Buka konten ini

Rektor ITS
SEBUAH rekor Muri (Museum Rekor Dunia-Indonesia) diberikan untuk 1.600 Kelompok Usaha Siswa (KUS) dengan perputaran ekonomi yang diproyeksikan mencapai miliaran rupiah pada 2025, dari tangan para siswa SMA. Itu merupakan buah dari sebuah perjalanan dan ikhtiar kolektif bernama Program SMA Double Track.
Sebagai institusi yang terlibat sejak awal, ITS memandang pencapaian itu sebagai momen untuk refleksi. Bagaimana perjalanan program, memahami aspek akademis di baliknya, dan merumuskan arahnya ke depan.
Ikhtiar Kolektif
Hal itu berawal dari sebuah keprihatinan besar di Jawa Timur. Sekitar 67 persen lulusan SMA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka adalah potensi besar yang berisiko menjadi penganggur karena tidak memiliki bekal keterampilan spesifik. Menjawab tantangan tersebut, pada tahun ajaran 2018/2019, sebuah terobosan pendidikan digulirkan. Tujuannya sederhana, yakni memberikan kompetensi ganda (akademik dan vokasional) kepada siswa SMA.
Perjalanan tersebut dimulai dengan 86 sekolah dan terus tumbuh berkelanjutan. Kini, program itu telah merangkul 144 sekolah di 28 kabupaten/kota. Jumlah siswa yang terlibat mencapai puluhan ribu, didukung jaringan mitra industri yang terus meluas hingga lebih dari 1.300 dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Puncaknya adalah pengakuan Muri atas lahirnya 1.600 KUS pada perhelatan Millennial Entrepreneur Award (MEA) 2025 yang menegaskan bahwa program itu telah berhasil menumbuhkan ekosistem wirausaha di level pendidikan menengah.
Sinergi Helix
Keberhasilan SMA Double Track bukanlah hasil kerja satu pihak, melainkan kerja sama yang berlandasan pada teori modern. Program itu merupakan implementasi nyata dari teori modal manusia (human capital theory). Teori tersebut memandang pendidikan dan pelatihan sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas dan potensi ekonomi individu.
Investasi itu diwujudkan melalui model inovasi Quadruple Helix, di mana empat pilar utama bersinergi. Pertama, akademisi. ITS berperan sebagai motor penggerak pengetahuan. ITS merancang kurikulum, memberikan training of trainers kepada guru, serta menjadi penjamin mutu melalui monitoring dan evaluasi.
Kedua, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bertindak sebagai fasilitator dan enabler utama. Melalui dinas pendidikan, pemerintah mengidentifikasi sekolah dan menyediakan pendanaan utama yang menjadi keberlanjutan program.
Ketiga, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang bertindak sebagai jembatan ke dunia nyata. DUDI menjadi validator yang memastikan kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan pasar melalui magang, sertifikasi, dan penyerapan lulusan. Keempat, masyarakat/komunitas (civil society) yang terdiri atas siswa, sekolah, dan orang tua yang menjadi pelaku penting. Empat pilar tersebut menyatu dalam sebuah ekosistem yang saling menguatkan, menjadi resep keberhasilan program dalam meningkatkan modal manusia generasi muda Jawa Timur.
Era AI
Di tengah kesuksesan, kita tidak boleh berpuas diri. Hadirnya era artificial intelligence/akal imitasi (AI) bukan lagi tantangan masa depan, melainkan realitas hari ini. Untuk memastikan SMA Double Track terus melahirkan pencipta kerja yang relevan, kita perlu melakukan terobosan.
Terdapat tiga tantangan utama. Pertama, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mengajarkan keterampilan teknis, melainkan bagaimana memadukannya dengan kemampuan mengelola teknologi AI. Keterampilan yang mudah diotomatisasi akan tergerus.
Kedua, semangat wirausaha siswa perlu ditingkatkan dari sekadar membentuk KUS menjadi membangun rintisan usaha (startup) yang mampu memanfaatkan AI untuk skalabilitas dan daya saing. Ketiga, guru sebagai pelatih tunggal tidak akan cukup. Siswa membutuhkan akses ke mentor dari berbagai bidang: praktisi industri, pakar AI, hingga ahli pemasaran digital.
Karena itu, program SMA Double Track hendaknya dapat mengembangkan tiga hal berikut. Pertama, mengintegrasikan modul pemanfaatan generative AI ke dalam semua bidang keterampilan. Contohnya, siswa tata busana belajar menggunakan AI untuk desain pola, siswa desain grafis memanfaatkan AI untuk riset visual, dan siswa tata boga menggunakan AI untuk analisis tren pasar kuliner.
Kedua, perlunya pengembangkan pusat layanan usaha dan kerja (DT-PLUSK) menjadi program akselerator kompetitif pasca kelulusan. Sebanyak 50 KUS terbaik setiap tahun nanti mendapatkan pendanaan awal (seed funding), inkubasi intensif, dan bimbingan langsung untuk menjadi PT atau CV. Ketiga, pengembangan portal www.smadt.id menjadi platform inkubator virtual yang dilengkapi tool AI untuk pengembangan KUS.
Perjalanan tujuh tahun (2018–2025) SMA Double Track telah membuktikan bahwa kita mampu mengubah tantangan pengangguran menjadi peluang kemandirian ekonomi. Era AI menuntut kita untuk tidak lagi hanya mencetak wirausaha, tetapi mencetak technopreneur. Para pencipta kerja yang mampu berkolaborasi dengan teknologi.
Dengan mengadaptasi kurikulum, membangun ekosistem inkubasi yang lebih serius, dan merangkul AI sebagai mitra, SMA Double Track tidak hanya akan menjadi warisan pendidikan Jawa Timur. Ia akan mampu melahirkan generasi pencipta kerja baru di tengah era AI. (*)