Buka konten ini

Sepatu mereka penuh lumpur, tangan kotor oleh tanah basah, tapi di wajahnya terselip semangat besar, menyelamatkan pesisir Lingga dari abrasi. Hari itu, sekitar 400 bibit mangrove ditanam di dua titik utama, Tanjung Buton dan Desa Mepar, Kecamatan Lingga.
KEGIATAN ini bukan sekadar aksi simbolis, tapi gerakan nyata mahasiswa dan masyarakat dalam melawan abrasi yang semakin mengancam garis pantai.
Pagi itu, angin laut berembus pelan di pesisir Tanjung Buton, Kabupaten Lingga. Deru ombak yang menghantam tepian pantai terdengar bersahutan dengan suara tawa puluhan mahasiswa yang tengah menanam mangrove.
Sepatu mereka penuh lumpur, tangan kotor oleh tanah basah, tapi di wajahnya terselip semangat besar, menyelamatkan pesisir Lingga dari abrasi.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” kata Suci Pratiwi, Ketua BEM se-Kabupaten Lingga, sambil menancapkan satu per satu bibit mangrove ke tanah berlumpur.
Hari itu, sekitar 400 bibit mangrove ditanam di dua titik utama — Tanjung Buton dan Desa Mepar, Kecamatan Lingga. Kegiatan ini bukan sekadar aksi simbolis, tapi gerakan nyata mahasiswa dan masyarakat dalam melawan abrasi yang semakin mengancam garis pantai.
Hutan Mangrove di Lingga Perlahan Menyusut
Penebangan untuk bahan baku arang membuat akar-akar bakau yang seharusnya melindungi daratan kini hilang. Padahal, mangrove adalah benteng terakhir yang menahan gelombang laut dan mencegah pulau tergerus air asin. “Tanpa mangrove, Pulau Lingga bisa tenggelam perlahan,” ujar Suci dengan nada serius.
Sebelum kegiatan dimulai, BEM Lingga bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lingga lebih dulu menggelar sosialisasi pentingnya menjaga hutan mangrove. Mereka ingin memastikan masyarakat paham, bahwa menanam satu pohon hari ini bisa menyelamatkan satu pulau esok hari.
Kegiatan ini tidak dilakukan sendirian. Mahasiswa bekerja bahu membahu bersama TNI, Polri, komunitas lingkungan, dan warga sekitar. Ada yang menggali lubang, ada yang membawa bibit, ada pula yang memotret dan mendokumentasikan momen bersejarah itu.
Bagi mereka, aksi ini bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam harapan — agar anak cucu kelak masih bisa melihat pesisir Lingga yang hijau dan subur.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan,” kata perwakilan DLH Lingga. “Menjaga mangrove sama artinya menjaga masa depan Lingga dari bencana.”
Menjelang siang, air laut mulai pasang. Beberapa mahasiswa tertawa saat kaki mereka terperosok ke lumpur. Meski lelah, tak satu pun mengeluh. Mereka sadar, pekerjaan ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya sekarang, tapi manfaatnya akan dirasakan bertahun-tahun ke depan.
“Menanam mangrove itu seperti investasi masa depan,” ujar seorang mahasiswa sambil mengusap keringat di dahinya. “Pelan-pelan, tapi pasti, akar-akar ini akan menjaga pulau kami.”
Aksi sederhana itu menegaskan satu hal: menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama. Dari tangan anak muda, muncul kepedulian yang tumbuh—sekuat akar mangrove yang mereka tanam hari itu. (***)
Reporter : VATAWARI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO