pada era Hayam Wuruk sebagaimana dituliskan dalam Negarakretagama.
Kanal
Penafsiran berikutnya adalah, apakah persilangan garis-garis tersebut menggambarkan kanal, jalan, atau kombinasi keduanya? Jika terdapat catuspatha di sana, dimungkinkan di sampingnya juga dibangun kanal atau parit. Jika garis-garis itu ditafsirkan sebagai kanal dengan lebar lebih dari 20 meter, hal ini menarik karena dapat dibandingkan dengan kota kanal di luar Indonesia seperti di Eropa, Tiongkok, dan Angkor.
Adanya saluran air di Majapahit, baik berupa kanal maupun parit, diduga berfungsi mendukung utilitas air perkotaan serta mitigasi banjir. Memang, kanal-kanal tersebut tidak pernah disebut Ma Huan ketika berkunjung ke Majapahit. Ma Huan hanya menceritakan adanya perempatan besar di kota raja Majapahit yang dapat ditafsirkan sebagai catuspatha.
Di catuspatha Majapahit itu disebutkan terdapat arca Ganesha di tengahnya. Sementara Negarakretagama tidak menyebut kanal-kanal besar, tetapi menyebut adanya parit yang mengelilingi lapangan dan mungkin juga istana. Kolam besar Segaran di Trowulan juga tidak diceritakan dalam Negarakretagama, sehingga diduga dibangun setelah kitab itu ditulis.
Pola grid tersebut tidak tegak lurus ke arah utara-selatan, melainkan miring ke timur laut. Garis-garis itu, jika ditarik lurus secara imajiner, mengacu pada dua gunung penting, yakni Gunung Penanggungan (Pawitra) di timur dan Gunung Kelud (Kampud) di selatan. Kedua gunung itu memang disebut dalam Negarakretagama.
Selain itu, di kaki Gunung Kelud terdapat candi terbesar Majapahit, yakni Candi Palah atau Penataran. Sementara di Gunung Penanggungan juga banyak dibangun candi dari era Pra-Majapahit hingga akhir Majapahit. Dengan demikian, pertemuan garis-garis grid tersebut dapat dikatakan mengacu pada orientasi Gunung Kelud di selatan, Gunung Penanggungan di timur, Sungai Brantas di barat, dan Laut Jawa (muara Bengawan Solo) di utara.
Gunung Kelud merupakan gunung yang sangat aktif seperti halnya Merapi. Penggunaan orientasi gunung-laut atau hulu-hilir itu sudah dikenal dalam tradisi purba Nusantara-Austronesia, kemudian dikombinasikan dengan Astadipalaka dalam tradisi Majapahit. (*)