Buka konten ini
BATAM (BP) – Sepanjang tahun 2025, serangkaian kecelakaan kerja kembali mencoreng wajah industri Batam. Dalam catatan Batam Pos, empat bulan terakhir sedikitnya puluhan pekerja tewas akibat berbagai insiden di kawasan industri — mulai dari proyek bangunan, manufaktur, hingga galangan kapal. Tragedi terbaru di PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, menjadi alarm keras bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih menjadi titik lemah di sektor industri terbesar di Batam.
Peristiwa paling baru terjadi Rabu (15/10) dini hari, ketika kapal tanker Federal II kembali terbakar hebat di area pengerjaan PT ASL Marine Shipyard. Ledakan besar di dalam tangki kapal menewaskan sedikitnya 10 pekerja dan melukai belasan lainnya. Hingga kini, Polresta Barelang bersama Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran maut tersebut.
Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin mengungkapkan, sembilan saksi dari pihak subkontraktor dan perusahaan utama telah diperiksa. “Kami juga telah berkoordinasi dengan Labfor Mabes Polri untuk jadwal olah TKP. Lokasi masih kami police line sampai penyelidikan selesai,” ujarnya. Polisi menegaskan, tidak ada aktivitas di kapal sebelum investigasi tuntas dilakukan.
Tragedi Federal II bukan yang pertama di lokasi tersebut. Pada 24 Juni 2025, kapal tanker yang sama juga terbakar di galangan PT ASL Marine Shipyard. Insiden itu menewaskan lima pekerja dan melukai empat lainnya. Dua peristiwa beruntun ini membuat PT ASL Shipyard menjadi sorotan utama dalam isu keselamatan kerja industri perkapalan di Batam. Proses hukum terkait insiden pertama masih bergulir hingga kini.
Namun, rentetan kecelakaan kerja di Batam telah dimulai jauh sebelum itu. Pada 16 Juni 2025, seorang karyawan vendor PT BBJMU berinisial J (27) tewas setelah terjatuh saat memperbaiki kontainer di kawasan PT Batamindo Service Sinindo (BSS), Mukakuning, Sei Beduk.
Hanya berselang sehari, 17 Juni, buruh bangunan H (52) juga meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai tujuh bangunan ruko di Palm Spring, Batam Center.
Bulan berikutnya, pada 5 Agustus 2025, pekerja operator forklift SST (31) meninggal tertimpa plat besi di PT Sumber Samudra Makmur, Batuampar. Dua hari kemudian, 7 Agustus, insiden tragis kembali terjadi di PT Sumber Marine Shipyard, Tanjunguncang.
Seorang pekerja muda, M. Raudhul Ma’ari (21), ditemukan tewas di dalam tangki kapal dengan mesin gerinda masih menyala di atas tubuhnya. Ia diduga tersengat listrik saat bekerja.
Rangkaian kecelakaan kembali berlanjut di PT Lestari Ocean Indonesia (LOI), Sagulung, pada Senin (18/8). Seorang supervisor berpengalaman, Ignasius Igo (43), ditemukan tewas setelah hilang saat menyelam untuk mengecek balon ganjalan kapal tongkang di bawah lambung kapal. Upaya pencarian sempat berlangsung beberapa jam sebelum jasadnya ditemukan tak bernyawa.
Rangkaian insiden berdarah ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan pekerja dan serikat buruh. Mereka menilai lemahnya pengawasan dan pelaksanaan standar K3 menjadi faktor utama banyaknya korban. Sebagian besar kecelakaan terjadi di kawasan padat industri yang melibatkan pekerja subkontraktor dengan sistem kerja ketat dan minim perlindungan.
Pemerintah Kota Batam dan BP Batam pun diminta turun tangan meninjau ulang prosedur keselamatan di setiap kawasan industri. Tragedi demi tragedi yang menelan korban jiwa ini dinilai tidak lagi bisa dianggap sebagai “kelalaian individu,” melainkan persoalan sistemik yang menuntut pembenahan menyeluruh di sektor industri Batam.
Polisi Sudah Periksa Sembilan Saksi
Penyelidikan terhadap tragedi ledakan kapal Federal II di galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, terus berlanjut. Hingga Kamis (16/10), Polresta Barelang telah memeriksa sembilan saksi dan berkoordinasi dengan Labfor Mabes Polri untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dalam waktu dekat.
Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin mengatakan, para saksi berasal dari unsur subkontraktor, kontraktor utama, dan karyawan lapangan yang berada di lokasi saat kejadian. “Semalam kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam saksi.
Rencananya akan ada tambahan saksi yang dipanggil untuk memperkuat hasil penyelidikan,” ujarnya, Kamis (16/10) siang.
Ia menegaskan, koordinasi dengan tim Labfor Mabes Polri telah dilakukan untuk menjadwalkan olah TKP di kapal Federal II.
“Kami pastikan di kapal tidak ada aktivitas. Area masih kami police line dan akan tetap dijaga sampai proses olah TKP selesai,” ujarnya.
Menurut Zaenal, pengawasan di lokasi dilakukan secara ketat oleh aparat Polsek Batuaji dan Polresta Barelang untuk menghindari gangguan atau perubahan di tempat kejadian.
Zaenal menambahkan, pencabutan garis polisi di lokasi kejadian baru bisa dilakukan setelah tim Labfor menyelesaikan seluruh proses penyelidikan forensik. “Selama tim Labfor bekerja, area akan tetap tertutup. Setelah penyelidikan selesai dan hasilnya keluar, baru bisa dipertimbangkan pencabutan police line,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah keluarga korban diketahui telah mendatangi Mapolresta Barelang untuk melaporkan secara resmi insiden tersebut. Kapolresta menyatakan, langkah itu sah dan tidak mengganggu proses penyelidikan yang sedang berjalan. “Laporan dari keluarga korban akan kami terima. Namun, penyelidikan tetap berjalan karena kejadian ini sudah menjadi atensi kami,” tegasnya.
Polresta Barelang menegaskan akan menuntaskan penyelidikan hingga tuntas, termasuk memastikan apakah ledakan yang menewaskan dan melukai banyak pekerja di kapal Federal II disebabkan oleh human error, kelalaian, atau faktor teknis dari peralatan kerja.
“Kami akan pastikan penyebabnya terungkap dan hasil penyelidikan nanti disampaikan secara terbuka,” kata Kapolresta. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RYAN AGUNG