Buka konten ini
ISAK tangis dan teriakan histeris pecah di halaman RS Mutiara Aini, Rabu (15/10) siang. Satu per satu keluarga korban berlarian menuju ruang instalasi gawat darurat (IGD), menanti kabar sanak saudara mereka yang menjadi korban ledakan kapal tanker Federal II milik PT ASL Shipyard.
“Saya adik salah satu korban. Tadi dapat kabar pukul 10 pagi kalau abang saya jadi korban,” ujar Yogi dengan wajah pucat dan mata sembap menahan cemas.
Ia mengaku kakaknya masih menjalani perawatan di IGD dengan luka bakar cukup parah. “Alhamdulillah, kondisinya sudah mulai membaik. Tadi langsung ditangani dokter,” katanya pelan, mencoba menenangkan diri.
Namun tidak semua keluarga seberuntung Yogi. Di salah satu sudut rumah sakit, seorang ibu tampak tak kuasa menahan tangis setelah mendapat kabar suaminya termasuk korban kebakaran kapal tersebut. Tubuhnya yang lemas beberapa kali dipapah oleh keluarga.
Tangisnya pecah setiap kali mendengar deru mobil ambulans yang datang membawa korban baru.
Di tengah suasana haru itu, seorang pekerja yang selamat dari maut mencoba mengingat kembali detik-detik mengerikan saat ledakan terjadi. “Aku pas di atas scaffolding, paling atas. Waktu mau kasih nozzle baru, kawan aku bilang, ‘tunggu dulu, kok panas ini dari bawah.’ Tiba-tiba terasa panas, terus meledak dari bawah kami,” ceritanya gemetar.
“Aku langsung lompat, naik pakai tangga, lari menghindari api. Api besar sekali di dalam tangki. Di dalam banyak pekerja, tapi lebih banyak yang selamat,” ujarnya dengan mata menerawang, masih syok dengan kejadian yang baru saja menelan rekan-rekannya.
Ia menuturkan, blower a-ngin di dalam kapal tiba-tiba mati, membuat asap dan panas terjebak di tangki berisi minyak mentah. Saat itulah, aktivitas pemotongan logam yang menggunakan alat pemicu api berubah menjadi ledakan besar.
“Banyak kawan aku yang masih di dalam,” katanya lirih, suaranya tercekat.
Ledakan hebat itu menelan sepuluh korban jiwa dan melukai delapan belas pekerja lainnya. Empat di antaranya mengalami luka bakar berat dan dirawat intensif di RS Mutiara Aini, Batuaji. Korban lainnya masih menjalani perawatan di dua rumah sakit lain di Batam.
Hingga sore hari, deru sirene ambulans dan tangis keluarga masih terdengar di halaman rumah sakit — menjadi saksi bisu tragedi mematikan yang mengguncang galangan kapal Batam.
PT ASL Shipyard Masih Beraktivitas
Suasana duka masih menyelimuti kawasan galangan kapal PT ASL Shipyard di Tanjunguncang, Batuaji, Rabu (15/10), usai tragedi ledakan kapal Federal II yang menewaskan sepuluh pekerja. Namun di tengah kepulan asap sisa kebakaran dan garis polisi yang masih membentang, aktivitas di sejumlah proyek kapal lain tampak tetap berjalan.
Seluruh jenazah korban meninggal telah dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Kapolsek Batuaji AKP Raden Bimo Dwi Lambang membenarkan proses identifikasi dan pemeriksaan forensik masih berlangsung.
“Semua korban meninggal sudah kami bawa ke RS Bhayangkara. Tim forensik tengah bekerja untuk memastikan identitas dan penyebab pasti kematian,” ujarnya.
Di lokasi kejadian, tim gabungan dari Polsek Batuaji dan Satreskrim Polresta Barelang masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Area sekitar kapal Federal II ditutup total untuk mencegah masuknya pihak yang tidak berkepentingan.
“Petugas masih melakukan penyelidikan. Area kami amankan penuh sampai penyebab pasti ledakan diketahui,” tegas AKP Bimo.
Pantauan di lapangan menunjukkan, petugas kepolisian masih berjaga di sekitar kapal yang hangus terbakar. Garis polisi tampak melingkari area utama, sementara sejumlah pekerja hanya menonton dari kejauhan, menunggu arahan lanjutan dari manajemen perusahaan. Di sisi lain, aktivitas proyek lain di galangan tetap berjalan dengan pengawasan ketat.
“Yang lain tetap kerja, cuma kapal Federal II yang berhenti total,” kata Amri, salah seorang pekerja di PT ASL Shipyard. Ia mengaku suasana sempat panik sesaat setelah ledakan subuh tadi, namun pihak perusahaan meminta sebagian pekerja tetap melanjutkan pekerjaan di area yang dinyatakan aman.
Kapolda Kepulauan Riau Irjen Asep Safrudin bersama Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin turun langsung ke lokasi untuk memastikan proses olah TKP berjalan aman.
“Petugas masih bekerja di area kapal Federal II. Aktivitas pekerja lain kami perbolehkan terbatas dengan pengawasan ketat,” jelas Irjen Asep.
Ia menambahkan, penyelidikan fokus pada tangki bawah kapal yang diduga menjadi sumber ledakan. Pemeriksaan terhadap sisa bahan minyak dan sistem keamanan kerja di kapal akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
“Keselamatan pekerja adalah prioritas utama. Kami tidak ingin ada korban tambahan,” tegasnya.
Ledakan yang terjadi sekitar pukul 04.00 WIB itu menimbulkan suara dentuman keras yang terdengar hingga luar area galangan. Api dengan cepat membesar karena sisa bahan minyak di tangki, menyebabkan sejumlah pekerja tidak sempat menyelamatkan diri.
Meski aktivitas galangan perlahan kembali berjalan, suasana duka masih terasa. Beberapa rekan korban tampak menunduk haru, mengenang teman-teman mereka yang tewas dalam tugas.
“Kami berharap ada perhatian lebih dari perusahaan soal keselamatan kerja. Ini bukan kejadian pertama,” ujar seorang pekerja yang enggan disebut namanya.
Kasus Ledakan Pertama Belum Tuntas
Ironisnya, insiden ini terjadi hanya berselang empat bulan setelah ledakan pertama di kapal yang sama, Juni lalu, yang juga menewaskan empat pekerja subkontraktor akibat terkena semburan api dan ledakan di bagian lambung kapal.
Dalam kasus ledakan pertama pada Juni lalu, penyelidikan telah menetapkan dua tersangka berinisial A dan F yang merupakan penanggung jawab Health, Safety, and Environment (HSE) perusahaan. Keduanya dianggap lalai hingga menyebabkan kebakaran dan menewaskan empat pekerja. Namun hingga kini, proses hukum terhadap keduanya belum juga disidangkan.
Kasi Intel Kejari Batam, Priandi Firdaus, menjelaskan bahwa berkas perkara masih diteliti oleh jaksa setelah sempat dikembalikan. “Pelimpahan berkas dilakukan tanggal 19 September, kemudian dikembalikan pada 10 Oktober kemarin. Sekarang masih diteliti oleh jaksa. Untuk kedua tersangka, sudah diajukan perpanjangan penahanan oleh kepolisian,” jelas Priandi.
Sementara itu, Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin membenarkan bahwa masa penahanan kedua tersangka kini ditangguhkan. “Benar, berkas dikembalikan. Karena masa penahanan hampir habis, maka kami tangguhkan sementara. Namun proses hukum tetap berlanjut,” ujarnya.
Setelah insiden pertama, MT Federal II sempat dinyatakan sebagai barang bukti (TKP) dan seluruh kegiatan perbaikan dihentikan. Namun belakangan, pengerjaan kapal kembali dilakukan oleh pihak perusahaan setelah kepolisian menyelesaikan olah TKP dan penyelidikan.
Kombes Zaenal menegaskan bahwa pembukaan kembali akses kapal dilakukan karena status quo telah dicabut. “Terkait kapal, sebelumnya diminta untuk dihentikan selama penyelidikan. Setelah olah TKP selesai, statusnya tidak lagi status quo,” jelasnya.
Hingga Rabu (15/10) sore, tim gabungan dari Polda Kepri, Polresta Barelang, dan instansi terkait masih melakukan evakuasi dan penyelidikan di lokasi kejadian. Polisi belum dapat memberikan kesimpulan mengenai penyebab pasti ledakan kedua ini.
Rentetan Tragedi Kerja Guncang Batam
Belum hilang dari ingatan peristiwa meninggalnya Reza Ramadhan, seorang karyawan PT Caterpillar Indonesia Batam, kini kota industri itu kembali diguncang oleh tragedi besar berupa ledakan kapal tanker Federal II di galangan PT ASL Shipyard Tanjunguncang, Rabu (15/10) dini hari.
Dua peristiwa ini menambah panjang daftar kecelakaan kerja yang menelan korban jiwa di Batam dalam kurun waktu singkat. Ironisnya, kapal yang sama sebelumnya juga mengalami insiden serupa pada Juni 2025 yang menewaskan empat orang pekerja.
Kapolda Kepulauan Riau, Irjen Asep Safrudin, menegaskan pihaknya akan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap manajemen galangan kapal. “Ini bukan kejadian pertama. Artinya ada yang tidak beres dalam penga-wasan dan standar keselamatan,” tegasnya di Batam.
Menurut Kapolda, fokus penyelidikan tidak hanya pada penyebab teknis ledakan, tetapi juga menyasar tanggung jawab sistemik manajemen perusahaan dalam menjamin keselamatan pekerja di lingkungan berisiko tinggi seperti galangan kapal.
Di sisi lain, serikat pekerja menilai dua peristiwa besar ini menggambarkan lemahnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di kawasan industri Batam. Banyak pekerja di lapangan mengaku pelatihan keselamatan masih minim, alat pelindung sering tidak memadai, sementara beban target produksi terus meningkat. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra – Eusebius Sara – Azis Maulana
Editor : RYAN AGUNG