Buka konten ini
DENPASAR (BP) – Sepekan ini dunia pendidikan tinggi digegerkan kasus meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa semester VII jurusan Sosiologi di Universitas Udayana (Unud), Bali. Timothy meninggal setelah terjun dari lantai 4 kampus, Rabu (15/10). Hingga kemarin belum diketahui dengan pasti mengapa Timothy melakukan aksi nekat tersebut.
Sabtu lalu (18/10) ayah mendiang Timothy, Lukas Triana, mendatangi Polresta Denpasar. Dia meminta polisi mengusut penyebab kematian anaknya. ’’Saya ingin mencari kebenaran mengenai kronologis kematian Timmy (Timothy, red),’’ katanya.
Lukas berharap polisi bisa menjelaskan secara detail mengenai kronologi peristiwa maut itu. ’’Dari pihak kampus juga belum memberikan jawaban yang jelas. Karena itu saya serahkan kepada polisi,’’ lanjutnya.
Lukas tak mau berspekulasi tentang penyebab kematian anaknya. Dia juga membantah jika kedatangannya ke polisi untuk melaporkan mahasiswa yang mem-bully anaknya.
’’Saya hanya ingin tahu, kenapa anak saya sampai jatuh. Apakah bunuh diri atau kecelakaan. Biar polisi yang menjelaskan nanti,’’ lanjutnya.
Informasi yang beredar di dunia maya, Timothy sering menjadi korban perundungan. Bahkan, setelah dia meninggal pun, beberapa mahasiswa masih mengolok-oloknya dalam percakapan di grup WhatsApp. Tangkapan layar yang berisi perundungan itu kini beredar di media sosial.
Dilansir dari Radar Bali (Grup Batam Pos, salah seorang perundung itu diduga adalah peserta didik (co ass) di RS Ngoerah. Plt Direktur Utama RS Ngoerah dr I Wayan Sudana membenarkan kabar itu. Dia menjelaskan, pelaku perundungan adalah mahasiswa Universitas Udayana yang sedang belajar di RS Ngoerah.
’’Jadi mereka bukan karyawan RS,’’ jelasnya. Pelaku telah dikembalikan ke kampus untuk dilakukan pendalaman dan investigasi.
Belakangan terungkap bahwa para mahasiswa yang mengolok-olok mendiang Timothy adalah para pengurus Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud 2025.
Melalui akun resmi di Instagram, Himapol FISIP Unud 2025 mengunggah pengumuman pemberhentian empat pengurusnya pada Jumat (17/10). Surat pemberhentian tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Himapol FISIP Unud 2025, Pande Made Estu Prajanaya, tertanggal 16 Oktober 2025.
Wakil Rektor Unud bidang Kemahasiswaan Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya membenarkan ada bullying pada korban. Dia menyebutnya dengan istilah nir-empati. Namun, hal itu dilakukan setelah korban meninggal, bukan sebelumnya. Dia juga membantah jika Timothy sering menjadi korban bullying semasa hidup.
’’Yang saya dengar dari pihak keluarga, dia ada masalah kesehatan,’’ katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang masalah kesehatan tersebut.
Dia menerangkan, para mahasiswa yang nir-empati itu sudah diberhentikan dari organisasi. Mengenai sanksi dari universitas, katanya, akan diputuskan setelah proses investigasi dan sidang etik.
Pada bagian lain, Kapolsek Denpasar Barat Kompol Laksmi Trisnadewi mengatakan, pihaknya masih mendalami penyebab kematian Timothy. ”Sampai dengan saat ini kami masih proses lidik,” ujar Laksmi kepada wartawan kemarin (19/10).
Polisi masih menunggu keterangan dari pihak keluarga, terutama ibu kandung korban yang selama ini tinggal bersama almarhum. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Muhammad Nur