Buka konten ini

Diabetes gestasional adalah jenis diabetes yang terjadi selama kehamilan. Diabetes gestasional kerap muncul tanpa disadari di trimester kedua kehamilan. Jika tak terdeteksi dan ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin, mulai dari risiko lahir besar hingga stunting. Dokter pun mengingatkan pentingnya deteksi dini dan pola hidup sehat sejak awal kehamilan.

DOKTER spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr Ani Christinayeo, SpPD, FINASIM, AIFO-K mengatakan bahwa diabetes terbagi menjadi empat, yaitu diabetes tipe 2, diabetes tipe 1, diabetes gestasional (diabetes selama kehamilan), dan prediabetes.
Seseorang bisa dikatakan mengidap diabetes gestasional, jika ibu hamil (bumil) mengalami gangguan gula darah mulai pada minggu ke 24 ke atas. Menurut dr Yeo, sapaannya, untuk mendeteksinya cukup mudah, yaitu melakukan cek gula darah.
“Yang dikenal orang awam cek darah di ujung jari. Biasanya ketika kita jalan-jalan ke mal kita bisa cek, di apotek bisa cek, atau ketika ada pengecekan massal,” katanya.
Dikatakannya, jika gula darah sudah lebih dari 200, maka kita harus curiga apakah ada diabetes gestasional atau memang sudah mengidap diabetes tipe 2 dari sebelum hamil. “Itu harus dibedakan,” jelasnya.
Orang yang berisiko terkena diabetes gestasional adalah mereka yang kelebihan berat badan atau obesitas, di mana di dalam tubuhnya sudah terjadi resistensi insulin. Kemudian, ibu yang pernah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kilogram.
“Kadang orang tua kita yang sudah sepuh-sepuh senang cucunya lebih besar. Enak digendong padahal itu risiko ke ibunya.”

Selanjutnya adalah ibu yang banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang manis. Karena overload dari gula akan memengaruhi metabolisme gula di tubuh.
Ibu-ibu yang dalam terapi untuk kondisi autoimun, minum steroid atau lainnya, juga termasuk kategori yang menjadi faktor preposisi.
“Termasuk faktor yang umum misalnya ibunya memang ada darah tinggi, yang ada masalah kolesterol. Itu adalah faktor risikonya,” sebut Yeo.
Namun demikian, gejala diabetes tipe 2 dan dibates gestasional, menurut Yeo, mirip.
Seperti sering buang air kecil dan haus akan rasa manis.
“Ini adalah gejala orang yang sakit gula. Dan dipersepsikan karena hamil, ngidamnya pengen yang manis-manis. Nah, ini kan jadi tumpang tinggi, nggak bisa nilai pasti. Jadi ini penting sekali untuk dinilai apakah memang gangguan atau hanya bawaan hamil. Jadi, memang yang paling mudah lakukan screening. Screening gula darah sewaktu tadi,” katanya.
dr Yeo menyarankan untuk membuktikannya agar dilakukan lagi tes gula darah puasa. “Kalau gula darah sewaktu lebih 200, kita wajib curiga ya. Diabetes gestasional atau memang prinsip dasar ibu ini sudah diabetes. Selanjutnya kita lakukan pengecekan gula darah puasa. Normalnya gula darah puasa kita variatif di bawah 100. Jadi antara 70 sampai 100. Kalau di antara 100 sampai 125 itu sudah tipe gangguan,” jelas dia.

Ini, lanjutnya, gangguan ini masih susah disimpulkan. Apakah dia prediabetes atau diabetes. Atau diabetes gestasional atau diabetes tipe 2.
“Untuk membuktikan, kita lakukan lagi lanjutannya. Lanjutannya ada dua pemeriksaan. Yaitu 1 tes toleransi glukosa dengan minum 75 gram gula kemudian dicek 2 jam kemudian. Kalau nilainya di atas 200 ya udah pasti (diabetes). Atau yang lebih mudah lagi dengan
pengecekan namanya HbA1c.”
“Nah kalau HbA1c-nya lebih dari 6,5 ini bisa dua. Apakah memang dia lagi diabetes mellitus yang terkontrol atau dia awal dari diabetes gestasional,” sebutnya.
Namun demikian, terapi kepada pasien tersebut prinsipnya sama selama masa kehamilan.
Apakah berbahaya jika sudah terdeteksi diabetes untuk si ibu dan janinnya?
Menurut dr Yeo, bumil tersebut harus mendapat terapi dari dokter. Dia menyarankan konsultasi ke dokter penyakit dalam atau dokter konsultan endokrin. Kenapa? Karena posisi wanita hamil beda dengan posisi diabetes biasa tanpa hamil. Sebab obat-obat pilihannya sangat sedikit. “Hanya insulin,” katanya.
Dan tentang program untuk menu makan, ia tidak menyarankan membatasi yang terlalu stright pada wanita hamil. Pasalnya, wanita hamil membagi gizinya untuk pertumbuhan janin. Jadi, komposisi gizi harus maksimal.
“Tidak bisa istilah, oh ya saya ketahuan nih sakit gula. Saya hamil 30 minggu, saya kurang lah gak mau makan nasi. Gak minum manis juga. Bukan begitu caranya ya. Jadi, porsi makan seperti pada umumnya wanita hamil. Hanya saja proporsi antara karbohidrat, lemak dan protein diatur sebaik mungkin.” ujarnya.
Bagaimana nanti kalau habis makan, gula darahnya naik?
Menurutnya, di sinilah peran insulin. Karena insulin berfungsi untuk mengatur gula ibu hamil ataupun gula pada pasien diabetes menjadi ke nilai normal.
Kalau misalnya pasien tidak mau karena takut disuntik insulin. Takut juga bahayanya ke janin, bagaimana?
Sering pasien merasa begitu. Karena yang namanya wanita hamil selalu apapun nomor satu bayi ya. Nah, insulin sudah sekian lama dari awal diciptakan sampai sekarang, dan penelitian sudah berulang-ulang aman 100 persen untuk ibu hamil.
Bahkan dengan insulin justru menjaga anak bayi kita. Kehamilannya. Jadi, kehamilannya bisa berjalan dengan aman dan normal. Sebab kita tahu kalau gula darah yang tidak terkontrol, misalnya ibu hamil yang diabetes gestasional ini.
Karena dalam arti kata kurang pengetahuannya tentang diabetes atau saking takutnya tidak mau mendapat pengobatan. Hanya menjaga porsi makan sendiri. Dan ternyata gula darahnya tidak terkontrol.
Nah, itu bukan berarti gulanya itu masuk ke anaknya. Tidak. Justru metabolismenya itu nanti jadi metabolisme negatif. Jadi katabolisme. Katabolisme ya ibunya makin kurus.
Pertumbuhan janinnya juga tidak sehat di dalamnya. Jadi resiko apa? Resiko berat badan lahir bayinya rendah,” bebernya.
Risiko lainnya, kata Yeo, anak bisa stunting, gampang jadi infeksi. “Kepintaran anaknya mungkin berkurang. Jadi ini resiko-resiko yang harus kita cegat,” ujarnya.
Yeo menambahkan, di sisi lain juga tidak boleh overproteksi. Misalnya, sampai tidak konsumsi gula dan tidak suntik insulin, yang tujuannya kontrol gula serendah mungkin.
“Kalau over-rendah juga tidak baik. Jadi, harus tahu kondisi gula kita itu harus status normal. Cukup untuk aman buat kita sendiri. Dan buat wanita yang lagi hamil janin. Karena kalau terlalu rendah, berarti anak bayi yang di dalam kandungannya akan kurang gula. Kurang gula, kurang nutrisi juga. Perkembangannya terganggu. Depan kena, mundur kena. Harus di tengah-tengah yang betul,” jelasnya.
Bumil yang divonis diabetes gestasional, Apakah persalinannya normal atau caesar?
Yeo mengatakan, antara lahir normal dan caesar akan dinilai oleh dokter obgyn. Karena yang dinilai adalah masalah pinggul dan besarnya bayi. Jika pinggul dan besarnya bayi normal, letak bayinya posisinya baik, tidak ada risiko darah tinggi dan lainnya, maka bisa lahir normal.
“Tapi kalau misalnya letak bayinya susah. Kemudian berat bayinya besar atau pinggul ibu ini kecil, sempit. Ya mungkin akan dilakukan operasi caesar. Jadi nanti penilaian di mendekati masa partusnya.” jelasnya.
Bumil yang kena diabetes gestasional bisa kembali normal setelah lahiran. Namun, kata Yeo, tergantung diri kita dalam mengaturnya. Karena ini butuh waktu 6 bulan setelah pascalahiran untuk penilaian.
Jika 6 bulan pascalahiran bisa mengatur dengan baik. Seperti porsi makan yang baik untuk tetap bisa menyusui supaya sang bayi sehat bahkan sekarang ASI eksklusif 8 bulan. Ia menyarankan wajib menyusui, insulin tetap, asupan gizinya juga cukup.
“Nah dalam waktu yang 6 bulan ini kita tetap cek. Gula darah sewaktunya. Gula darah puasa dan HbA1c. Kalau nanti sudah mulai terkontrol. Selepas menyusui misalnya, sudah lewat dari 8 bulan. Mulai kita dengan hanya pengaturan makan saja. Kita nilai. Kalau dengan pengaturan makan ternyata HbA1c-nya bisa terkontrol. Oke ibu ini bisa kembali normal,” beber Yeo.
Yeo memberi tips bagi kaum ibu supaya terhindar dari diabetes gestasional, yakni dengan menghindari karbohidrat yang mudah dicerna seperti es krim, donat, atau es manis. Ia menyarankan mengonsumsi buah yang berserat tinggi, sayuran, dan beras yang tidak terlalu banyak proses kimia.
“Jadi, menghindari gula yang mudah dicerna,” ungkapnya.
dr Yeo mengatakan, pola hidup sangat berperan besar untuk terkena diabetes. Sekalipun orangtua kita salah satu atau keduanya diabetes, tapi kalau pola hidup kita yang baik, kita bisa normal.
Di sisi lain, misalnya kedua orangtua kita normal, tapi pola hidup kita jelek, kemungkinan akan terkena “si manis yang tidak disukai” ini.
Ia mencontohkan pola hidup milenial di zaman sekarang yang hampir semuanya serba komputer, serba dikerjakan lewat smartphone. Mau pesan makanan, langsung sampai di rumah. Habis makan masih duduk di situ. Masih main dan nonton.
Nah, menurut Yeo, pola hidup itulah yang memicu diabetes. Karena apa? Tubuh kita tidak ada aktivitas. Tidak ada aktivitas berarti gula yang kita konsumsi semuanya disimpan yang lama kelamaan tubuh kita resistensi. Resistensi jadi diabetes.
“Diabetes itu pola hidup semua ya. Betul. Jadi 90 persen itu pola hidup, 10 persen dari genetik,” ucapnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : gustia benny