Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap kapal yang dituduh terlibat dalam penyelundupan narkoba, Minggu (19/10). Dilansir dari channelnewsasia.com, kali ini targetnya adalah kapal yang diduga milik kelompok pemberontak kiri Kolombia, dalam langkah yang dinilai memperluas operasi militer AS di lepas pantai Amerika Selatan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengumumkan serangan tersebut bersamaan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang memutus bantuan keuangan untuk Kolombia. Trump menuduh Presiden Kolombia, Gustavo Petro, membiarkan produksi narkoba tumbuh subur di negaranya. Kebijakan itu sekaligus memperburuk hubungan kedua sekutu lama yang kini mencapai titik terendah dalam beberapa dekade.
Ketegangan Memanas di Amerika Selatan
Sejak Agustus lalu, kapal perang AS telah beroperasi di perairan Karibia dekat Venezuela. Militer AS mengklaim telah menarget sedikitnya enam kapal penyelundup narkoba, menewaskan 27 orang. Namun, para pakar hukum internasional menilai tindakan tersebut melanggar hukum karena dilakukan di perairan internasional tanpa upaya penangkapan atau proses hukum terhadap awak kapal.
Kehadiran armada tempur AS juga memicu kekhawatiran di kawasan, terutama di Venezuela. Banyak pihak menilai operasi ini bisa menjadi langkah awal Washington untuk menggulingkan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, yang dituduh AS memimpin jaringan kartel narkoba.
Dalam serangan terbaru pada Jumat lalu, Hegseth menyebut pasukan AS menarget kapal yang dikaitkan dengan kelompok gerilya Tentara Pembebasan Nasional Kolombia (ELN). Tiga awak kapal dilaporkan tewas. Ia menyebut kapal itu berada di perairan internasional di bawah tanggung jawab Komando Selatan AS, namun tidak menjelaskan lokasi pastinya.
Perseteruan Trump dan Petro
Trump dan Petro belakangan kerap berselisih tajam. Petro, mantan gerilyawan yang kini menjadi presiden, dikenal keras mengkritik kehadiran kapal perang AS di kawasan.
Bahkan, Sabtu lalu, ia menuduh Washington melakukan pembunuhan terhadap nelayan Kolombia yang tewas dalam serangan udara pada September.
Pertukaran tudingan itu membuat hubungan dua negara yang dulunya erat kini retak. Selama ini, Kolombia merupakan penerima bantuan terbesar dari AS di Amerika Selatan, dengan nilai mencapai 740 juta dolar AS pada 2023.
Pada Minggu, Trump kembali menyerang Petro melalui unggahan di platform Truth Social. Ia menuding Petro gagal memberantas produksi kokain meski telah menerima “pembayaran dan subsidi besar dari AS”.
“Mulai hari ini, semua bentuk pembayaran dan subsidi ke Kolombia akan dihentikan,” tulis Trump dalam unggahan yang juga salah mengeja nama negara itu sebagai Columbia. Ia menambahkan, Petro “secara terang-terangan mendorong produksi narkoba dalam skala besar.”
Petro menanggapi dengan sindiran tajam. “Presiden AS telah dibodohi oleh penasihatnya,” tulisnya di platform X. “Saya sarankan dia pelajari Kolombia dengan benar dan lihat siapa yang benar-benar bandar narkoba dan siapa yang demokrat.”
Hubungan Retak dan Ancaman Intervensi
Ketegangan diplomatik antara Washington dan Bogotá semakin menajam sejak bulan lalu. AS telah mencabut status Kolombia sebagai sekutu utama dalam perang melawan narkoba. Sebagai balasan, Kolombia menghentikan pembelian senjata dari AS — mitra militernya yang paling penting.
Ketegangan juga meningkat setelah Washington mencabut visa Petro usai ia menghadiri unjuk rasa pro-Palestina di New York di sela-sela Sidang Umum PBB.
Dalam unggahan terbarunya, Trump bahkan menyinggung kemungkinan intervensi militer di Kolombia. “Petro, pemimpin yang tidak populer dan suka bicara keras terhadap Amerika, sebaiknya segera menutup ladang pembunuhan itu. Jika tidak, Amerika Serikat akan menutupnya untuknya — dan tidak akan dengan cara yang ramah,” tulisnya.
Produksi Kokain Naik 70 Persen
Sejak menjabat pada 2022, Petro mencoba mengubah strategi perang melawan narkoba yang selama ini dikendalikan AS. Ia menggeser pendekatan militer menjadi fokus pada penyelesaian masalah sosial yang mendorong perdagangan narkoba. Namun, kebijakan itu justru berujung pada peningkatan signifikan lahan coca — bahan baku utama kokain — sekitar 70 persen, menurut data pemerintah Kolombia dan PBB.
Kondisi ini membuat hubungan AS–Kolombia semakin tegang dan memperdalam perbedaan pandangan kedua negara dalam upaya memberantas peredaran narkoba di kawasan. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG